Header Ads

Puisi-Puisi Saifa Abidillah: Kedaulatan Rakyat, 01 April 2019

Sumber gambar: g/ www.berlinestanous.com

PENGUNGSI

Aku mengungsi dari cuaca buruk di matamu.
Aku tidak ingin tinggal di rumahku sendiri. 

Suaramu menjadi monster dan menakuti
seluruh penduduk pulau di mataku.  

Keningmu berkabut—dan lidahmu menjelma
ombak raksasa yang menelan ratusan nyawa.

Aku menghindar dari erupsi mulutmu
yang bergemuruh di tengah pulau Selat Sunda.

Kutub, 2018

KRAKAL

Krakal, pantai centil paling nakal
yang melucuti keindahan matamu tak terduga.   

Desau angin tenggara yang membelai telinga
adalah desau suaramu yang mesra di malam manja.

Kusapu seluruh keindahan, warna biru
pada kanvas laut dan batu bukit yang berundak.

Tak ada yang tersisa dari ketakjuban.
Kuas ombak yang memutih sepanjang pantai yang gemulai

Menuntun mataku pada kata yang adalah sabda,
yang tak tercatat kitab suci seluruh agama di Dunia.

Kutub, 2018

INDRAYANTI

Setelah menempuh jalan begitu jauh.
Aku mesti mendaki undakan di keningmu

Dan berharap menikmati kedipan matamu.
Dan memotret bulu alismuyang berombak.

Aku berdiri disela-sela rambut pohonmu
yang teduh. Aku pangkas sepi di rambutku.

Aku ingin terjun di matamu, hanya di matamu.
Dan berenang di laut kata dengan ceria

Tanpa ada kata dusta, atau rasa bersalah
yang menjelmabukit ganas.

Yang bakal memangkas kesetiaanku padamu.

Kutub, 2018

HUTAN PINUS

Ketika matamu sibuk mencemaskan tempat ibadah.
Pohon-pohon di hutan ini, sedang sibuk beribadah.

Ia lebih tua dan lebih sunyi dari pertanyaan-pertanyaanmu
yang berbahaya. Ia lebih kukuh dari imanmu yang rapuh.

Di Mangunan, keindahan adalah tapa bisu pohon-pohon
anggun yang menawan.

Segala kata yang bergelayut di udara
adalah sabdatanpa buku, dan kitab suci. 

Adalah rumah ibadah yang tegakdalam sunyata.
Adalah—segala jalan yang menanjak, dan meliuk indah

bagi kata-kata yang berayun
menyerupai doadan misi orang-orang suci.

Kutub, 2018

PUNCAK BECICI

Meski matamu adalah kuburan kecil yang terpencil,
aku tetap ingin berkemah di matamu.

Aku mengemasi barangku dan ingin tinggal lebih lama.
Setelah membangun tenda, aku ingin menyalakan api unggun.

Hujan yang mencemaskan mataku, meruntuhkan
harapan-harapan dan mimpi kitayang basah oleh badai.

Kita mesti mengungsi dari ketinggian—mencari tempat teduh
yang jauh dari aduh atau sepuhangin kesepuluh.

Kutub, 2018

BUKIT BINTANG

Semoga dadamu selapang pandangan matamu
yang membelah rumah-rumah dan jalan raya.

Pagi yang mengantarmu pada banyak tempat,
pada akhirnya menyisihkan matamu

sebagai pengungsi sunyi,yang berlibur kesejumlah
keindahan alam raya:

“Pandanglah mataku sebagaimana kau memandang
dirimu sendiri,”katamu suatu waktu. 

Kutub, 2018

BARON

Ada ketakutanuntuk tidak mendekati matamu.
Ombak matamu mengamuk beberapa hari terakhir.

Petugas pantai mengingatkan untuk tidak mendekati
bibir pantai di matamu. Cuaca matamu memburuk.

Dan setiap pengungsisepi tidak mau peduli,
sekalipun angin pada bibirmu menjelma lidah api.

Semua orang ingin menikmati hari liburtanpa rasa takut.
Dan menatap lekat-lekat batu mungil di atas bibirmu.

Krapyak, 2018

KALIBIRU

Aku tetap ingin mendaki ketinggian
meski tidak kutemukan apa-apa.

Setiap keheningan dan keriuhan adalah
matapisau yang mengancam leher hari esok.

Mengancam mataku, yang adalah matamu
: mataranjau yang memukau.

Krapyak, 2018

ROMBEN RANA

Ketenangan laut adalah ketenangan matamu.
Dan setiap tempat menjelma laut.

Tak ada yang mesti dikutuk atau disalahkan
semua jalan menjadi jalan lapang.

Tak ada yang meninggi atau tiba-tiba merendah
segalanya menjadi sederhana pada kedipan matamu.

Kau yang menemun hari-hari dengan jari getar,
yang menjahit kenangan pada setiap rumah.

Pulanglah sejenak, rumah ibadah pada dirimu sendiri
jangan kau tinggalkan begitu saja.

Tak ada yang lebih berharga dari sebuah kepulangan.
Pulanglah, sebelum ketenangan mengecupi bibirmu

dengan mesra.

Dungkek, 2019

MENGENANG 110 USIA MUHAJJA

Setiap kepergian adalah pil tidur keabadian
tak airmata yang dapat diramu menjadi obat kedasaran.

Segalanya akan menjadi, seperti tidak terjadi apa-apa,
Jangan pernah menangis untuk kecupan cintayang tak sia-sia.

Mari rayakan kepulangan, agar rindu tak selalu jadi rasa haru
Mari menari sebagaimana Darwish menari menolak matahari.

Kita tak punya apa-apa, kecuali hanya batu bata kecemasan
Yang menyusun diri menjadi stalaktit rasa takut yang rumit.

Dungkek, 2019

Saifa Abidillahlahir di Sumenep, 12 Januari 1993. Buku puisi tunggalnya Pada Sayap Kuda Terbang (Cantrik Pustaka, 2017). Saat ini berproses di Komunitas Kutub Yogjakarta, dan tercatat sebagai Alumni Studi Agama-Agama, UIN Sunan Kalijaga.

No comments

Powered by Blogger.