LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Alya Firdhia Mazida di Radar Madura 27 Juni 2014


Sumber: Multiple Perspective Paintings Cinta


Semesta Romansa di Senjakala

Aku di sini, memanggilmu, Nda
Tak ada lagi kata yang bisa tertasbih
Ketika camar itu mengepak sayap, pada rindu
Maka akulah pemujamu
Untuk sekedar tahu, aku tak pernah berhenti mencintaimu
Meski beribu kali engkau katakan benci kepadaku

Aku sangat mengerti manakala melihat kelopak mata itu
Ratusan kereta merambat di keningmu
Lalu di bola matamu, supersonik begitu lesat
Mengertilah kekasihku, sekali ini saja
Aku tidak menghamba, kecuali membuatkanmu ilusi
Masa depan itu adalah masa lalu kita yang tertunda

Aku masih sendiri, membatu, membisu
Sampai tiba waktunya engkau mengatakan cinta
Aku sangat memahamimu bahwa rasa tak harus tertata
Namun aku bukan penganut aliran kebatinan
Demokrasi hati itu nyata dan perlu proklamasi
Aku menunggumu, kecuali engkau ragu

Sumenep, 2014


Sepatumu tak Derap Waktu

Maaf aku tidak akan melihatmu
Engkau tidak hanya tegas dalam kaburmu
Aku takut melihat sebagai serdadu, waktu itu
Lalu penyair itu tegas bersuara, darah itu merah gundala
Tetapi aku menghormatimu sebagai orang tua
Engkau mungkin lebih tepat bukan di situ
Namun di sana, di belantara
Tempat yang menjadikanmu lelaki yang sesungguhnya

Bagaimana mungkin engkau menjadi idola
Bila aku selalu rindu senyum, bukan keganasan
Engkau tak bisa aku raih, maskulinitas itu sangat dekap
Aku mendamba keteduhan jiwa, kedamaian
Seperti tulip pada savana; ungu
Serupa aidelweis, aku tidak ingin mati muda

Maka berjanjilah pada sepatu larasmu
Yang tidak lagi derap, lekat dalam ingatanku
Aku sangat pobhia bila waktu itu menjadi jamanmu nanti
Di sini aku ingin menjadi melati, semerbak
Bukan amis ketika alas kaki itu menebar aroma dupa
Oleh karena itu, maafku padamu
Menyukaimu tanpa memilih untuk menjadi aku yang rindu

Sumenep, 2014

Alya Firdhia Mazida, lahir di Sumenep Madura. Kini belajar menulis puisi dan merajut cerpen. Tinggal di Karduluk Pragaan Sumenep