LABANG ARSIP

Puisi |Kidung Pengantin| Biarkan Aku Menangis | karya Abdullah al-Widady



Kidung Pangantin

Berlari dari jalan panjang yang berliku
Menuju kesempurnaan diri
Dari tali kasih, perjumpuan sejak masih bayi
Memadu cinta, kini semakin menyatu
Lewati segala gempuran arus ombak
Dari waktu yang tidak pernah terhitung dalam jari

Aku hitung tulang rusukku setiap detk
Tidak pernah aku mengingatnya
Persembunyian tulang yang hilang
Kini menjelma manusia sempurna
Ciptaan Tuhan yang bijaksan

Hadir bagai separuh mimpi malam
Dingin, mengikuti aliran sel-sel tubuhku
Keheningan selalu menyapa
 Dalam merajut kisah kerindahan
Dari cincin mutiara hikmah
Manjadi keluarga sakinah mawadah

Yogyakarta, 2010


Biarkan Aku Menangis
            -Sapa untuk Yan Zavin Aundjand

Sejenak kuterpaku membuka lembar basah ingatan
Ketika kebersamaan mengikat kita
Dalam satu ruang kebahagiaan kemarin
Ditikungan waktu kita bertemu bersama
Merangkai sejarah pelangi kehidupan
Seperti bahtera
Desir sendiri mengipas cerita

Jauh, di tengah samudera
Tiang kejujuran tegak menjulang
Berkibarlah bendera kepercayaan
Getar gelegar sabda gelombang
Sesekali menghempas layar
Tak mampu pecahkan arah tujuan

Tapi kini,
Senja maraj mengmbang di gerbang malam
Patahkan langkah sang raja siang
Akankah kelam malam dating menjelang?

Tuhanku,
Inikah hukum alam itu?
Sebuah mimpi buruk yang membuat dada sesak
Engah napas terpenggal
Jiwa berdebar, bergetar dan bercakar

Inikah hukum alam itu?
Suatu keharusan dalam perjalanan
Sebagai bukti ada-Mu Tuhan
Maka biarkan aku menangis
Tumpahkan segenap rasa
Bangkitlah kembali sisa-sisa asa
Biarkan air mata mengalir
Membasuh darah
Ketika pisau lata
Mengiris impian.

Yogyakarta,2010

Puisi ini diketik ulang oleh Haryono Nur Kholis dari Antologi Puisi Dzikir Pengantin Taman Sare (Bawah Pohon Publishing, 2010).