LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Sengat Ibrahim dalam antologi puisi Bertuhan Pada Bahasa Januari 2018


Cover: sukutangan

Obituari Waktu
15:15
dewi kenangan
sebelum kematian benar-benar membunuhku
aku ingin mengajari padanya merasakan kematian itu.
Barangkali benar aku hidup tanpa alasan
tapi aku tak pernah merelakan hidup nerakhir seperti
kenangan
sebab kenangan adalah kemenangan lebih menyakitkan
daripada kekalahan.

dewi kenangan
maka pergilah sejauh mungkin
dalam sajakku kau tak mungkin mampu berpaling.
Hari Jum’at 24 Maret 2017, Yogyakarta
15.26
sore dewi kenangan
apa kabar masihkah kau
menyediakan tempat penginapan
bagi lelaki pengembara yang sejak lahir menghindari
medan perang?
di langit awan berwarna samar
dan sangat sulit kujelaskan melalui bahasa
aku merasa putih agak legam
agak hitam
agak kekuning-kuningan
juga nyaris kecokelatan
jika kau tak paham sudahlah
berarti langit sedang kacau tapi bukan perasaan.
wahai dewi kenangan
bisakah kau tebak hal apakah yang ingin kusampaikan?
aku sedang tidak berhasrat mengatakan apa-apa
tapi segala apa selalu berisik dalam pikiran
tentu sangat menggelisahkan.
aku hanya berada dan menjadi bagian dari perasaan senang
menuliskan sesuatu
meskipun dengan bahasa kacau seperti sketsa seperti langit yang
aku tulis barusan
itu bukan kalimat pembukaan dewi kenangan
kau jangan salah paham
itu merupakan kalimat akhir dari pengembaraan
kalimat awal dari rasa ketakutan
kalimat yang gagal menampung hakikat kerinduan.
Hari Jum’at 24 Maret 2017, Yogyakarta
16:25
dewi kenangan
gerbang kota memberi salam sebelum aku mengenal pulang
mungkin sebentar lagi senja bakal ikut-ikutan
dan pohon-pohon akan menghitam
kemudian
aku mengatakan malam
pada suasana yang mengajari kaki berdiam
mata terpejam.
Hari Jum’at 24 Maret 2017, Yogyakarta
16:29
dewi kenangan
aku berada di ruangan dengan buku-buku dan di depanku tiga
perempuan
mengirim kematian bagi sajakku
yang belum sepenuhnya terlahir.
barangkali
ia tergelincir sewaktu naik jalan pembatas langit
dan gunung
atau ia terlalu lelah hingga harus tidur selama tiga puluh tahun
penuh
atau
ia sudah muak dengan muka-muka terluka
sebelum ia diunggah kepada bunga.
tiga perempuan ini bukan dara
dua berkerudung
satu dengan rambut menjurung
hati memanggilnya perempuan kota
karena mulut tak berani menanyakan perihal nama
selebihnya terserah pembaca menamainya apa.
Hari Jum’at 24 Maret 2017, Yogyakarta
16:55
dewi kenangan
aku menenangkan posisi duduk sesaat matahari
membungkuk
pada mata sipitku.
di kejauhan
di jalan pertigaan yang menyediakan arah lurus menuju
selatan
sedang ke arah barat berkelok-kelok serupa rambutmu
sebelum mengenal catok
ke arah timur lurus sedikit kemudian membuncit.
Aku melihat kesibukan-kesibukan bergegas pulang
dan aku bersiap-siap mengambil ancang
mencatat beribu tanda dari
datangnya malam.
Hari Jum’at 24 Maret 2017, Yogyakarta
20:23
malam dewi kenangan
malam telah tenang
matahari sudah lama terbenam
barangkali ia sudah berenang bersama ikan
atau
bertemu Tuhan sambil meminta bila esok
bangkit diberi jalan lain
sekadar mengusir perasaan-perasaan bosan
tapi
bagaimanapun ia tetap seperti diriku
berjalan-jalan dan tak kunjung menemukan arah pulang.
setiap waktu ada yang meminta ciuman
setiap saat ada suara terdengar
antara bisikan dan panggilan
dan kebenaran masih setengah dari pertanyaan.
Hari Jum’at 24 Maret 2017, Yogyakarta


21:06

dewi kenangan
meski sajakku tak punya suara
lihatlah betapa tubuhnya terbuat dari beribu-ribu ancaman
ibu kota-ibu kota seluruh dunia terjebak di dalamnya
seluruh makhluk semesta dibuatnya terkesima.

bila datang malam dewi kenangan
apakah aku juga bagian dari malam?

di atas kepalaku
di teras dari bangunan berkeringat
langit menghampar serupa selat mengurat bumi
meriangkan seluruh jagat
segalanya seolah terlihat maha atas tapi sebenarnya
maha sekarat.

di atas kepalaku
sinar lampu philips 10 watt menjilat menampar warna gelap
beberapa meter dari sini pandangan terlihat jelas
serupa wajahmu memancar mencari jalan keluar
dari kenangan.

masihkah aku menjadi bagian dari malam
sedang aku begitu gemar begitu mahir mengusir gelap?
Malam Sabtu, 24 Maret 2017, Yogyakarta
01:01

dewi kenangan
aku ingin jadi angan juga angin merasuk dalam tubuhmu
yang selalu gagal menjauh sebab kau selalu butuh.
Rabu dini hari,  29 Maret 2017, Yogyakarta
01:05

dewi kenangan
aku melihat cinta sejati adalah tai
yang hadir hanya untuk mengenal pergi.
Rabu dini hari,  29 Maret 2017, Yogyakarta
01:10

dewi kenangan
sebelum tidur mintalah mimpi buruk
kepada Yang Maha Menciptakan
sebab yang indah selalu sebatas bayang.

Rabu dini hari,  29 Maret 2017, Yogyakarta
09:33

dewi kenangan
sesekali sebelum mengenal sesaat
setelah aku berhenti menjadi manusia waras
aku sibuk mengajari waktu mengenal tidur.
Rabu dini hari,  29 Maret 2017, Yogyakarta
23:34

dewi kenangan
aku masih dalam kamar
duduk sendirian mengejar ketertinggalan
menikmati segala macam kesempitan.

pada sebuah angan yang selalu menjalar
aku mengembara
terus
mengembara ke arah timur
ke arah kau mengukur pandang
ke batas kau mengahkiri khayal.
Jumat malam,  07 April 2017, Yogyakarta
00:00

dewi kenangan
segelas kopi mengajariku
bagaimana menelan rasa pahit dan manis dalam hidup
pada waktu bersamaan.

hidup adalah keberanian menikmati penderitaan
penderitaan adalah jalan kebenaran menuju Tuhan.

maka aku berlindung pada penderitaan
dari segala godaan nikmat yang terkutuk.

Jumat dini hari,  08 April 2017, Yogyakarta
00:11

dewi kenangan
bahasa telah mampu mengajariku melupakan semuanya
kecuali benang-benang cinta yang mengikatku pada
segalanya.
Jumat dini hari,  08 April 2017, Yogyakarta
02:18

dewi kenangan
buku-buku membesarkanku tanpa melalui puting susu
di dalamnya
kata-kata membawaku ke luar kota
mengencingi cahaya

juga
memberiku peta bagi pengembara

tapi
pengembara tak butuh pada peta

sebab
ia bukan sedang mencari kota.
pengembara mencari penghapus ketakutan
ketakutan yang menjelma Tuhan.

Sabtu dini hari,  04 Mei 2017, Yogyakarta
15:37

dewi kenangan
kesalahan terbesar dalam hidupku
jika aku tak mencintaimu.

sekali waktu
mungkin aku masih layak dipanggil sebagai lelaki
lelaki yang tak tahu cara berbagi juga cara terbaik
menyendiri
sebab abai pada ilmu tata-cara meninggalkan dunia ini.

aku suka melihat apa pun yang tak pernah tidur
di malam hari
semisal melihat bayanganku sendiri
atau
kelelawar
juga
anjing belang tetanggaku yang nakal
dan
gunting bergigi tumpul
asbak yang masih mengepul
mereka semua adalah lawan satu sama lain
memilihku sebagai teman bagi kehilangan.
Hari Sabtu,08 April 2017, Yogyakarta
13:45

dewi kenangan
jika engkau adalah kesalahan
semoga aku tak bertemu kebenaran.

sebelum itu, mungkin dua tahun berlalu
aku ingin belajar menjadi pemalas dalam mencintaimu.

setelah kata-kata cukup mampu membebani perasaanku
atau setelah seluruh rasa aku yakini sebagai rindu.

dewi kenangan
sekarang bulan purnama
semua benda menggantang seolah menawarkan makna.

aku masih suka sendirian abai pada seluruh jadwal
pertemuan
mungkin di luar sana peristiwa kematianku sedang
direncanakan.

oleh sebagian orang yang tentu dirimu terlibat di dalamnya
sungguh tak kenapa di mataku hal itu bukan perkara
sia-sia.

tapi tolong jangan bilang aku sebagai lelaki pengangguran
sebab mencintaimu adalah pekerjaan.

Hari Sabtu,  08 April 2017, Yogyakarta
Abe’

akulah doa ibu yang berjalan
menyeduh kemarau menakar hijau pulau.

menembus dasar laut kelam
merumrum nikmat sakit, riangkan malin kundang.

akulah doa ibu yang berjalan
dari waktu ke waktu, menanam desa di tubuh kota
memetik bunga lena, dalam bacaan
sadar diri lebih rendah dari yang tak berguna.

akulah doa ibu yang berjalan
menepi abadi dalam sajak.

menapas sepi, berobat ramai
larikan tidur dari malam.

bertuhan pada bahasa
berlindung pada cinta.

Cabean, Yogyakarta 2016
Menjadi Dewasa

menjadi dewasa adalah kutukan sayang
semua waktu serba menjadi perhitungan
jalan-jalan hanya mengenal pulau kecemasan.

sementara kepala dipenuhi peluang:
antara menyingkirkan dan menciptakan
tapi lupa cara mempertahankan.

menjadi dewasa adalah kutukan sayang
semua ruang termasuk rindu terasa membosankan
sesuatu yang sebenarnya mudah dibilang susah.

dan telinga-telinga mendengungkan rahasia
semua mata menatap penuh curiga
sementara kaki mereka tegak tanpa kuda-kuda.

barangkali mereka lupa bahwa adakalanya
sebuah rencana bisa berubah menjadi bencana
serupa arus listrik: bisa memberi sekaligus mengakhiri.

menjadi dewasa adalah kutukan sayang
semua peristiwa hilang sebelum menjadi kenangan
sementara kesia-siaan mereka bilang sebagai sebuah firman.
Cabean, Yogyakarta 2016
Dramatik Hidup
Michael Damian

aku ingin mencari permainan
yang bisa menghindar dari keseriusan hidup
seperti meramaikan lagu dengan biola di sebuah pagi

di sepanjang lorong kota atau di kedalaman sebuah desa
di mana kau dan aku perah berjalan tanpa sedikit pun
tergesa.

aku ingin selamanya memainkan biola
membantumu paham kenapa orang sepertiku
harus tidak berhenti melagukan bahasa cinta

sambil asyik membangun kastil dalam ruang-ruang imaji
di mana segala hal yang katamu mustahil dapat kunikmati.

aku hanya ingin bermain sekali lagi
tanpa merencanakan yang bakal datang
atau menyesalkan sesuatu yang telah pergi.
Cabean, Yogyakarta 2017
Dramatik Bacaan
Brian Klugman & Lee Stemthal
barangkali benar aku sebatas bahasa
dari padakulah segalanya akan bermula.

barangkali benar aku sebatas abjad
dari padakulah segalanya terikat.

barangkali benar aku sebatas huruf
dari padakulah segalanya hidup.

bagaimana mungkin kau menghindar
sedag Sang Pencipta saja memakai.

Cabean, Yogyakarta 2017
Aku dan Petani

petani pergi ke ladang
aku pergi ke kesunyian.

petani menancapkan cangkul
aku kejar dengkur di kasur.

petani membunuh hama
aku membunuh luka.

petani mandi peluh
aku mandi keluh.

petani menyeruput kopi
aku membakar mimpi.

petani sembahyang
aku masih cari jalan.
Cabean, Yogyakarta 2016
Tanah Kandung
-Tanodung-

tubuhku bentang ladang
berlereng panjang.

napasku silir-semilir
angin selatan.

dagingku sungai leke
tulangku derai shomber tengnga.

di mana, dewi sri
membangun istana.

dan para petani
berkat bercocok tanam di sana.

rambutku
daun menjuntai
siang malam.

kakiku lilit akar—
panjang sigap menahan
mengibas gersang
meragut lajur pandang.

demi masa yang penuh jebakan
tempat kemarau dan hujan berpelukan
mereguk luka-bahagia dalam kehidupan.

Yogyakarta 2016
Dzikir Kehidupan

ketika mulutku melafadzkan namaMu
pikiranku berisi pulau kekosongan
hatiku dipenuhi lautan pertanyaan
mataku dikerubungi pesona alam.

barat telah mengutukku menjadi manusia liar
seliar Maha Engkau yang tak bisa kujangkau
siang-malam aku tekun menguliti bacaan-bacaan
mencari Maha Pencipta yang tak dikaruniai kesibukan.

oh, kekasih segala ciptaan yang diragukan
katakan dengan cara apa kita bisa bertemu?
apakah dengan cara berperang seperti yang
dilakukan orang israel terhadap palestina?

kekasih, jika dalam sajak kita dapat bercumbu
maka tenggelamkan aku
seperti Muhammad Saw menerima wahyu
dan kedamaian pun menemukan pintu.
Cabean, 2016
Telegenik Perempuan dalam Sajak
aku melihat kecantikan tumbuh tanpa melalui harga
hiduplah kau sepanjang usia kata.

kau betah berlama-lama di sini.
bangun pagi tanpa susu
tidur malam tanpa lagu.

kesendirian kau tidak dapat diganggu
kau racun menjelma madu masuk dalam
botol-botol minuman paling digemari hawa.

aku pernah juga melihat kau menjadi serigala
menyerigai—pada daging-daging yang mencoba
mendatangiku atau didatangiku.

terakhir kita bertemu
kau menjadi bom di taman itu
aku gemetar kalau-kalau kau mendekat.

kita duduk tanpa rapat-rapat
dan aku tidak pernah berubah lagi
kita pun menyendiri dalam sepi yang sakit.

Yogyakarta 2016

Sengat Ibrahim, pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY). Lahir di Sumenep Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Sekarang tinggal di Yogyakarta.Puisi-puisinya terbit di beberapa media massa. Juga terangkum dalam beberapa kumpulan antologi bersama. Sementara antologi puisi tunggalnya Bertuhan Pada Bahasa (Basabasi, 2017).