LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Daviatul Umam di Sumut Pos 8 Januari 2017



Lukisan: Saburo Miyamoto, Surprise Attack of Naval Paratroops at Manado, 1943, cat minyak di atas kanvas, 189 x 297 cm (National Museum of Modern Art, Tokyo).


Merindumu Pilu

di atas kabut rumah
cakar petir mendarah-darah
dari pekarangan dedaunan mengibas-ngibaskan
rindu pada getar getir ranjangku
tubuh bersadai dalam pekat angan
lelap dalam gelembung angin gelap

malam bertanduk biadab
menggiring sukma
ke ketinggian surga bernama cinta
sang bidadari merentang selendang kesenangan
begitu panas melilit iman
namun secepatnya ia lesap
diisap segerombolan awan
seiring mata terbuka berandai-andai
andai-andai yang sekian lama bertengger di ranting kalbu
yang setiap perempuan membeliung di jantung
kuat-kuat mencengkeram selalu

oh! di manakah detak pijakmu ya hawa?
telahkah dekat akan gerbang karatku
yang hujan ke hujan dibiarkan berlumut kalut?
larilah larilah larilah!
batu yang kududuki terkelupas sudah tabahnya
september demi september menghanguslah hati ini
tak tahan lagi dipanggang sunyi

Sumenep 2016

Cahaya Kelahiran

tanggal sebelas bulan sebelas
ini sajak kutetas
tanda desau bahagia atas
jumat kliwon yang telah selamat
meneteskan derai impian
tepat saat riang-riangnya wirid
digoyangkan para malaikat
di mana kesunyian alangkah kental dan likat

satu jam hanya yayan menderu badai kelabu
lalu mendenyarlah semesta di malam biru mata itu
hujan hamdalah meruah-ruah
sudah jatim petik kini salah satu bintang surgawi
yang sedari dulu ia cari
di antara gundukan-gundukan sepi

ada manis ada iris
beraduk-aduk di jiwa terjeluk
lantaran api nestapa menjulang ganas di ubun mereka
tapi inilah cuma pemberianku
“kelak si buah hati jadilah fajar nan berpijar keemasan
menyinari reruangan yang sesak oleh mudah-mudahan”

Sumenep 2016

Bulan Gelamai

sehabis bulan bubur kabur
saatnya dodol kini dicipta
atas tabah tungku dapur
merawat ketat jejak jemari moyang
salah satu cara kasih-sayang
supaya kesantunan selalu pasang

tepung dan santan berbaur kental
ajarkan sesama tetangga
menyatukan jiwa putihnya
napas api membuat keringat kami mengkristal
makna hayat betapa kobar dalam kepala

inilah dodol kebanggaan kampung kami
sesederhana mungkin menjelma mata sabit
mari cicipi yang di balik aromanya
tumbuh suatu sari arti
kerukunan terlampau manis
ketimbang sengit cubit-mencubit

Sumenep 2016

Musim Tanam

sepasang sapi betina begitu tabah
cut dipecut menenggala ladang impian
berjalan meniti gemeretak waktu
yang tiap pijaknya membekas di benak kami
bekas juang untuk kami haturkan
kepada cicit dan cicit nanti
agar tetap mengalir kesejukan air mata tani

kami tanam benih-benih harapan
antara tanah yang tunduk lemas
jua tikaman surya nan amat ganas
kelak semoga tumbuh utuh sebagai keberkatan
menepis bengis
menolak congkak
dan hama-hama lain
yang dapat mengikis kehijauan batin

ada kalanya kami istirah
kopi diseruput
rokok disulut
serupa hujan membangkitkan gelora pohonan
tulang kami merah menyala seperti semula
usai dipadamkan rinai keringat
angin berduyun membasuh letih
sesegar beburung di pagi embun
berdiri lagi kami menantang perih
melawannya dengan raut santun

Sumenep 2016

Remang Perjuangan

menanggalkan siung matahari
untuk tubuhmu yang seangkuh besi
menepis murka hujan dengan baju usangmu
yang menyerap berbagai aroma kotoran
arit di kanan
api di kiri
kau tantang kemuskilan
kau serang halimun nasib
tebas batang-batang pongah
bakar duri-duri kesah

nenek!
akukah cucumu?

Sumenep 2016


Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa ini merupakan mantan Ketua Umum Sanggar Andalas, sekaligus aktivis beberapa komunitas teater dan sastra lainnya. Sebagian karyanya dipublikasikan di sejumlah buku antologi bersama serta media cetak dan online. Sesekali juga dinobatkan sebagai pemenang atau nominasi di antara sekian lomba cipta puisi, lokal maupun nasional. Berdomisili di Poteran Talango Sumenep, Madura.