LABANG ARSIP

Puisi-Puisi A. Warist Rovi, Riau Pos 25 Agustus 2013


Sumber:contemporary abstract painting



Hikayat Penjaga Hutan Rongkorong

suatu waktu
ketika bulu landak menghias hutan
masuklah kau dengan puisimu yang paling tajam
berdiamlah sebagai batu yang teguh di segala suhu

dengan begitu kau akan bertemu denganku
tanpa sepengetahuan daun-daun yang jatuh

sebab aku telah mendahului sejarah
di hutan ini menjadi dewa penuh rajah
bermukim di rerimbun daun dalupang beraut basah
orang-orang mengingatku lewat bulan gerhana
siapa yang sigap menyentuh malam dengan setabur bunga
maka akan luput dari kutukku yang murka

Gapura, 2013



Vita

kau berdiri di muka pintu
menggenapi keganjilan jam dinding
yang berdetak sendirian

pandanganmu menjelma gelembung sabun
menelusup ke celah dadaku
dan meletus di atas selumut rindu

kukenal wanginya
seperti membentangkan taman purba berpagar bunga
tempat kita berdua
dahulu kala
menunggu senja
seraya kau tiupkan
gelembung-gelembung sabun ke wajahku
mengenalkan seperti apa wanginya rindu

Gapura, 2013


Rubayyat Malam Seorang Penyair

menambang nafiri di riap angin mati
anak kelelawar mengulang cericitnya pada sisa dini hari
begitulah awal kelahiran sebuah puisi
meminta nama pada kesendirian bumi

seorang penyair bertemu bulan di belahan sunyi kamarnya
puisi-puisi yang ia tulis menampung beban luka jendela
menunggu subuh tiba dengan tanda yang berbeda
agar rahasia tak melahirkan praduga

terdengar juga detak jam berselisih dengan suara serangga
sebagai teman setia penyair bergumam dari latar malam yang basah
upaya mengembalikan puisi pada nama-nama
agar besok setiap orang mudah menyebutnya

Gapura, 2013


Rindu Terakhir

aku mengenalmu dalam rindu terakhir
yang membuat ilalang cepat berbunga
dan hujan kembali ke lubang telinga
sebagai desis kesenyapan paling sempurna

tak ada rindu lagi setelah itu
selain keabadian mendiami dadamu
berupaya memahami bunga-bunga ilalang
sambil memahami nikmat hujan kesenyapan

sebab dengan begitu
aku akan lebih mengenalmu lagi
dengan rindu yang paling terakhir kali

Dik-kodik, 2013


Siul Cinta Besi

aku lebih ingat pada wajahmu
daripada ingat pada namamu

sebab cinta berawal dari sesuatu yang tak bernama
dan berakhir tanpa nama

dan di sela percintaan kita
ada shakespeare yang terus mengabaikan nama
dan mengingat wajah kekasihnya

Bungduwak, 2013


Lelaki Sunyi

aku paham bagaimana kau lebih sendiri daripada bulan
melawan sepi malam hari
sebagaimana kunang-kunang mencari batas kelam
di rambutmu yang legam

matamu nanar,
kembali pada pintu-pintu masa lalu
yang engselnya telah berdebu
dan warnanya pudar oleh tetes air mata pilu

malam yang semakin tua ini
menyisihkan dinginnya dalam kesendirianmu
membuat kau ingat cara terbaik mencipta pelukan
seperti dulu kala
sebelum segala pelukan berakhir dengan daras-daras keheningan

malam ini kau pun kulihat memeluk apa yang menjelma raga dalam tubuhmu
seperti di dunia nyata
kau mengecup dan menciumnya berkali-kali
sebagaimana kepak burung yang enggan untuk kembali
walau pada akhirnya kau mengerti
betapa sakitnya cinta yang sekadar mendekam dalam diri sendiri

Gapura, 2013




A. Warits Rovi
Lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, karya-karyanya dimuat di berbagai media Nasional dan lokal antara lain: Horison, Seputar Indonesia, Radar Madura, Jejak dan beberapa media on line. Kumpulan puisinya dapat dinikmati di antologi komunal seperti Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010), Bulan Yang Dicemburui Engkau (Bandung, 2011). Epitaf Arau (Padang, 2012), Dialog Taneyan Lanjang (2012), dan Terpenjara Di Negeri Sendiri (2013). Puisinya yang berjudul “Perempuan Pemetik Tembakau” masuk 5 besar lomba menulis puisi “Perempuan” Yayasan Lampu. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit Pengantin Hujan (Adab Press, 2013). Kini aktif di Komunitas SEMENJAK dan membina  penulisan sastra di Sanggar 7 Kejora, mengajar seni rupa di Sanggar Lukis DOA (Decoration of Al-Huda) dan guru Bahasa Indonesia di MTs Al-Huda II Gapura.