LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Ahmad Kekal Hamdani di Indo Pos, 22 Juni 2013



Nameless and Faceless – An Impressionist Painting in Acrylic Media on Paper. Diambil dari Google.

TELAGA RUH

tidakkah kau dengar, bumi yang tidur
wajah murniku bangkit
dari gerisik pohonan
ketika burung-burung terlelap
dan memimpikan sayapnya
menjangkau langit yang lain
waktu yang purba dan jelita
adalah lautan tanpa batas, aku berlayar
di atas tubuh-tubuh kayu
mencari rahasia gerak
kala bintang retas dan menjuntaikan akarnya
ke mataku yang buta

aku menelusup di sela angin
yang menggengam desir
memecah sukma
menanggalkan nama-nama
meruntuhkan yang tersisa di wajahku
dan menyangsi yang kelak lahir
dari mabuk kehilanganmu

Yogyakarta, 2013 

SAJAK

(risau gugup yang menyanyikan musim
dan mendekapi kemabukanku)

adalah padang dahagaku
tempat kutanam pohon kesedihan
sulut langit yang meminta airmata lain
dari doa-doa lautan pada bumi
yang memeluknya

adalah sayap rinduku
kelepak elang di kening hutan
dada ngarai yang mencari gema
bagi segala kidung dan tangisan

adalah tangan cintaku
sayap senja pada tanjung-tanjung
berpelukan kapal-kapal baja
dari pulau asing dan jauh

adalah jiwaku
gunung api menyimpan panas bumi
tungku zaman yang mendekap hangat
silam abad yang renta
mengalirkan padamu
sungai-sungai masa lalu
ke hutan-hutan perawan
ke kota-kota yang ditinggalkan.

Yogyakarta, 2012 

SENJAKALA

gerbang waktu yang membuka palungnya
menerima matahari. melepas arwah bangkit
dari tidur bunga-bunga

satu dua camar memucuk kenangan
lautan yang resah menikam detik-detik istirah

lalu engkau turun telanjang
mencelupkan kaku ke dadaku yang hampa
matahari rebah ke lahat bumi
mencair ke mataku yang sunyi

2012

Ahmad Kekal Hamdani, penyair berdarah Madura ini lahir di sebuah panti Katolik di kota Jember 5 Agustus 1987. Tahun 2000 hingga 2008 menghabiskan waktunya belajar di beberapa pesantren di Madura, sebelum akhirnya hijrah ke Yogyakarta. Menulis puisi dan esai sastra-budaya. Tulisannya tersiar si media massa lokal dan nasional seperti Horison, Basis, Suara Medeka, Jawa Pos, Minggu Pagi, Bali Post, Majalah GONG, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, dll. Puisinya termasuk dalam antologi Pedas Lada Pasir Kuarsa (TSI Bangka-Belitung, 2009), Antologi Puisi Musibah Gempa Padang (Kuala Lumpur, 2009), Pesta Penyair Jawa Timur (Dewan Kesenian Jatm,2010), Narasi Tembuni (KSI,2012), dll. Sejak akhir 2008 bersama kawan-kawan membangun komunitas-Masyarakat Bawah Pohon Yogyakarta. Selain menulis, aktivitas senggangnya adalah melukis, kini mukim di Pamekasan.