Arsip Puisi Penyair Madura (Se)-Indonesia

Full width home advertisement

PUISI INDONESIA

PUISI MADURA (SANJA')

Post Page Advertisement [Top]





Khutbah dari Bukit Persemedian

1)
Rambutku kusut
Lebah hutan jiwaku kalut
Namun terus kupandangi malakut
Supaya samudra makrifatku tak surut

2)
Engkau yang  meloloskan kemarau
Akan kusulapkan menjadi kerbau
Hingga tak pernah dengar nyanyian bangau
Awas jangan kau coba sembunyi di ceruk lapau

3)
Jangan dengar rintih jiwamu yang pengecut
Sebab hidup adalah singa yang  membuang  takut
Terhadap karang  terhadap lumut


4)
Maka rebutlah kembali tongkat  Musamu
Untuk mengusir keganasan  ranjau dan sembilu
Meski akhirnya Firaun-firaun tak juga sirna
Setidaknya biar luka batinmu tak terus menganga

5)
Dengan berbekal  ketulusan dan basamalah
Kau tak perlu lagi menimang-nimang  langkah
Karena sesungguhnya hakekat  kemenangan
Adalah berbuncah telaga iman

6)
Sebagaimana Musa yang  mengejar  api
Ke puncak  Thursina kau mesti berlari
Agar  besok dan kemaren bukanlah bay ang-bayang
Tapi kebakaran dalam  pelukan kasih sayang

7)
Karena itu lepaslah sandal ananiyahmu
Agar cadas pegunungan merobek kakimu sampai berdarah
Dan sebagaimana batu-batu malam yang  dipeluk rindu
Kau akan sanggup merubah semesta jadi  senja merah

8)
Dengan demikian kau boleh berkata secara jantan
Wajah sukmaku menjema cahaya
Melampui ketampanan si bulan daru Negeri Kanaan[i]
Karena sampanku telah berlabuh di pulau mawarNya”

9)
Maka seluruh pengembaraanmu akan melahirkan aneka bunga
Yang  berparade membacakan puisi-puisi  pencintaan
Hingga keganasan waktu tak mampu membuatmu renta
Aduhai, betapa manis mencucup esensi kenyataan!

Sungai Gajahwong. 1999


Kuswaidi Syafiie, penyair juga esais. Buku antologi puisinya adalah Tarian Mabuk Allah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) dan Pohon Sidrah (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2001). Sedang kumpulan esainya adalah Tafakur di Ujung Cinta (Pustaka Pelajar, 2003) dan Sepotong Rindu untuk Kanjeng Nabi (Pustaka Pelajar, 2005).

Catatan Si Tukang Arsip: puisi ini diketik ulang oleh Haryono Nur Kholis dari kumpulan puisi Lirik Lereng Merapi – Antologi Puisi dan Geguritan (Yogyakarta: Dewan Kesenian Sleman, Februari 2001). Puisi ini juga termasuk dalam antolgi puisi tunggal: Kuswaidi Syafi’ie, Pohon Sidrah, (Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2002), hlm. 99-101


[i] Julukan untuk Nabiyullah Yusuf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]

| Blogger Templates - Designed by Colorlib