Header Ads

Puisi Ridhafi Ashah Atalka - Suara Merdeka, 9 June 2013



Cerita-Cerita tentang Air Mata

1/
rindu yang dibawa hujan ke balik matamu
kini mendatangkan butiran-butiran salju,
maka katupkanlah bulu matamu
dan rasakan gaduh aku jatuh
2/
angin dan badai yang bersetubuh
dalam menikan dadamu
kini melahirkan hujan di langit merah
maka seketika rekahlah cuaca
bumi dan persada jadi basah
3/
dua sungai di kedua pipimu
kini meluap mengalir menyentuh jidat
maka janganlah kau kuras, biarkan ikan-ikan melompat
menjagamu dengan hikmat.

Yogyakarta 2013



Hanya karena Cinta
hanya karena cinta kau lupakan segala
termasuk tuhan yang berdiam di dalamnya
sementara kau begitu gembira menyanyi dan menari
seperti merpati mengelilingi matahari
merobek ufuk dengan kepak sayapnya yang putih,
hanya karena cinta kau sangsikan segala
tuhan yang berada dekat dengan kau
masih tak percaya, bahwa luka akan memendam segalanya
Yogyakarta 2013


Di Tepi Pulau Madura
di sini, tapak kaki telah pergi ke ambang pagi
ke ufuk timur yang lamur oleh cahaya matahari
sementara itu malam menutup pintu, bulan pun berlabuh
menjauh ke kolam hatimu,
dan aku seseorang yang selalu merasa mampu mengemban
kutuk perahu
berlayar di antara desah gelombang,
memecah batu-batu karang menuju hubbub terjauh kalbu
pulau,
wahai tepi yang hijau
catatlah perahu yang menjauh itu sebagai hantu pencuri
hatimu
lupakan sejenak tapak kaki yang di bawa lari pagi itu
luruskan matamu ke jantung pulau,
lalu pandang bulan yang perlahan tenggelam ke dasar
malam
Madura januari 2013


Hujan Terakhir

di luar kamar hujan menyiram rerumputan
dan angin mematahkan dedahan, berjuntai perlahan
seperti jerami di tebas parang kemarau panjang,
mendatangkan belalang dan capung hujan
hingga anak-anak ayam mendekam di sayap lebar
induknya
mencari kehangatan yang mungkin tersimpan di kedalaman
bulu-bulu,
entah itu matamu atau pori-porimu
di luar kamar hujan anasir terakhir mengalir
mencari titik nadir, kapan ia akan berhenti membuat gigil.
Madura Mei 2013.
Powered by Blogger.