Header Ads

Puisi F. Rizal Alief - Puisi Ernawati Literary Foundation



Puisi Juara II Lomba Cipta Puisi Ernawati Literary Foundation

LALABET

Tiap kali ada yang meninggal dunia
kami biasa membuka pintu dan jendela
membiarkan udara membawa kata-kata berbunga
di bibir kami yang mekar senantiasa

Daun-daun berjatuhan
berayun-ayun ke dalam ingatan

Lalu kami mengunjungi rumah duka
sebagai anak dan orang tua
sebagai saudara
sebagai pasangan yang selalu muda
sebgai orang yang pernah hidup bersama
dalam suka-duka
atau sebagai seorang yang tak pernah ada luka

Sebagian dari kami membawa cangkul dan sabit pergi menggali
kuburan
setiap hentakan
kami mendengar desau kematian
keringat menetes perlahan
melubangi keperkasaan yang tak lebih dalam daris ejengkal galian
sebagian yang lain datang menyunggi beras dan pisau dapur
untuk menutup lubang-lubang airmata
dan memotong gelombangnya

Setiap malam
sampai tujuh malam
kami menyela di antara wangi kemenyan dupa
yang kami bakar di atas sepat kelapa
sampai tubuh kami tiada
tinggal doa-doa yang kian menyala
melebihui purnama

Setiap hari
sampai tujuh hari
tetamu perempuan berdatagan
kemudian pulang dengan
seceppon nasi putih bersih yang menyimpan rute sebuah
perjalanan
ke rumah batu
di ujung rumah terdahulu

Hari kedelapan dan selanjutnya
di rumah masing-masing, kami semua
sibuk menata sisa waktu

sebelum beku dan lebih dingin dari sebongkah batu.

TBY, November 2012.

Powered by Blogger.