Header Ads

Puisi-Puisi Ghoz. TE di Antologi Puisi Prosenium, 2013

Add caption

MENULIS HUJAN BERSAMA [ i ]

sehabis kita menghindar 20 meter dan menepi dari hujan
kita meluncur ke warung minang yang menawarkan teh telur
mungkin, asmara dan kehangatan mendapatkan ruangnya sendiri
kala dingin menubuh. pada beku lampu-lampu di tiang seberang
hujan menyalakan bulu kuduk kita.
dua lelaki memandang ke tengah hujan, disana kecemasan merayap,
seperti gerbong kereta tua dan karatan lelah bawa pergi mimpi-mimpinya.

aku menulis hujan bersama [ i ]

aku ingin menulis hujan
menghitung 5 helai rambutku yang rontok dan mensisirnya berkali-kali 
menghidupkan sebatang rokok dengan migrasi bayangan orang-orang kota
lalu mulai bercerita tentang pedalaman waktu, kampung kelahiran  
dimana kita bebas berlari mengejar matahari sambil kencing berdiri
rindu terendap dalam gelas-gelas kosong. terbentur keras ke tembok
seperti teka-teki silang, kita mengajukan jawaban atas sebuah pertanyaan
tak pasti.


pada denting segelas kopi
kita asyik melukis pelangi malam-malam pada ampasnya
dan pikiranmu yang basah bertukar ingatan di atas meja panjang      

Yogyakarta, 2011

Qie

Pada notasi nyanyian kelabu, kelam karena rindu
seorang lelaki berdiri di bawah tiang dan lampu temaram
membaca kembali 55 sajak yang ia pungut dari reruntuhan cahaya
memanggil-manggil nama, Qie!
maka kupenggal engkau tulus

Qie,
adakah cinta yang leb
ih binal dari persetubuhan sepi ini?

Aku menjelma apa saja
sering pula menakar luka atau sekalipun maut datang secara tiba-tiba
cintamu lorong-lorong panjang. Aku adalah pejalan kaki setia
datang dengan lipatan cemburu-cemburu kecil
kau sepi dan kau menangkapku perlahan
aku berjalan ke utara hingga malam berpeluang meninggalkan romantismenya
aku pun lupa cara memejamkan mata darimu

Yogyakarta, 2012

LAUT, MUARA SEGALA IBA
:Paox Iben

laut, muara segala iba
 : laut riuh
seperti gimbal rambutmu menyimpan peristiwa
aku mengandaikan ikan-ikan bergelantungan di sana

ingin aku berenang, meloncat dan bermain-main
lalu kau tersenyum mendapatiku dengan jaring
begitulah, laut dan rambutmu sama menjebaknya.   
 
Yogyakarta, 2011


JARAK ANTARA LAUT DAN PULAUMU
: Rindu Kepada Ibu

I
Ibu, aku ingin segera mendarat di pulaumu sehabis laut mengirim gelombang dan sebelum pasang benar-benar menerjang. Ada yang bergerak perlahan menyeret perahu jauh. Lama layarku sobek ditembus bulan dicabik ikanikan lapar. Yang diapungkan jadi lampau dan yang
hanyut tak kembali akan biarkan ia memilih jalan pulang sendiri. Bukankah cinta hanya persoalan resiko  kesakitan semata,bu? Dan kau masih berusaha menjahit layarku bukan? Kau seprti ibu pada umunya, suka naik darah. tak suka dibantah. tetapi senantiasa menekankan perasaan ketimbang pikiran-pikiran.

II
Jarak antara laut dan pulaumu itu, rinduku.
           
III
Ibu, bila aku pulang dan tiba dihalaman pertama hatimu, seketika aku  ingin menjelma bocah kecil lagi, sebab jarak antara laut dan pulaumu dipisahkan gelombang badai yang mengancam usia. Ibu, aku rindu padamu. Dan aku hanya mengakrapimu dari jauh sekali. Kadang ingatan padamu membikin cemas dari celah kecil bola mataku. Tapi ibu selalu dengan seiris senyum. Kau tak pernah getir. Teguh. Seperti kesetiaanmu pada kebaya sederhana bergaris biru laut. Barangkali perempuan punya hati sedalam laut dan perasaan yang rumit. Ah, ibu selalu mengirim kabar pada angin yang datang padaku. Aku pun sampai kehatimu sebelum laut menggirim senja angslup di dadaku.

  IV
Jarak antara laut dan pulaumu adalah riak mengelembungkan cemas. Dengan segumpal penuh pasrah pula kau lepas pada surut laut, agar aku lebih menghargai hidup, tumbuh jadi karang. 
Kampung halaman seasin ingatan pada perempuan tua diujung kepulangan. Ingin segera aku melompat sebelum perahuku merapat. Ibu, aku pulang tanpa setangkup berlian, tapi kubawakan untukmu rindu berkepanjangan ini.

Mei 2011


Catatan si Tukang Arsip: Puisi-puisi ini ditulis ulang dari Antologi Puisi Prosenium (Divisi Sastra Teater ESKA & Kendi Aksara: 2013)
Powered by Blogger.