Header Ads

Puisi Ahmad Kekal Hamdani - jogjareview.net 17 Agustus 2014

Sumber: Modern dinding kanvas



Enigma

tiap keindahan yang tertangkap
memberikan pintunya
menuju sudut yang tiada
tercatat di kitab-kitab suci
dan lembaran yang mewartakan
perihal kebenaran
aku mencarimu tiada
henti—semakin jauh
dari wujudmu yang kukenali
hatiku membiarkan segenap
dukalaranya tersesat
di lembah-lembah
di mana hanya rindu
yang mampu diharap
kau setitik batu pertama
tabah dan kukuh berdekap karang
lubuk mutiara yang jernih
dan sendiri

Yogyakarta, 2013


Kefas

I

di Genezaret, kau temui nelayan ini
dengan jemari jala penuh lumpur
ketika matamu sampai ke jantung
“kemari, ikutlah bersamaku
kujadikan kau penjala manusia” ucapmu
jangan menatapku dengan kasihmu
anak dari kekudusan dan penghambaan
sebab sedianya kulit kapuk
terbelahlah jua
dadaku

II
kini kusangkal kau dalam detik
waktu yang runtuh dan tercecer
di sepanjang bukit
pada pucuk kokok ayam
juga bukanlah laut
tempat ombak biasa menerkam
yakinku. sebab lidah-lidah api dari roh kudus
sampai juga di kening para nabi
“apakah kau bersama orang Galilea itu?”

III
maka salibkan aku, dengan tiang palang terbalik
sebagaimana pijak kaki tak mesti di bumi
karena arah jejak mestilah meninggi
biar mereka tergoncang iman
dan maut memburu di larik sumsumku
sungguh tak ada debu dalam dadaku
yang berkata tidak pada hadirmu
tapi di sini, aku hanya penjala
dengan jemari yang terpisah
ke arah tanah
aku tidak mengenalmu
tidak untuk keyakinanku

Yogyakarta, 2011


Kesaksian 

pada punggung tahun yang letih
para peratap mengungsi
ke balik gunung-gunung teduh
muasal seluruh bah. tempat nuh
melarungkan takut
dan percaya, bahwa tuhan
bersembunyi di balik segala
bencana
rahmat dan pancaroba
iman dan sangsi
seumpama aku dan matahari
yang tersesat di keluasan malam
menyerah pada kuasa tidur
aku kan’an yang tak
percaya. kebenaran datang
dari ayah dan tuhan
sebab di mulut maut yang sejuk
kutemukan wahyuku
berdekap tatap
dengan wajahKu
sendiri

Yogyakarta, 2013

Kata

kata adalah gembala
yang tertidur. di lengan bukit
dan padang-padang terbuka
saat segalanya
jatuh dan mengalir
`
dalam darah sangkala
yang bisu. memanggul gairah
ke puncak jemu
rapat pada segala
pada yang tak terperi
kata adalah gembala
yang tertidur. ketika duka cita
menyalakannya
di langit mengerjap
jauh dari segala
yang mampu
dicercap

Yogyakarta, 2013

 Ahmad Kekal Hamdani, penyair berdarah Madura ini lahir di sebuah panti Katolik di kota Jember 5 Agustus 1987. Tahun 2000 hingga 2008 menghabiskan waktunya belajar di beberapa pesantren di Madura, sebelum akhirnya hijrah ke Yogyakarta. Menulis puisi dan esai sastra-budaya. Sejak akhir 2008 bersama kawan-kawan membangun komunitas-Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta. Tulisannya tersiar di media massa lokal, nasional, serta antologi bersama yang diterbitkan dalam rangka festival maupun temu sastra di Indonesia. Kini selain menulis aktivitas senggangnya adalah melukis.

Powered by Blogger.