LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Rifky Raya di Radar Surabaya Minggu, 18 Februari 2018


Diambil dari "Abstract Painting".

SURAT DARI KAMPUNG

Kepadamu, aku kirim malam-malamku lewat hujan
Di lubuk sunyi, masih kusimpan sebuah halaman yang tenang

Di tanah ini, tak lelah aku berbaring menikmati aroma laut
Menyeruak menjadi nafas bagi hari yang kian ngeri
Di dadaku, matahari senantiasa terbit dan menyala
Dari balik bukit dan rimbun hutan yang hijau

Sedangkan kau selalu sembunyi di balik suara sirine
Menimbulkan kecemasan dan ketakutan-ketakutan sementara

Di tengah ladang yang subur, takkan gentar aku berdiri
Sambil mengusir burung-burung yang gelisah
Mendengar kabar dari kejauhan
Tentang nama-nama yang tersesat di tengah kota

Kepadamu, aku kirim hari-hariku yang biasa
Di kedalaman nurani, kupanggil kau dengan sejumlah doa

Sumenep Madura, 2016



PADA SUATU HARI YANG LAIN

Pada suatu hari yang lain
Engkau tiba-tiba mucul
Dari balik kenangan paling hitam
Menulis isyarat bunga-bunga
Menjadi sekuntum tanya
Yang bertabur di persimpangan jalan

Sementara, aku mulai membaca tafsir
Di antara angka-angka yang berhenti mengalir
Sambil berjalan keluar, mencari suara-suara
Atas nama engkau yang tegak di balik kaca jendela

Engkau telah menjelma hari yang teramat ngeri
Tanggal-tanggal dan almanak terlipat, menegaskan kalimat sepi
Engkau seperti berputar di atas bayang-bayang
Ke dalam hutan aku bersembunyi, menerima ketersesatan ini

Entah, sampai kapan keterasingan ini akan berakhir?

Kepada langit, aku telah berbicara atas namamu
Menyempurnakan rahasia yang bekabut di dadaku
Sedangkan engkau masih selalu berbisik
Di antara pecahan-pecahan sukmaku yang lelah
Mencari satu jalan, menunggu satu kesimpulan

Sumenep, 2016



LELAKI PUISI

Masih kucari kelembutan bahasa pada mataku yang nanar
Membuka rahasia langit, mengintip bulan sabit di daun jendela

Sunyi yang samar, masuklah dalam tubuhku
Melarung ingatan, memecahkan kaca menjadi kata bagi sebuah luka

Masih kucari keindahan bahasa pada doa-doa yang dipanjatkan
Di malam yang ke tujuh, agar puisi menyatu dalam ruh

Tanganku gemetar menghitung kata-kata
Pada jarum jam yang berbicara, meletup-letup di dada

Sumenep, 2016



LELAKI MALAM

Ia berdiri di balik bayangannya sendiri
Sambil mengintip jendela yang terbuka
Ada bulan menggantung
Seumpama puisi yang tak sempat diungkapkan

Ia menyebutnya sebagai tanda
Mengetuk kesunyian yang gelisah
Sepanjang waktu bersembunyi
Kemudian berputar di persimpangan malam

Ia menengadah, membuka jalan ke langit
Memejamkan doa-doa yang bergetar
Memuja setiap inci rindu
Yang menuliskan bermacam angka-angka

Ia terus berdiri, membelah diri
Sampai akhirnya, terlelap dalam puisi

Sumenep, 2015-2016

Rifky Raya, lahir di Sumenep Madura. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Karya-karyanya berupa puisi dimuat beberapa media dan antologi bersama, antara lain: Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016), Lubang Kata (2017), The First Drop Of Rain (2017) dll. Di pesantren, pernah aktif di Sanggar Pangeran, Teater Kotemang, Sanggar Andalas. Saat ini bergiat di Komunitas Pelar Sumenep. Instagram: rifkyraya_