Header Ads

Puisi |Lelaki Pasir| karya Mahendra



Lelaki Pasir

Di pantai lelaki-lelaki menyelam dalam pasir, seperti mencari
kamar mandi, wastafel, sabun, juga bat up penuh rumput.
Istri-istri menunggu dengan perut yang lapar, berharap
menjadi cacing mengenali denyut tanah sebagai ibu,
mimpi-mimpi yang di tancapkan sebagai mata pancing.

Sampai gelombang air ganas menyampunya.  Mengembalikan
setiap cerita pada kata. Puisi yang tumbuh dari
godaan-godaan kerang dan kepiting. Sampai pasir diangkuti
orang-orang ke kota. Pasir menyisir angina, mencari
rumah-rumah air. Kerang-kerang menyelam ke dasar hatinya,
pasir kembali hangat memintahku sebagai lelaki pasir yang kuat

suatu malam, bicara kekuatan kita sepakat meminum
vigra, dan sehabis bersebadan dari kemaluanku berlarian
lintah-lintah sepanjang klingking, mulutnya terus menyumpah;


-sir-lesir ke laut tak berpasir adam terusir
Di pantai segala beban benar-benar terasa berat merembesi
punggung dengan besi karat, laknat! Sumpahnya
lelaki-lelaki masih saja mematut-matut dirinya dengan kisah
laut, sampan dan perampok hantu laut dan paus bergigi
merah yang kejam, seperti mencari kekuatan. Seperti
berharap kutukan menimpanya.

Sumenep, 2009

Puisi ini diketik ulang oleh Haryono Nur Kholis dari Antologi Puisi Dzikir Pengantin Taman Sare (Bawah Pohon Publishing, 2010).
Powered by Blogger.