LABANG ARSIP

Puisi Selendang Sulaiman – Suara NTB (17 Oktober 2015)



Somor Sadri

Danau kecil musim hujan, abu-abu warna airnya
Di tepinya ratusan pohon mente berbuah ranum-ranum
Merah-kuning ngocernang menantang perasaan
Di kejauhan burung coccorong teriak-teriak kkenyangan

Petani lalu lalang nimba air dialirkan ke ladang
Sepasang sapi gagah membersihkan tubuh dan lelah
Dengan lidah dan ekornya sekuat cambuk rotan
Dan anak-anak asik memancing ika kiriman surga


Alam bernyanyi dalam tiupan angin barat
Kicau burung-burung pada siul-siul gembala
Percakapan ringan mengalir santun sepoi-sepoi

Kehidupan yang diberkati alam dan kerja keras
Serta doa-doa yang diantar dengan sesajen
Demi kehadiran berkah dan musibah keberuntungan

Januari 2014

Perempuan Hujan

kau selalu berucap “aku mencintai hujan”
tentu kau selalu merindukannya dan betapa,
hujan begitu patuh pada ucapmu yang teduh
lantas, kau kirim hujan padaku bersama rindu

di awal november, hujan deras-derasnya
entah di tanah siapa kau berlarian penuh cinta
meyanyikan melodi daun-daun akasia
kuayangkan kamu dari balik jendela tua

“aku mencintai hujan dan kamu mencintai puisi
buatlah hujan menjadi soneta agungmu buatku!”
pintamu tersampaikan angin menggigil

seperti orkestra hujan di sawah-ladang
suaramu bergema di liang sumur jiwaku
menyuburkan air murni ke desa-desa

2013

Numpak Kereta Maut

sebelum subuh memanggil kereta maut
aku tersentak dari tidur ashabul kahfi
kukibaskan mimpi purbakala dari ujung rambut
ke perut kota-kota terbakar api tirani

kereta tiba tanpa intaian malaikat maut
di stasiun beku bersalju dalam fiksi
aku turun bersama tubuh-tubuh dingin
berwajah mitos dan takhayul ratu adil

tiba-tiba isi kepalaku meleleh ke minimarket,
mengalir ke kursi-kursi tunggu
lalu menggenangi ruang atm

astaga, sekian mata memalingkan nyalang
pandangnya yang dipenuhi status
dan foto profil yang sekejap dan sia-sia

Juni, 2014/2015

Soneta “Bayangan Merak” sama dengan soneta “Menghadirkan Bayangan Merak” yang dimuat di Minggu Pagi.