Header Ads

Sajak-sajak A. Warits Rovi Riau Pos, 29 Juni 2014


Sumber: We Need Fun


Perjalanan Garam

di sepikul rinjing para kuli, garam melihat laut untuk
yang terakhir kalinya. terakhir kali bibir dikecupkan dalam janji warna putih,
terakhir kali tangan dilambaikan dalam janji rasa asin. begitulah laut sebagai
ibu yang ramah selalu mengenang anak-anaknya dari jauh, biar anak-anak itu
belajar memberi hidup bagi yang lain, dan cukuplah kiranya wasiat laut
kepada garam agar segera berangkat. dari rinjing diangkis ke bak truk,
diangkut menuju kota, melintasi leliuk jalan dengan doa-doa yang
beriak samar antara bunyi getaran roda dan derit bak truk yang sudah tua.
ia amini segala luka sebagai tugas yang harus ditambal dengan cinta.

di sepanjang jalan, tanpa sepengetahuan angin, garam itu memandang
wajah matahari. menghikmati cahaya sepinya dengan mata yang saling
bertatap dalam rahasia anak dan ayahnya, serta saling menyembunyikan air mata
pada pangkal awan putih yang menggelayuti langit madura. pada isak tangis yang
sama, mereka sama-sama mengenang keluarga kecilnya di bibir pantai,
dalam rumah sekotak talangan*, matahari menikahi laut, dan beranak garam. hanya
saja waktu menuntutnya bercerai demi menjunjung takdzim kepada manusia.

laut, kembali menjadi ibu yang sepi dengan getir air mata dan luka menganga
        pada lambungnya.
matahari, hanyalah seorang ayah yang merelakan tubuhnya diputar
        dari satu sepi ke sepi lainnya.
sedang garam, tersayat kenangannya sendiri dalam mangkuk-mangkuk keramik
        sebagai anak-anak yang memendam rindu kepada orang tuanya
        seraya menunggu sebuah sendok melebur dirinya ke dalam kuah.

Dik-kodik, 29.03.14

*Tambak garam.




Hakikat Mencintai Perempuan Pendiam

aku kapak yang menebas jantung pohon. getahnya kutanggung
sendiri sebagai resiko dari sebuah cinta suci.

sebelumnya telah ditulis dalam sepucuk surat yang lekat
di bibir batu asahan. agar tajamku tertuju kepadamu.

kepada perempuan yang berjasad pohon. yang diam tak
terpengaruh angin. berdiri untuk dirinya sendiri dalam
kesepian yang disenangi. melewati musim-musim tanpa
berbicara dengan hutan.

pohon yang selalu memamerkan buahnya dan bebas
menggugurkan ranting-daunnya ke lekuk jalan menuju rumahku.

maka bila kau bernama perempuan pohon yang roboh oleh kapakku
di situlah batas terkabulnya doa-doaku. agar kau segera roboh
memenuhi tanah dadaku yang tepat berada di bawahmu.

Gapura, 2014.



Madura, di Suatu Malam

di ujung kuku runcing angin malam. di ujung lantunan lagu sepi
tanah dik-kodik, malam menjadi cermin besar bagi yang
hidup dalam kesendirian.

di depannya, tengah berias seekor kunang-kunang
dengan bedak tepung ketan madura. lipstik mayang siwalan.
celak hitam dari arang kayu secang. tak lupa menyemprotkan
minyak wangi dari adonan garam.

maka di cermin itu, tampaklah kunang-kunang itu seperti diriku

:lugu di depan waktu, semata menyimpan lagu atas tanah kelahiran
yang mulai dilanun amis belerang dari pulau seberang.

Sumenep, 25.03.14



Narasi Batang Tembakau

daunku tangan yang terangkat setara dada, berdoa menolak hujan
sambil menanggapi angin lembah dengan bibirnya yang lembab
mengecup leherku berkali-kali.

aku berdiri di tepi ladang ini demi janjiku kepadamu
demi selinting kretek yang menatah garis bibirmu dengan
wangi asap dari sebentuk kenikmatan paling langka.

demi rasap sedap dalam setiap hisapanmu. kurelakan
tubuhku bersekutu kesepian, sepanjang kuku dingin dan panas
membuat sayatan pada diriku. menguji teguh jantungku yang
selalu berdetak kepadamu, kepada orang yang sabar duduk
di tepi ladang dengan capil daun pandan, yang tak pernah
meninggalkan kebaikan menyirami akar-akarku setiap pagi,
yang melawan terik matahari, sesekali ujung lidahnya
dijulur keluar membayangkan sedap lintingan kretek
daun-daunku kelak, ketika purna bulan pecah tiga kali
di pucuk-pucuk siwalan.

Bungduwak, 2014



Pengakuan Sapi Karapan

aku berlari mencari batas cinta dan benci, yang tak seorangpun
bisa mengajari. dari ladang yang kau buat lapangan, aku akan
bercerita tentang karapan:

kerontang ladang Sumenep mengasah kokotku setajam celurit
niscaya bila aku berlari, sepi akan tertebas mati
dan ladang ini menjadi perawan lagi, di mana tepuk tangan
dan sorak sorai akan bergema seumpama bujang
datang bertandang dengan seribu puisi kasmaran.

selepas garis finish, tunai sudah kupelajari sesuatu yang
selama ini tak seorangpun bisa mengajari. aku memahami
batas cinta dan benci.

mungkin kau tidak mengerti,
memar punggungku yang kau pecut telah kupupuri cinta suci
dan rasa sakitku kuterima tanpa rasa benci.

Dik-kodik, 2014



Binsabin*

tanda itu adalah akar rumput
yang menjalar kokoh ke belahan dadaku
jangan sembarang kau menyabitnya
sebab sama halnya kau menyabit mulut para leluhur
dan melukai langit madura dengan hati bertuba

tanda itu kutancapkan
untuk menemani kesendirian matahari dan bulan
yang akan berpuisi ke hati para pencuri
agar matahari dan bulan itu terbit di atas naluri
menerangi hati
dan jadi penangkal perbuatan keji

lihatlah ia masih menancap
setia menjalani garit kesepian di tengah baris rumputan
ujungnya menunjuk ke langit
mengingatkan kita pada yang kuasa
badannya dari legam batang dalupang
bertali sesobek daun siwalan
manifesto kesetiaan pada alam

Dik-kodik, 2014

*sebuah tanda yang biasanya terbuat dari ranting bambu atau kayu, di ujungnya diikat dengan selembar daun siwalan. Tanda itu kemudian ditancapkan di area padang rumput yang berarti rumput itu tak boleh diambil oleh siapapun.


A. Warits Rovi
lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa antara lain Horison, Seputar Indonesia, Indopos, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Riau Pos, Banjarmasin Post. Termaktub dalam sejumlah antologi bersama seperti Ayat-Ayat Selat Sakat (Riau Pos, 2014), Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010), Bulan yang Dicemburui Engkau (Bandung, 2011). Epitaf Arau (Padang, 2012), dan Dialog Taneyan Lanjang (2012). Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit Hilal Berkabut (Adab Press, 2013). Kini aktif di beberapa komunitas.

Powered by Blogger.