Puisi-Puisi Anwar Noeris di Media Indonesia, 27 Desember 2015


Sumber: kenzo publiser


Catatan dari Warung Kopi

Akankah kita masih percaya menanam bunga-bunga
Di depan rumah kita
Setelah jauh-jauh hari kita telah mendustai keindahan
Mendustai matahari yang terbit perlahan dari arah timur
Dan burung-burung yang menyenandungkannya

Semisal malam ini, kita masih asyik merayu malam
Di warung kopi, menerjemahkan sepi pada percakapan-percakapan
Yang seakan-akan tak mau diselesaikan
Kita memandang ke arah jauh, ingatan dibenturkan
ke benda-benda sekitar
Dan mata kita dipaksa untuk bertahan dari kantuk
Untuk melupakan hal-hal yang menyerupai
kebiasaan ibu dan babak kita

Lantas setelah berlarut-larut, berpayah-payah dengan malam
Kita pulang ke lantai yang dingin: kamar kita masingmasing
Berpeluk mesra dengan kekusaman wajah yang dihantam
Aroma kopi, es teh, susu panas, beserta asap rokok

Kita tidur di jam yang menunjukkan angka 03:30, hampir subuh
Badan yang lesu, rasa yang payah melelapkan semua hal
Lalu mimpi-mimpi datang berhamburan tak jelas
Meninabobokan ke siang yang jalang!

Sampai tak ada perkara yang perlu dicatat selain peristiwa ini
Setiap hari hidup seperti musnah di warung kopi
Agama warung kopi dan tuhan juga barangkali.


Setelah Bangun Tidur

Setelah bangun tidur aku lelaki paling tolol
Yang pernah dikenali sendiri
Di depan cermin dengan memukul-mukul wajah
Dan tertawa kecil
Aku berucap “yang fana adalah waktu, kita abadi”

Sesekali mengambil sisir tapi membiarkan ruang berantakan
Di sela-sela rambutku--
Membiarkan wajah kekasih masam dikerumuni sesal
Dan bertindak seolah-olah anak kecil yang tak mau tahu
Tuhan ada di mana dan sedang mengerjakan apa?

Gowok, 2015


Di Bawah Sepi Aku Berlindung
dari Kerlingmu

Di bawah sepi aku berlindung dari kerlingmu
Menolak benda-benda
Hanya yang dapat disaksikan bayangmu bayangku
Berpijak di antara tulang belulang puisi yang gigil
Sebab kata-kata yang timbul
Adalah kesangsian dari sebuah perjumpaan

Kubayangkan kita begitu kecil
Samar-samar menyentuh wajah nasib
Pikiran yang tolol
Melompat-lompat menangkap angin
Melubangi langit untuk menemukan yang
tersembunyi

Duh, cintaku yang perkasa
Masihkah kau berani sombong?

Demi rasa cemas yang memenuhi lubang mulut
Dan orang-orang yang terbakar dengan
kesangsiannya,
Di punggung puisi ini
Jangan pernah bangunkan aku




Anwar Noeris, Lahir di Sumenep, Madura 19 Februari 1993. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY) dan Nyantri di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy'ari, Yogyakarta.



loading...