LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Moh Suliyadi di Radar Surabaya minggu, 23 November 2014




”Salam Hormat
untuk Pak Jokowi”

Salam harum penuh pesona
Salama sapa penuh makna
Aku terpesona karena istananya

Namun
Masih ingatkah engkau pada suara
rakyat kecilmu ini
Lihatlah dibelakangmu
Aku hanya seorang pemulung janjimu
Menjadi pengemis jalanan
Tanpa memikirkan waktu kelelahan

Wahai Pak Jokowi
Tak ku sangka jika jeritan hati ini
Sedang berlumur dalam
Menyimpan kotoran dalam kalbu kehidupan
Dan perlu engkau bersihkan
Hingga aku tak mengenal kesengsaraan
Melainkan dikerajaan
Dipenuhi dengan kesenangan bukan penderitaan
Wahai Pak Jokowi
Ku persembahkan indonesiku
Hanya kepadamu
Berharap ada sejuta kemajuan
Ku percayakan indonesiku padamu

Tuk memetik keadilan dinegri ini
Berharap ada ranah keadilan
Ku serahkan segalanya padamu
Tuk kau ukir indonesiaku

Wahai
Pak Jokowi
Di istana Presiden Jakarta
Dengarkanlah keluh rakyat kecilmu ini
Yang sampai saat ini belum pernah menemukan
Secuil keadilan dinegeri ini.
Selamat beraktifitas Pak Jokowi

Kutub 2014


”Indonesiaku
Tak Mengenal Lelah”

Kau berdiri angkuh dengan nalar darahmu
Mengalirkan kepijakan yang pasti
Namun
Bisakah engkau torehkan pekat jasamu
Yang telah terlukis dalam buih yang menjulang
Begitu besar akar jalanmu
Menumpuk dalam dermaga yang rapuh

Tak heran jika kau semakin menalar
Karena engkau tak pernah mengingat penat
yang engkau tempuh

Jadilah satu untuk
menguras jalan yang pasti
Menjadi sang penyair dikalangan semu
Aku akan menunggu
Hingga engkau tak mengenal jemu
Melainkan kemajuan yang tertera

Kutub 2014


”Aku Bangga
dengan Indonesiaku”

Lama telah ku pandang
Warna merah putih berkibar sebagai tanda
perjuangan
Merah melambangkan tanpa mengenal kelelahan
Putih bertanda kesucian
Dengan dua warna yang penuh makna

Aku tersenyum sendirian
Melambaikan tangan dikediaman
Berharap ada sejuta kibaran
Yang menghasilkan pemahaman
Tanpan ada pengelembungan
Bukalah ranah jasamu
Biarlah yang silam menjadi cahaya gemilang
Dan lukisan menjadi tanda
Atas kemajuan yang tak terhingga

Kutub 2014


”Jakartaku”

Engkau ditempatkan sebagai
Istana megah presidenku
Engkau berjumbu rayu dengan keadilan
Menjadi hasutan dikediaman fatamorgana
Disana engkau terlihat gagah
Saat getaran hati menjelma keindahanmu

Namun
Bisakah engkau bertahan
Seperti dahulu kala
Yang terlihat:
Angkuh
Gagah
Pemberani
Pembrontak
Dan penuh tanggung jawab

Jakartaku
Engkau melahirkan sejuta inspirasi
Yang selalu mencetak inovasi
Karena saat itu engkau berimajenasi
Sehingga revolusi menjadi iringan
yang produktifikasi

Jakartaku
Biarlah semua itu tersimpan dalam ibu kotaku
Berharap mampu medindihkan penat
yang mengepu
Sehingga tak mengenal membelenggu