LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman di Indopos Sabtu, 5 Maret 2016



Sumber: Abstract Painting, Jason Twiggy Lott


Anak Madura

aku tak menghendaki puji-pujian
sebab aku bukan dewa matahari dan bulan
aku hanya setetes air jiwa milik ibunda
dan setetes peluh kental di dada ayahanda

aku anak tunggal atas nikah darah dan madu
di pedalaman kampung berpagar alam
saat langit semarak oleh tayangan purnama
sepanjang malam pesta digenapkan

udara senyap, embun lenyap
menyublim ke tubuhku dan ari-ariku
terbitlah matahari bersama tangisku

maka adaku kini adalah air mata
di pelupuk matahari dan rembulan
aku hilang dalam diri sendiri

2014-2015


Api Pertunjukan

wajahku, terbakar api pertunjukan
pada lidah dan bibirmu – api pertunjukanmu
telingaku tersumbat lengking suaramu
lalu jerit dalam dada – lenyap memanggilmu

jari-jari tanganku leleh ke tanah
sebelum sampai pada sentuh
di lengan dan pipimu yang tiada
astaga, aku sendirian rupanya!

tapi, api pertunjukan itu telah bakar segala
suara yang melengking memecah apa saja
dan dadaku telah menyaksikan segalanya

sebentar, sempat kupastikan kau nyata
sebelum akhirnya kau lenyap tiada
ke dalam kalbu paling dasar

2014-2015


Kelana dari Tanah Coklat

orang bilang, aku kelana dari tanah coklat gersang
ringkih dan gelap, mataku penuh intaian laknat
pada bilah bibir gemetar terucap kata-kata kecut
dan aku masih berjalan penuh awas tanpa takut

di sebuh jalan bercabang aku diam sebentar
untuk mengingat lagi sebuah peta yang kuhafal
ya, jalan yang bercabang adalah tangan cinta
aku pun berkemas untuk memasuki dlamnya hati

sukmaku sedang sendiriam, ditingal pasangannya
bayangan menari letih di lantai penuh air mata
siapa telah menangis di ulu hatiku, ini?

degup jantung memantulkan sukma padaku
di jalan bercabang yang kutemukan jalanku
pergi tanpa cinta untuk cinta yang lain

2014-2015

Selendang Sulaiman, Lahir di Sumenep, Madura 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa lokal dan nasional. Juga dalam antologi Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), dan lain-lain.