Header Ads

Puisi | Talak Dengan Hujan| Durian Di Bawah Jemuran| Karya Umar Fauzi Ballah



Talak Dengan Hujan

-yang tidak mengharapkan aku dating sendirianpun
Yang memintaku tidak hadir rombongan-

Sore di bulan April masih kerap basah
Membuatku mempunyai sejuta alas an dan minta maaf
Barangkali d luar itu, aku adalah pemalas
Ruas jalan menuju rumahmu selalu tergenang
Angan dan dingin, aku ajak serta
Tapi kau tidak melihatnya
Bahkan seperti tidak ada aku di sana
Penglihatanmu adalah mata kaum pendo’a
Menunduk atau memilih mendongak
Sedangkan aku, pelamun yang tidak memahami cara
Kau bertutur
Tentang cita-cita palsu yang dibasahi hujan
Kertas telah kuyup, surat cinta jadi percuma
Dan memang tidak ada bahasa yang sempurna
Kecuali kau akali dengan bantaj bertanya
Atau pura-pura tidak paham


-alasan jadi selebat hujan
Maaf jadi sehebat kilat-

Aku mengira kau  menerima semua tanpa persoalan
Seperti kerap kukunjungi rumah ibadahmu dalam
Kesunyian
Tetapi ini adalah cinta yang dating tiba-tiba
Seperti hujan dan banjir yang tidak bisa kau terima
Kau seperti mena’arufkan aku dengan kubangan
Meletahkan segenap kesunyianku
Dan aku tersudut pada sisa-sisa pertemuan itu
Pertemuan yang tak pernah kupahami kehadiranku seutuhnya
Kelam dan malam, hujan reda
Hanya ada alasan untuk meninggalkan kau sendirian disana

Sampang, 2010

Durian Di Bawah Jemuran

Siapa yang mengajari ibu menaruh durian di bawah
Jemuran? Jemuran kecil yang berada di kamar ini. Yang
Semuanya telah berumpuk mengharukan: dua meja, dua
Lemari,dua kursi, dua guling, dua bantal, dua kompor, dan
Taburan buku di ranjang, mirip taburan bunga kuburan,
Aroma kini jadi silih-berganti, apakah tubuhku yang susut
Karena semua itu? Juga dinding yang mudah keropos ini?
Karena sesak nafas sesekali ada angina yang tercipta dari
Kipas angina, ini bukan kuburan bukan?

Pernah juga aku berfikir, mungkin jemuran memang telah
Menjatuhkan durian itu, sebab matahari acapkali berubah
Bentuk, memusingkan musim yan telah baku dipercaya
Turun-temurun, dan seperti matahari , durian itu
Menyengatku, membekapku yang sendirian dan melalui
Pakain-pakainku ia menghujani keringatku bermacam-macam
Keharuman, kecuali kemenyan yang menerangi
Malam juma’at saja. Ibu menyukai itu semua. Biar neraka
Tampak begitu indah dipandang dari syurga, aduh, siapa,
Yang memberitahu ibu, durian adalah buah yang harus
dijatuhkan  dari jemuran!

Sampang, 2010

Puisi ini diketik ulang oleh Haryono Nur Kholis dari Antologi Puisi Dzikir Pengantin Taman Sare (Bawah Pohon Publishing, 2010).
Powered by Blogger.