Header Ads

Puisi M. Toyu Aradana | Arus Darah | Istana Kecil | Orang Madura.



Arus Darah

nyungkem dalam mingkem
senyum malam
            terbenam di ufuk bubungan
            sacral nada berthawaf:
            lintasan fatamorgana fana
            denyut kelamin lelap
            pada khilaf kenangan.
Lelang cermin memintal bantal
Tempat melabuh subuh

Fajar rindu pada redup
Siang tangpa kerudung air senja
            Tinja lahir atas nama cinta
Lahir tepat musim kecambah
Harum dalam dada-dada; retak

Arus darah tiba-tiba diam di ujung hening
Merenung kenangan-kenangan debu
Yang berbatu dari rahim
Kenang:
            Nang ning nung
                                    Nang
                                    Gung
Irama dalam ombak beku
Sebeku hari lugu tak bertugu



Istana Kecil

Gemilau pernik emas berdesakan di dalamnya
Mencucuk dada
Lemarinya adalah hutan rokem dan nyalateng
            Sarapan penghuninya
            Pagi: semangkuk bakso duka oaring-oarang jelata
            Siang: sepiring daging tikus dan daging-daging pengamen
            Sore atau malam: sate kerusuhan dan anak tak sekolah
Minumnya:
Susu air mata, comberan pendidikan dan kencing PSK
Snacknya:
Coklat aspal, kacang-kacang kerikil

Orang Madura

Kemana ia akan melangkah
 Di carilah lubang hidung mana yang bernafas lebih lega,
Kaki kanan menghentak bumi tiga kali
Tanpa lipatan,
Tanpa selingkuh Tuhan
Tanpa gentar tantang getir harapan
Melangkah santai dengan mata tipis
Tanpa bellis,
Namun belas
Tanpa aroma sekam
Namun nyalama
Orang Madura;
Ia melangkah, menyisir belantara,
Gemuruh rantau berombak dalam dada
Beranak-pinak
Dengan garamnya; penyedap tingkah, pemanis bahasa dan
Takkan sedap di mata dunia
Orang Madura
Kemana ia melangkah terselip bekalnya
Madu dan darah

2010

Catatan si Tukang Arsip: puisi-puisi ini, diambil dari Manuskrip puisi di perpustakaan Divisi Sastra Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Powered by Blogger.