Header Ads

Puisi-Puisi Ghoz.TE - Riau Pos, 22 September 2013


Di Tepi Kolam

Di kolam itu pikiran tenggelam
ikan mas berenang ke tepi
kedua siripnya membuat riak kecil
mengenai wajahku yang ngambang
samar. Aku bimbang terhadap hidup
merasa sendiri dan cemas
ada yang tak dapat bersembunyi
di sini. Urat saraf tegang
bulan memantulkan cahayanya
dan suara-suara bergerak
ke dalam lubang batin
di kolam itu daun terapung
seperti sebuah cemas
bayangan-bayangan mengepung
dan tubuh kumalku bergetar

Yogyakarta, Maret 2013
 

    

Matahari

Bayangan bergerak dari celah-celah dinding
hari ini aku ingin jadi matahari
yang memburu dan menaiki punggungmu
aku memberi senja sekaligus membakar semua
di jalan-jalan aku tak pernah lupa menyebut
namamu, ingat langsat  kulitmu, juga
kenakalan-kenakalan yang pernah kita buat  

Matahari, sekeping rindu mabuk dan terbakar
akhirnya menjadi apa saja aku rela
maut tak selamanya mengerikan, Qie
sebab mati seluruh ruh bersekutu di surga
yang kuucapkan kata-kata menjelma puisi
sekaligus mantera sakti menangkal cemas
dan ketakutan-ketakutan yang akan datang

 Yogyakarta, Maret 2013



Kedai

Seperti biasa, kau dan aku duduk bersebelahan satu meja
menghadap ke barat. Memandang jauh ke langit, ke kolam
cahaya lampu itu terapung. Kau suka lemon tea dan sayur asam
untukku secangkir kopi susu, tiga batang rokok kretek di saku
di sudut seorang lelaki bermain gitar, bernyanyi iwan fals
suaranya keras, lirik belada yang mengancam dan aku bergetar
ah, semua lagu tetap terdengar romantis bila bersamamu
tak ada argan, tak ada musik live seperti di café-café. Tapi
semua itu terjadi begitu saja, aku menikmati sunyi yang
terkadang menciptakan sendiri nyanyian-nyanyian dalam hati
diam-diam aku menandai gelas bekas kedua bibirmu. Aku
suka semua yang ada padamu, bahkan caramu mendengkur
dan kentut ketika tidur. Udara semakin dingin dan angin masuk
tak harus dari kisi-kisi jendela, embun di atas daun-daun,
suara belalang, percakapan Kau dan aku saling mendekatkan
perasaan masing-masing.

Yogyakarta, Maret 2013



Perempuan Itu

Adakah itu kau, luke
perempuan dengan parfum kasturi
dari balik samar bayang-bayang
aku mencium bau tubuhmu
tekenang kenakalan-kenakalan
ciuman kedua bibirmu yang menggetarkan
langit seperti runtuh
di dadaku gempa timbul dan tenggelam

Waktu berburu menembus ruas malam
dalam gelap kepadaku kau kembali
seperti seekor kunang-kunang
aku lelaki dengan sepenggal sunyi
adakah itu kau, luke
bidadari dengan dua sayap di punggungnya
mengepakkan mimpi-mimpi
aku terkenang di bawah gerhana rembulan

Untuk perempuan itu
kutulis puisi yang ke seratus kali
sambil membayangkan tubuhmu dan tubuhku
berpaut di atas lantai dingin
menjelma dua serigala buas lupa dan mabuk
kau si betina mencabik seluruhnya
sedang aku sebagai lelaki menyerahkan diri  
kekashiku!
aku lebih suka berpetualang menciptakan keliaran
bukan cinta yang sintimentil, katamu suatu malam
o, sunyi yang kekal
dahaga dengan nafas terpenggal
kuteguk tiga botol bir      bersulang diam
adakah itu kau, luke
perempuan dengan seribu bayang-bayang

Yogyakarta, Maret 2013



Kepada Tuhan Dan Kekasihku

Di ruang empat persegi, aku lelaki hilang percaya diri, juga
cemas padamu. Orang-orang yang aku kenal akan jauh
lalu aku menghitung detak jam di jantungku dan kesepian
menyelinap lewat kisi-kisi jendela. lelaki tak punya keyakinan

O, tuhan. Bukankah semua harus dipertanyakan, bukan?
seperti selembar daun gugur pukul 12 malam
mataku gelap pikiran melayang-layang dari sudut ke sudut
tak ada kunang-kunang di sini. hanya lampu 5 watt tergantung
semua tampak samar. Demikian aku tak jelas
melukis lekuk wajahmu di tiap mimpiku. Kutulis puisi terakhir

Ketika orang-orang pergi, aku sendiri. Merasa dikhianati

Yogyakarta, Maret 2013


Kepada Puisi Dan Kekasihku

Aku berjanji padamu akan menulis puisi. tapi
aku kehilangan kepercayaan pada kata-kata
aku berduka. Setengah keberanian lenyap
  
Dari sela-sela nafasku yang keluar. bukan aku
pemalas, sayang. Mungkin kali ini
aku muak pada kepurak-puraan. Seolah semua
berhenti pada titik kalkulasi imajinasi. Puisi itu
metafor indah di dalam kamar mandimu!

Aku melihat bayangan-bayangan. kau dan aku
berdiri di tengah kabut. Yang terbentang libido

Aku akan menulis puisi, barangkali tahun depan
atau di abad Socrates mempertahankan imannya 
sebab di teping ruhku telah kulempar kebenaran

Yogyakarta, Maret 2013



Kepada Kekasihku  

Di bawah langit, segantang bintang-bintang 
ke selatan angin berhembus pelan
butiran embun di pucuk daun mengendap
aku memandang ganjil purnama
cahaya itu jatuh membentuk bayangan
Zah, kau pergi meninggalkanku
rindu mengambang di atas gelombang
——-timbul dan tenggelam
sunyi merapatkan peristiwa dan kepingan luka
udara lembab, maka terbukalah malam
dari lubang hatiku terdengar senandung samar
seperti suara daun yang lepas oleh angin

Aku terancam.  Lelaki yang berjalan ke masa lalu   
baling-baling waktu memburu urat leher
dan aku merasa tak ada malaikat di kanan-kiri
kini kuserahkan engkau pada angin, gelombang
aku percaya tanpa air mata kita adalah tuhan

Kau dan aku bersitegang. Menghunus perang
pada akhirnya yang kekal itu hanya luka
Zah, di bawah bayang-bayang bulan
tak ada lagi yang ingin kupahami darimu,
tak juga tuhan.
Bukankah sesuatu lebih indah dan bergairah
ketika masih ada dalam ruang perkiraan
kau dapat membayangkan tuhan. Sedang aku
menimbang perempuan

Yogyakarta, Maret 2013



Kepada yang Pernah Pergi

Bukan karna berpisah kita mengasah luka
pada waktu
pada apa saja yang tersisa
matahari menempa hati di atas baja 
mencintaimu menerima seluruhnya

Aku lelaki empat tahun lalu, dan
engkau perempuan yang satu
di tangan kiri masih kusimpan bara api
kubakar yang di luar keberadaanmu

Kau pergi
aku tak pernah memintamu kembali
karna kita punya perih sendiri-sendiri
datang mengancam

Kepada kekasih yang pernah pergi
kelak, berdua akan bertemu lagi
mengukur luka. Menagih janji
walau aku tak yakin, entah untuk apa? 

Yogyakarta, Maret 2013



Antara Gelombang 

Antara gelombang dan angin pasang yang menyeret
aku berenang di kedalaman matamu
adikku, pecah tangismu seperti gemuruh laut
karang menafsir luka, menangkap peristiwa. Ia tak pernah
bertanya dan menggugat.
matahari kencang berlari, perahu-perahu berlayar ke tepi
arak angin mengantar kabar
adakah yang lebih kekal kecuali cintaku padamu?
matamu laut. Sirip ikan-ikan nyangkut perangkap

Dari langit, laut memeluk hujan. sungai mencari hilir
adikku, suara itu mengetuk dan nafasku seperti berhenti
antara gelombang dan tepi pantai, aku adalah bawal
yang tersesat. Tapi di matamu aku rela jadi apa saja!

Yogyakarta, Maret 2013



Bicara Tuhan
Bersama Ulul Dan Sofyan


/a
Pada suatu malam
tanpa rencana
kita seperti lelaki pengembara
berjalan dengan keyakinan, juga
pertanyaan-pertanyaan konyol tanpa alur
ke benua yang barangkali tidak dikenal
bicara kebenaran
tuhan yang disakralkan
martin luther yang dibunuh
dituduh pembangkang
hallaj si pemabuk dari Persia
bukankah orang-orang seperti mereka
akan selamnya dianggap bahaya?

Kata orang, ini zaman posmo
kau dan aku bebas membuat tuhan
surga dan neraka imajinasi yang menyempal
meyakini apa yang ada dalam kepala
memberhalakan benda-benda
kebenaran jadi abu-abu
tak ada yang tersisa untuk kita bicara

/b
Jangan tanya tuhan
sebab aku muak bicara banyak
surga itu
kotak impor kardusan
kolam susu, dahan-dahan rindang
buah mekar dada bidadari
tapi tuhan tak ada
dalam buku-buku panjang, ceramah-ceramah
ah!
jangan  kutuk aku si pendosa
dan juriga atas keyakinanku
sebab orang-orang menghunus pedang
ribut soal kepercayaan, saling ancam

Aku lelaki berjalan ke utara
malam bergerak
matahari terbit dan tenggelam
tuhan ada di mana saja, katanya

c/
Pada akhirnya
kita mencurigai
tak ada yang kekal

Yogyakarta, Maret 2013



Ghoz.TE

Lahir di Sumenep-Madura. Mahasiswa akhir Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pernah nyantri di PP Al-Karimiyyah Gapura-Sumenep. Aktif di Teater ESKA Yogyakarta sebagai pengelola sastra bersama penyair muda lainnya.

Powered by Blogger.