LABANG ARSIP

Puisi |Lima Sungai| karya M. Helmy Prasetya



Lima Sungai

:Lebak
Air bergerak kea rah yang tidak dimengerti. Sore terbuka
jembatan patah
oleh sisa hari. Hari bernama jumat. Jumat yang kumat oleh
hawa racun dari
setumpuk sampah serapah. Janji tanah dibangkitkan, ke
lumut tua batu bata
hingga malam gerhana.

:Bancaran
Sunyi sungai itu mengalir ke mimpi mati. Sudut menyudut
hanyut ke barat laut.
Siang mau tiba, dari utara. Dan utara yang berjengkal dan
hangat itu, tak terhitung
berepa kali melambatkan diri
Dari timur udara mengiri pagi, pelan dan sejumlah saksi
Nelayan pun
mengiring diri. Tapi tak mengayuh rayu dengan bahasa
kesabaran seperti yang
dipunya tali jala pemakan.
Jalang titik hari panas memadat. Angin menyamar
ke pinggir serambi
Dan kurus waktu jadi beku, disihir burung dari hulu-hulu  perahu


:Ringrud
Laki-laki berkeringat itu memutuskan menaiki perahu.
Pulang, katanya
Air berpusar di bawahnya, kampong di tangannya bunting.
Mengisar kelakar detak jantung. Dari ladang jagung ke gunung.
Serpilah waktu ditukar ke palung. Demdam diam maka ia pun diam seperti
Patung legam habis membunuh.

:Ketengan
Di jalan yang tinggi itu sekelompok anak berlari. Berlari saja tanpa suara.
Mencari ujung sungai secepat tupai
Saat sore adzan maghrib menguning, bayangan rumput dan isak bayi
Bertemu di ranting kering.
Satu isyarat tumbuh di perkeburan. Melesatkan sesuatu ke air buntu
Sahut-menyahut . tinggi meninggi, arus pun berdiri seperti bisik-bisik
Pohon berduri.

:Junok
Pagi kembali, pagi menelungkup.
Seoarang istri menangis ketika tahu ditubuh anak yang dicintainya tumbuh
bintik  dan sisik. Ia ingat-ingat sejarah dengan mencongkel tanah.
Ia teriyaki suaminya ketika air beriak, Ia cari-cari suara di antara benturan
Benda-benda yang menerpa ditubuhnya. Tapi taka da yang membawa tiba.
Dan cuaca tetap gembira.

Bangkalan, Maret 2010

Puisi ini diketik ulang oleh Haryono Nur Kholis dari Antologi Puisi Dzikir Pengantin Taman Sare (Bawah Pohon Publishing, 2010).