LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Irza Nova Husna dalam Kumpulan Puisi "Si Mata Kucing"

Perancang sampul: Joko Sucipto.
Terik Bincang Pak Teban

Uap panas aspal menembus mata
yang semakin mengerucut di bawah matahari.
Kutemui tubuh Pak Teban termenung dengan
wajah menghadap lutut. Menunggu
lubang-lubang ban bersuara.

Aku meneduh di bawah tenda, menyapanya.
Senyumnya mulai berbicara hangat.
Kudengarkan pesan bibirnya. Tiba-tiba
matanya menamparku.
Tercengang tubuhku menatapnya.

Sampai kapan kau akan menelan batu di kerongkonganmu?
Muntahkanlah, tinggalkan ia
yang begitu keras untuk kau makan.
Tak pantas hatimu mencerna benda itu.

Kujatuhkan pandangan.
Aku hanya tersenyum, bergumam dalam hati,
“Andai saja bisa.”


Judul Tidak

Nova, dia telah kusebut tiada.
Hanya tertinggal jiwanya yang semakin menggila.

Kenapa tidak kau biarkan saja aku menghilang
seperti angin di ambang mata? Kusut darahku
yang menjinak telah cukup terperas.

Lihat saja bungkusan cindera mata
yang kuisikan dua puluh genggam rontok
rambutku yang menguning.
Gugur dari kepalan kepalaku.

Tapi, simak saja sejenak.
Akan kutunjukkan padamu diriku
yang menyangkar tubuhku lebih liar dibanding
gemulai celurit di tanganmu.

Untukmu, aku pinta.
“Buanglah namaku baik-baik.
Itu saja.


Bau Daun Kering

Tercium sudah semerbak itu
dedaunan kian hendak melepaskan diri
Tak ada ranting kayu yang menatap haru
hanya daun kering menyapanya tanpa arti.

Rapuh sudah genggamannya
layu sudah harapannya
bahkan kasihnya pun mulai tiada
merasakan diri semakin tidak berharga.

Lepaslah semua keindahan itu
tak tampak rasa sesal dari sang benalu
membiarkan daun itu jatuh terpuruk
menyaksikan kisahnya yang terburuk.

Irza Nova Husna, lahir di Bangkalan tepatnya pada 27 Agustus 1996. Beralamat di Desa Galis Kabupaten Bangkalan. Bergabung dan aktif di Komunitas Masyarakat Lumpur dalam diskusi seni, penulisan kreatif, dan keaktoran. Spesialis  monolog  dan  musikalisasi  puisi  ini selain aktif berkesenian, kegiatan sehari-hari adalah sibuk berkuliah di STKIP PGRI Bangkalan sebagai mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kreativitasnya yang lain adalah melukis dan membaca apa saja yang terkait dengan sastra. Puisinya pernah termuat dalam antologi bersama Permohonan Minoritas (2016). Antologi puisi tunggalnya yakni Si Mata Kucing (2016).