Header Ads

Puisi Shohifur Ridho Ilahi : marung | karena aku alif, maka aku rimbunkan harakat puisiku | kupinjam tubuhmu yang telah jadi puisi | hikayat tanduk majang. #1




marung

dua gelas teh hangat kita pesan di gelap yang berdebu. satu buat kita dan satunya lagi buat malam yang kandas di ujung daun pisang. agar semuanya tahu bahwa kita tidak sedang berdua: ada tetes air cucian piring selain gerimis runtuh dari ujung sabit alismu. ada tikar bergambar kubah selain lukisan laut yang sepi di dadaku. ada tas lusuh yang menyimpan puisi dalam jantungmu yang hijau dan ada sepasang kekasih yang berusaha mencipta bintang-bintang dari jemarinya. menunjuk-nunjuk sesuatu yang sebenarnya telah hilang dan tenggelam

ini malam meluluri tubuhku dengan bau harum parfummu antara dingin dan hangat tubuhku yang mengakar. ke tikungan gang-gang sempit kuberangkatkan sajakku sebelum lonceng berdentang menandakan keberangkatan subuh esok pagi. sebelum semilir angin merayap di ubun-ubun dan pecah di gelas bekas bibirmu


aku lupa menabur bunga-bunga dari lubuk paling sepi untuk kematianku yang pertama. bahkan nasi goreng kau biarkan basi pada piring bergambar kapal yang karam

selanjutnya kita hanya melepas gelap pada gerobak yang terang oleh lilin dan denting gitar pengamen

fkmsb, 2011

karena aku alif, maka aku rimbunkan harakat puisiku
mari mengaji diri di pinggir kali, sayangku

karena aku alif, maka aku rimbunkan harakat puisiku. di surau bambu kami lepas ayat-ayat ke langit biru, tempat gemintang bertahta dengan kerlip mata bidadari

aku pernah berjanji pada tiang-tiang perahu bahwa kelak akan ada bendera berkibar di pucuk alif yang aku sulam sendiri dari beberapa ayat puisiku

aku belum genap jadi batu tanpa harakat  dan air yang membawa wajahku ke muara juga belum lunas menjadi laut

karena aku alif, maka aku tak jadi menusukmu atau menyalibmu di pucuk paling tajam. sebab matahari bukan isyarat duka, sebab bulan bukan anggur sederhana dan kita bukan hanya lafadz dalam sujud yang biasa

fkmsb, 2011

kupinjam tubuhmu yang telah jadi puisi

hitunglah berapa daun yang tak jadi gugur hari ini. dan tanyakan pada reranting kemana perginya angin. sebab tangan-tangan kami telah kaku dan tak mampu lagi meski satu huruf  harus segera ditulis di jantungmu

bila semuanya telah tiada. tubuhmu tetap jadi puisi, sri

hari ini memang tak ada kapal yang sauh. Akan kami buat satu laut lagi tanpa gemuruh dan dari pantainya kau bisa berlabuh hingga karang kau pahat jadi tasbih

naiklah. tiup terompet keberangkatamu, sri. tabuh genderang meski dengan hati berkeping

kami tak pernah mengerti dengan kalimat-kalimatmu. atau memang puisi adalah bekas bibir perempuan yang tanggal di kerah bajuku. dan dirimu adalah kopi pahit yang tumpah tiba-tiba pada malam minggu yang rajam

sri, bila semuanya telah tiada. bolehkah kupinjam tubuhmu yang telah jadi puisi

fkmsb, 2011

hikayat tanduk majang

layar perahu mendekat. sebentar, angin
memainkan lagu-lagu laut yang tiba-tiba menjadi
rumah bagi kami. matahari merajam kulit. perahu bergoyang mengamini irama gelombang

ayah tegak di haluan. kepalan tangannya
menusuk langit dan tenggelam pada awan yang
beriak ombak. lihatlah ibu, ayah telah kembali membawa ikan-ikan bersirip daun mawar

kemudian ayah melempar sauh. seperti menjala
angin yang keruh di tepian dada

perahu sepi kembali. di rumah, ibu merebus
malam dengan senyum paling purnama

aku berlari ke tepi pantai dengan kaki telanjang untuk memandangi malam yang beranjak ke tengah laut

dan aku menyusulnya

fkmsb, 2011

Catatan si Tukang Arsip: puisi-puisi ini, diambil dari Manuskrip puisi di perpustakaan Divisi Sastra Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Powered by Blogger.