Header Ads

Puisi-Puisi Shalihin Muhammad di Indopos, Sabtu, 22 Februari 2014



Lukisan Claude Monet, diambil dari google


Entahlah

Entahlah, suara langit di ketinggian
Ternyata berbeda dengan di sini, di lembah
Tempat hujan menanam lumpur ke dalam dada
Tempat pagi mematung dan senja gelisah—surup hari
Yang keramat.

Entahlah, pohonan yang hijau dan burung-burung
Hinggap sekadar untuk bersiul dan suka ria
Simfoni pagi yang sanggup lapangkan dada
Kini tinggalkan bekas cemas, seperti cermin
Berkaca aku dengan keterpencilan
Dari  keterasingan yang tiba-tiba

Entahlah, doa seakan tak sampai
Memulangkan hikayat lama, di mana timangan ibu
Semesra angin utara di dalam diri.
Saat langit dan tanah masih berkawan
Mesra membingbingku berjalan, menunjuk arah
Dan menghafal segala nama-nama

Entahlah, semestinya.

2014

Ke Dalam Diri

Ke dalam diri aku bertanya:
Tanah ini milik siapa? Aku dan mereka ini apa?
Mendengar sebentar lagi aku dan mereka akan diperdagangkan,
Dan tanah ini akan menjadi tempat transaksi, saksi para tetubuh yang kekar
Yang seringkali kudengar namanya di koran, televisi dan mulut ke mulut

Aku dan mereka  hanya tubuh yang terbuat dari terik matahari,
Keras bebatuan dan tanah huma adalah bagian dari kefasihan alam di mataku,
Namun luas batin kami adalah lautan dan langit yang membiru.

Ke dalam diri aku bertanya:
Aku dan mereka ini sebenarnya harus bagaimana?
Ada yang berjalan sendiri-sendiri, ada yang meraung membikin
Bising ke dalam angin yang mencoba hadir sebagai alamat kebenaran
Mencoba menggauli arah ke dalam doa, ke dalam sujud yang disempurnakan
Oleh teka-teki tuhan.

Mengharap jalan adalah aku dan mereka
Sementara kalian: sesuatu yang mesti kupahami
Sebagai kesesatan.

2014

Begitulah

Ada yang mesti ditinggalkan, puisi atau diri
Setelah anak sungai menggauli muara tanpa salam
Sampai di batinku nyanyian air mengalir seperti hujan di bubungan
Barangkali, akulah bagian dari setengah malam yang gelisah?
Mencemaskan diri dan puisi yang semakin hari nama-nama mengasingkan
Dan membawa mereka ke hikayat anak kecil yang mati lapar

Anak sungai dan air mengalir tumbuh seperti ritus moyangku
Berharap kemungkinan dalam tubuh menghilang, menjauh
Agar perih tidak lagi sama dengan malamku?
Sebab tak ada luka yang sendiri menafsir dirinya.

Begitulah, puisi dan diri.
Mesti ada yang ditinggalkan, entah
Bahasa atau isyarat perlambang yang sulit diterjemah?

2014

Puisiku dan Dirinya Sendiri

Kubayangkan di tepi sebuah danau dengan puisiku
Melihat hutan-hutan, dan rimba pohonan hijau.
Berlari-lari kecil sambil sesekali bertukar bahasa dan isyarat
Ada angin syahdu membelai, menyapa dengan doa-doa

Di suatu waktu, saat hujan turun aku juga membayangkan
Puisiku datang memelukku, mencium keningku dan
Membelai rambut ke perakanku, lalu menyuruhku tengadah
Ke langit di halaman, seperti seorang kekasih tabah
Menanti kepulangan

Tetapi, kini aku tak bisa lagi membayangkan puisiku
Puisi yang kucinta dan kusayang, di suatu hari kelahirannya
Datang mengetuk pintu, memelukku
Kemudian pergi dan berlari selepas berucap: salam sastra,
Berlari hingga pedih perih mengaduk-aduk pikiran dan perasaan

Jauh dalam batinku, sungai-sungai tempat ia mandi dan
Membasuh pakaiannya
Tiba-tiba saja tak ada airnya.

Aku tidak tahu ada apa dengan puisiku,
Tak ada alasan bahkan isyarat kepergiannya

Di suatu waktu, entah mimpi atau  apa
Aku menyaksikan puisiku berjalan lemas di depan toko busana
Pakiannya compang-camping seperti habis ngemis atau memang
Tak mempunyai pakaian lain kecuali  yang dipakainya itu

Puisiku melambai kepadaku,
Seperti lambai ketiadaan, seperti sebuah kepergian yang jauh
Lalu, kubiarkan kematianku memasuki diri, amien.

Kutub, 2013

Zara dan Puisiku

Zara, setiap malam aku seringkali melipat-lipat wajahmu
Dan membayangkan puisiku tumbuh di keningmu
Memekarkan bunga-bunga yang kumbangnya adalah aku
Agar diri sampai kepadamu.

Mendekatlah, Zara
Di kotaku puisiku menantimu, membiarkan namamu
Berulangkali mengasingkannya ke negri malam yang sunyi
Menjelmakanmu dengan bahasa bunga tengah mekar

Kadang, puisiku tertawa sendirian
Saat engkau hendak asyik berlarian dengan anak-anak sungai
Yang membawa sebagai diksinya berlalu

Kadang pula, ia tampak murung
Saat engkau tak dapat ia temukan dalam metafornya
Di sini, di malam yang seringkali mengasingkannya
Aku membayangkan engkau tumbuh di keningnya
Memekarkan bunga-bunga yang kumbangnya adalah engkau
Agar engkau sampai kepadanya.

Kutub, 2013


Shalihin Muhammad, lahir di Madura pada 1994. Kini tinggal di Yogyakarta sebagai aktivis Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Puisinya terdapat di beberapa media, baik lokal maupun nasional. Dan terkumpul ke dalam beberapa antologi, Renjana (Lesehan Sastra Annuqayah, 2013), Mimpi Seribu Kemenangan (UNSA Award, 2012), dll.


 
Powered by Blogger.