Header Ads

Puisi Badrul Munir Chair Didiskusikan

Gambar Via FB Badrul Munir Chaiir
YOGYAKARTA - Karya sastra (puisi-admin) milik Badrul Munir Chair, menjadi bahan diskusi oleh para peserta Diskusi Sastra Bulanan Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Selasa Malam (23/12). Badrul Munir merupakan mahasiswa Fakultas Filsafat UGM sekaligus seorang penulis puisi dan cerpen di sejumlah media massa. Novelnya Kalompang (Grasindo, 2014) pernah mendapatkan penghargaan dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 


Kali ini, beberapa karya puisi Badrul seperti "Lelaki yang Pergi Malam Hari" (2013), "Sungai Berkelok" (2013), "Selat Madura" (2011), "Aku Telah Jadi Ikan di Sungai Kecil Ini" (2012), "Mula dan Berakhirnya Sebuah Kota" (2012), dan "Sonet Pengembara" (2014) menjadi tema diskusi.  

Irwan Bajang, sastrawan muda yang juga pemimpin redaksi Indie Book Corner (IBC), mengatakan puisi Badrul menunjukkan bahwa seorang penyair tak akan bisa lepas dari segala entitas kedirian awal, sebagai muasal dirinya. Puisi "Aku Telah Jadi Ikan di Sungai Kecil Ini" bisa dikategorikan sebagai puisi sufistik dengan pemilihan diksi yang menunjukkan bahwa ia tak bisa lepas dari istilah-istilah ke-maduraan-nya. “Garam, tembakau, ikan, laut, palung, seolah ikan yang ia jadikan aku lirik dalam puisi ini pun bersaksi tentang perjalanan kaki di jembatan tua dan nelayan di tepi pantai,” ungkapnya. 

Puisi-puisi Badrul berada di tengah situasi tradisi masyarakat yang memandang bahwa tanah kelahiran itu penting, sehingga pulang kampung itu penting. “Badrul terjebak atau mungkin sengaja menceburkan diri dan tak mau lepas dari situasi masyarakat yang demikian,” tuturnya.

Lain halnya dengan Irwan, Galuh Febri Putra, mahasiswa S2 Ilmu Sastra FIB UGM melihat puisi Badrul dari sisi yang berbeda. Salah satu penggalan puisi "Tunjukkan Kami Jalan yang Lurus", kata Galuh, Badrul mengingatkan kita pada salah satu ayat di dalam Alquran. Namun pesan yang disampaikan di situ, Badrul menegaskan bahwa sebuah perjalanan merupakan usaha untuk melarikan diri dari batas-batas yang disematkan oleh sebuah tempat. Apalagi dilengkapi dengan "Rumah sejati ada dalam diri, bukan sekadar tanah dan tempat singgah. Maka, pergilah!. (Humas UGM/Izza)

Diunggah : Rabu, 24 Desember 2014 — Gusti di http://www.ugm.ac.id

PANCINGAN DISKUSI PKKH DESEMBER 2014:
YANG PERGI DAN YANG TERHAPUS AIR
Oleh: Prof. Fauk Tripolli

Lelaki yang Pergi Malam Hari 

Ke barat ia pergi, arah yang ditunjuk perantau abadi
di pantai rumah telah terbakar, pulau dikepung api
laut pasang memberi isyarat untuk segera menyeberang
angin seperti lirih bisikan nenek moyang, memberi petuah
nasihat-nasihat yang hidup ribuan abad, serupa gelombang:
“Rumah sejati ada dalam diri, bukan sekadar tanah
dan tempat singgah. Maka pergilah!”

Pergilah ia di malam hari, agar jejaknya di pasir lekas-
terhapus  air. Tanpa dayung dan mesin pemutar baling-baling
perahu berangkat ke negeri jauh. Tak ada isyarat dan pesan
kepergian—juga prosesi pemberkatan. Pandang tiada berpaling
tertinggallah segala yang dikenalinya sebagai masa lalu
usia remaja yang kelewat naif dan lugu, menjadi luka waktu

Badai  membangun siasat seperti mata pancing dan tombak
tajam dan runcing. Hanya hening, hati sebening telaga
menuntunnya menerka lekuk laut dan gelap semesta
lalu hamparan kabut membuka diri serupa gerbang
menyambut kedatangan pelayar baru, gemetar dan ragu
tapi perahu telah jauh berangkat, tak ada alasan kembali
sebab di pantai rumah telah terbakar: pulau direnggut api.

2013

Puisi ini merupakan kisah perjalanan. Meskipun baru sampai pada dua tahap, yaitu ketika berangkat dan di tengah perjalanan. Seperti kisah-kisah perjalanan kolonial di masa lalu, perjalanan merupakan sebuah tahap pengujian dan penemuan diri, pembangunan subjek dan posisinya di dalam lingkungan sekitar.  Karena itu, perjalanan itu bukan hanya sebuah gerakan dari sebuah lokasi geografis yang satu ke lokasi geografis yang lain, melainkan juga peralihan  dari usia remaja ke, tentunya, usia dewasa.  Lebih jauh, perjalanan itu juga menjadi peralihan dari satu kepribadian ke kepribadian yang lain, satu kecenderungan mental ke kecenderungan mental yang berbeda, yaitu dari kelewat naif dan lugu ke “luka waktu”.

Karena perjalanan itu sekaligus merupakan perjalanan untuk penemuan diri, mental ataupun psikologis, tidak menjadi begitu penting gambaran mengenai lokasi (-lokasi) yang dikunjungi. Yang penting adalah penemuan diri subjek itu sendiri. Dan, tampaknya diri itu bahkan sudah ditemukan sebelum perjalanan itu sampai ke tujuan, yang di dalam puisi ini disebut sebagai “barat”. Diri itu tidak lain dari apa yang disebut sebagai “luka waktu” di atas.

Tapi, diri yang seperti apa, sebenarnya, yang disebut sebagai “luka waktu” itu? Yang sudah bisa dipastikan adalah diri yang sudah meninggalkan masa kanak-kanak yang “naif dan lugu”. Kenapa, diri yang seperti itu disebut sebagai “luka waktu”? mungkin kita perlu memahami luka sebagai sebuah kerusakan atau kebocoran pada yang semula utuh, seperti “luka perawan”. Dalam pengertian yang demikian, keluguan bisa diartikan sebagai sebuah keutuhan. Keutuhan yang bagaimana? Tentu saja, ketika manusia berada dalam ketidaktahuan, lugu.

Jadi, bila dilihat dari pertentangannya dengan keluguan, luka waktu bisa diartikan sebagai diri yang berpengetahuan. Tapi, kenapa berpengetahuan dinamakan sebagai luka, sebagai sesuatu yang tidak utuh? Untuk menjawab hal ini kita mungkin perlu melihat hal lain yang bisa dianalogikan dengan keluguan di atas karena hal itu juga merupakan sesuatu yang ditinggalkan, yaitu pulau dan rumah. Keluguan menjadi analog dengan keterikatan diri subjek pada lokasi tertentu, pada lingkungan yang akrab. Diri yang lugu adalah diri yang masih menjadi satu dengan pulau dan rumah itu, belum menjadi subjek yang berdiri sendiri, masih bergantung pada lingkungan. Luka, dengan demikian, terjadi sebagai akibat dari ditariknya diri dari lingkungannya itu, dilepaskannya diri, anggaplah, dari akarnya.

Dengan demikian, berpengetahuan hanya berlaku bagi diri yang sudah terlepas dari lingkungannya, dari pulau dan rumahnya. Selama diri masih terikat pada sesuatu yang ada di luar dirinya tersebut, dia tidak dapat disebut berpengetahuan. Bila kemampuan lepas dari lingkungan dapat diartikan sebagai kemampuan diri untuk menjadi subjek yang berdiri sendiri, berpengetahuan menjadi identik dengan subjektivitas dan subjektivitas identik dengan luka. Hanya orang yang terluka, mengalami rasa sakit, yang berpengetahuan dan sekaligus menjadi subjek.

Karena luka menjadi bagian dari subjektivitas itu, perjalanan diri sudah sampai ke tujuannya justru pada saat ia baru berangkat dan dalam perjalanan, justru ketika ia belum sampai pada tujuan, pada pulau ataupun rumah yang lain. Lebih jauh, karena alasan yang sama, keadaan di dalam perjalanan itu sendiri tidak boleh menjadi perjalanan yang nyaman, yang tidak menyakitkan. Keadaan di dalam perjalanan itu juga harus menimbulkan rasa sakit, luka. Badai “seperti mata pancing dan tombak tajam dan runcing”.

Bila luka adalah tujuan itu sendiri, yaitu ditemukannya diri yang berpengetahuan, diri yang luka, tentunya perjalanan menjadi tujuan itu sendiri, badai yang seperti mata pancing dan tombak tajam dan runcing itu bukan lagi hanya keadaan transisi menuju keadaan yang lain. Tapi, puisi ini tidak menganggapnya demikian. Ia masih berusaha menemukan rumah baru. Rumah itu adalah: “rumah sejati ada dalam diri...”. dengan demikian, perjalanan itu bergerak bukan hanya dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dari satu mentalitas ke mentalitas yang lain, melainkan dari lingkungan yang ada di luar ke yang ada di dalam diri.

Badai  membangun siasat seperti mata pancing dan tombak
tajam dan runcing. Hanya hening, hati sebening telaga
menuntunnya menerka lekuk laut dan gelap semesta

dalam hal ini bisa diartikan bahwa bagi puisi ini lingkungan yang ada di luar, dengan segala ancaman dan tantangannya, tak lebih dari sebuah batu uji bagi diri. Diri yang hening, sebening telaga. Apakah diri ini sama dengan diri yang luka waktu? Bila luka sama dengan ombak yang setajam mata pancing dan tombak, diri yang luka itu pun menjadi hanya sebuah masa transisi, keadaan di perjalanan untuk menuju tempat yang lain. Tapi, tetap ada masalah di sini.

Di dalam kutipan puisi di atas, keheningan dan kebeningan hati merupakan sebuah kekuatan untuk bisa mengatasi ombak, membuat kabut membuka pintu. Dengan kata lain, keheningan dan kebeningan ada sebelum ombak, ada sebelum luka. Tapi, darimana datangnya? Mungkin dari apa yang disebutkan di baris-baris terakhir bait pertama.

laut pasang memberi isyarat untuk segera menyeberang
angin seperti lirih bisikan nenek moyang, memberi petuah
nasihat-nasihat yang hidup ribuan abad, serupa gelombang:
“Rumah sejati ada dalam diri, bukan sekadar tanah
dan tempat singgah. Maka pergilah!”

tampak bahwa diri yang dicoba dicari dalam perjalanan itu, dengan meninggalkan rumah, pulau, dan masa lalu itu, sudah ditentukan oleh nasihat-nasihat angin, laut pasang, nenek moyang, yang menyerupai gelombang. Sesuatu yang melampaui ruang dan melampaui waktu, yang tentunya membuat diri tidak bisa beralih dari ruang yang satu ke ruang yang lain, dari waktu yang satu ke waktu yang lain, yang membuat diri pergi dan melakukan perjalanan dalam kerangka tanpa ruang dan tanpa waktu. Perjalanan ke manakah itu, peralihan dari mana ke mana? Bila rumah ada dalam diri, ke manakah ia pergi? Apa yang ia tinggalkan, ke mana ia menuju?

Sekilas, puisi ini merupakan sebuah cerita perjalanan menuju diri cartesian yang mandiri, yang hanya akan menjadi diri bila ia terluka dan melepaskan diri dari segala ikatan dengan dunia yang ada di luarnya. Tapi, ternyata tidak. Bila puisi ini bicara mengenai kebeningan telaga, kebeningan itu bukanlah kebeningan berpikir tanpa bias, lepas dari ikatan tahyul dan mitos dan pikiran orang-orang sebelumnya, melainkan keheningan ketika diri melebur dalam ruang dan waktu, kebeningan ketika diri tiada, dan pintu terbuka dengan sendirinya.

Diri pergi bukan karena maunya sendiri, tapi ada kekuatan luar yang membuatnya pergi. Mungkin angin, mungkin laut pasang, mungkin rumah yang terbakar dan pulau direnggut api, hingga ia, mau tak mau, harus tetap berangkat dan tak bisa kembali. Ia tak bisa lagi menjadi ragu kecuali menyerahkan diri pada kehendak kekuatan itu. Ia adalah orang-orang madura yang selalu hidup bersama dalam perantauan, ia adalah orang-orang madura yang selalu kembali setiap hari raya haji. Dan ia, batal ke barat karena sudah menemukan rumah di dalam hati, rumah pemberian si nenek moyang yang abadi. Ia berkelana di tanah tuhan yang tidak tanpa batas.

Ia yang pergi malam hari agar segala jejaknya terhapus air

Begitukah...

FARUK 121214
Catatan Facebook Faruk Tripolli




"Subjek" yang Berhasrat Pada Perjalanan: Sebuah Hasil Pembacaan Puisi Badrul Munir Chair
Oleh: Galuh Febri Putra

Pengantar: Subjektivitas akan Ruang dan Keberangkatan

"Tunjukan Kami Jalan yang Lurus"
QS Al-Fatihah Ayat 6

Kutipan ayat tersebut selain menjadi dasar bagi sebuah percarian abadi akan (per)jalan(nan), ayat itu juga mungkin mempunyai implikasi bahwa jalan lurus haruslah ditunjukan, tanpa ada "penunjuk" maka jalan tersebut tidak dapat disebut sebagai jalan yang lurus. Apakah jalan tersebut lurus ataupun berkelok semua tergantung pada siapa yang melakukan atau menunjuk sebuah perjalanan. Kerelatifitas perjalanaan bahkan juga ditunjukan oleh ilmu-ilmu positifistik yang punya kebenaran mutlak.

Jika menempatkan teorema Newton yang menyatakan bahwa ruang itu bersifat objektif dan mutlak, maka akan didapati sebuah paradoks. Jika sebuah tongkat dengan dimensi panjang 15 cm maka tongkat tersebut akan menempati ruang 15 cm, kemudian tongkat tersebut dilemparkan dan bergerak dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Setiap saat dalam keadaan melayang tongkat tetap berukuran 15 cm berarti tongkat menempati ruang sepanjang 15 cm. Kemudian pengamat mengatakan bahwa berukuran sepanjang 15 cm berarti menempati ruang sepanjang 15 cm dan berhubung dengan itu, maka setiap saat dalam keadaan melayang tongkat tersebut berada dalam keadaan diam.

Dari paradoks di atas bisa disimpulkan bahwa ruang bersifat relatif. Ruang tergantung pada pengamatnya. Ruang merupakan semacam hubungan antara benda-benda yang diukur dengan cara-cara tertentu. Dengan demikian apabila pengukurannya dilakukan dengan cara yang berbeda, maka hasilnya pun akan berbeda.

Pernyataan seperti di atas nampaknya juga dibangun oleh seorang sastrawan muda bernama Badrul Munir Chair melalui puisi-puisi yang ditulisnya. Dalam puisi-puisinya, Chair menunjukan sebuah transformasi ruang yang mengambil bentuk perubahan kesadaran, yang ditunjukkan dalam resistensi aktif terhadap perubahan material yang ada di dalam ruang yang menjadi titik keberangkatan. Kekacauan ruang dalam puisi tersebut dimulai dari api yang membakar rumah yang kemudian menjalar ke seluruh pulau sehingga perjalanan keluar pulau menjadi sebuah keharusan.

Ikan di Sungai Kecil: Subjek yang Berhasrat pada Perjalanan

“You never look at me from the place at which I see you” (Lacan, 1999).

Jika Decrates menawarkan "saya berfikir maka saya ada" dan Jacques Lacan menawarkan "saya berfikir maka saya tidak ada" maka mungkin Chair menawarkan "Saya berhasrat maka ruang ada" . Setidaknya hal itu yang bisa ditangkap dari puisinya yang berjudul Aku Telah Jadi Ikan di Sungai Kecil Ini. Ikan kecil dalam puisi seakan menjadi manifestasi subjek Chair yang berhasrat pada perjalanan. Seperti apa yang dikonseptualkan oleh Zizek yang menempatkan subjek pada garis ”antara”. Subjek dalam puisi ini tersublimasi berupa ikan kecil mengafirmasi lackness – kekurangan/ketidakcukupan subjek akan ruang yang statis, sehingga ikan kecil yang berada di aliran sungai paling nurani muncul sebagai subjek yang ingin dibentuk melalui transendensi penempatannya ke dalam ”ruang kosong”. (Kristiatmo: 2007)

Aku telah jadi ikan di sungai kecil ini
mengawasi pejalan kaki di jembatan tua
dari dasar air paling nurani
dan suara nyanyian nelayan di tepian
menyenandungkan kesunyian purbawi
membawaku terapung ke permukaan
lalu mabuk dalam kefanaan

Dari dasar air yang serupa nurani ikan kecil seakan belajar untuk berhasrat dari pejalan kaki yang melintas melewati jembatan tua. Pejalan kaki menggiring ikan melakukan perjalan menuju permukaan dan meninggalkan tempat yang mungkin merupakan tempat yang paling nyaman dimana si ikan kecil mendapatkan kepenuhan dari air nurani yang berada di dasar sungai. Setelah sampai ke permukaan ikan kemudian menjadi mabuk akan kefanaan. Candu yang diberikan oleh Chair yang membuat si ikan kecil menjadi mabuk melalui manifestasi pejalan kaki yang diamati oleh si ikan kecil. Tindakan melihat si ikan kecil merupakan dorongan untuk melihat (scopic drive). Oleh karena itu, pengawasan ikan kecil tidak lagi semata berada pada posisi si ikan kecil, tatapan tersebut adalah tatapan yang lain. Dengan tatapan itu si ikan dapat mendengar nyanyian nelayan, bahkan dengan tatapan tersebut si ikan kecil dapat menyenandungkan kesunyian purbawi. Dapat disimpulkan bahwa pengawasan si ikan kecil berbeda dengan pengawasan indrawi. Pengawasan yang dilakukan ikan kecil menawarkan sebuah kekosongan bagi subjek, sehingga muncul usaha-usaha guna meraih kekosongan dengan berbagai macam cara.

Kekosongan yang abadi oleh Chair dimanifestasikan melalui perjalanan dalam puisi-puisinya. Dalam puisi yang berjudul Selat Madura, Chair menawarkan antar ruang yang muncul diatara rumah dan bukan rumah. Puisi ini lebih "bercerita" akan Selat Madura dan bukan Madura yang sejatinya merupakan ruang. Jika yang lain lebih menitikberatkan bahwa selat yang hanyalah menjadi semacam penghubung dimana tidak ada ruang yang dapat ditulis secara naratif. Chair menawarkan bahwa ruang hanya muncul ketika seorang subjek berhasrat. Hasrat Chair yang dibangun di dalam kekosongan bertransformasi aktif bersama subjek sehingga memunculkan ruang yang bertansformasi subjektif.

Keberangkatan = Kekacauan Ruang

Ke barat ia pergi, arah yang ditunjuk perantau abadi
di pantai rumah telah terbakar, pulau dikepung api
laut pasang memberi isyarat untuk segera menyeberang
angin seperti lirih bisikan nenek moyang, memberi petuah
nasihat-nasihat yang hidup ribuan abad, serupa gelombang:
“Rumah sejati ada dalam diri, bukan sekadar tanah
dan tempat singgah. Maka pergilah!”

Walaupun dimensi rumah dan pulau dalam stanza pertama tidak digambarkan secara detail, namun secara indrawi rumah di atas pulau dapat disimpulkan bahwa dimensi rumah tidak sama dengan pulau dalam arti rumah tidak akan sebesar pulau. Dalam puisi kebakaran yang terjadi pada rumah dan akhirnya dapat menyebabkan seluruh pulau ikut terbakar, rumah juga digambarkan dalam puisi jika rumah berada di pantai yang notabene merupakan sumber air yang dapat memadamkan api secara seketika. Stanza pertama puisi Chair mentransformasikan rumah dan pulau menjadi sesuatu yang berbanding lurus, jika rumah terbakar maka pulau terbakar, jika rumah bisa untuk bercinta maka pulau juga bisa untuk bercinta. Padahal di bagian belakang pulau mungkin masih ada tempat yang belum terbakar dan bisa untuk ditempati. Sebuah subjektivitas akan ruang dalam puisi sepertinya menjadi sebuah titik tolak sebuah keberangkatan abadi.

Perjalanan yang dilakukan di dalam puisi melalui sebuah gerbang yang merupakan pengejawantahan yang berwujud dari kabut. Gerbang sejatinya adalah bangunan yang menjadi pintu bagi tembok pembatas yang mengelilinginya. Tembok membatasi tempat yang ada di luar dan juga ruang yang ada di dalam. Gerbang merupakan penengah antara tempat di dalam dan di luar ruang. Wujud gerbang yang hanya kabut transparan dan tidak dapat memberikan batasan secara fisik terhadap ruang bisa dibilang gagal sebagai penengah atara ruang luar dan ruang dalam. Hal ini jelas akan memunculkan instabilitas bagi siapa saja yang ada di gerbang tersebut karena terjadi penumpukan antara tempat yang di dalam dan ruang yang ada di luar. Siapapun yang ada di sana pasti akan melihat dunia sebagai sebuah dunia dengan ruang yang absolut dan kemudian membandingkannya dengan dengan segala keterbatasan yang ada di dalam tempat di dalam tembok.

Perjalanan merupakan usaha untuk melarikan diri dari batas-batas yang disematkan oleh tempat. Batas yang disematkan dalam puisi ini adalah api yang membatasi rumah dan juga pulau, sehingga laut yang pasang pun membisiki untuk melakukan perjalanan. Perjalanan ini tidaklah sama dengan perjalanan untuk menemukan ruang absolut dimana dapat melakukan fiksasi atas ruang tersebut hal ini dapat dilihat dari bisikan nenek moyang yang menjelajah waktu dan muncul dalam puisi sebagai nasehat hidup yang berbunyi "Rumah sejati ada dalam diri, bukan sekadar tanah dan tempat singgah. Maka pergilah" . Perjalanan dalam puisi ini lebih pada usaha untuk melampaui batas-batas dan pemetaan dan pencarian seuatu yang lebih sesuatu yang jauh lebih cair. (Upstone, 2009)

Daftar Rujukan

Lacan, Jacques. 1999. The Four Fundamental Concepts of Psycho-Analysis. New York: W.W. Norton and Company.
Kristiatmo, Thomas.2007. Redefinisi Subjek dalam Kebudayaan. Yogyakarta: Jalasutra.
Upstone, Sara. 2009. Spatial Politics in The Postcolonial Novel. England: Ashgate Publishing Limited.


Powered by Blogger.