LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Ghoz. TE di perpustakaan Divisi Sastra Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.




CELANA DAN AFRIZAL MALNA  
            ---Bersama Surya Saluang

di shoping
di rumah kaca
puisi itu kata-kata gelap yang mantra dan yang sakti
empunya adalah pejalan kaki dari kabut kecemasan

setunggal puisi teman-temanku dari atap bahasa
berburu celana dan afrizal malna
mata ke kiri
belok ke kanan
lalu menjulingkan kedua mata
di antara lipatan dan 1000 judul
buku-buku itu angkuh membangun peradaban
kita yang mencari puisi kecewa 100 kali

berburu manusia licin afrizal
aku menemukan ayu utami sedang menulis cerita pendek
di bawah malam bersama 14 lelaki
perempuan sexy, aduhai
aku tergoda menjadi lelaki yang ke 15 di pelukannya
kota para penyair
kita tidak menemukan puisi
puisi adalah kata kata sakti bukan karena tidak laku di beli


sebuah senja
ke utara
dan rintik di atas motor
kita memacu tenaga sampai rambu-rambu perempatan 

hanya puisi celana dalam joko pinurbo
kita temukan sedang mengatung dan terjepit
dari salah seorang teman penyair kita bayar 10000
itu harga pas sebuah pertemuan dan pertemanan
apakah puisi itu? tanyaku berbisik
seorang teman penyair lain berat menulis puisi
hingga ia mengelandang mesra malam
berjalan seperti tanpa keyakinan 
puisi adalah mantra
kata-kata meluncur sakti yang tidak kita temukan di toko-toko buku
puisi tak takut mati karena tak laku
tendra enggan dan hanya sekali puisinya di koran
begitu katanya

Yogyakarta, 2011

MIMPI BERTAHUN-TAHUN

aku terkulai tidur selama 5 menit di lantai berkarpet hitam tanpa bantal
tetapi mimpiku selama bertahun-tahun. mimpi yang tak kunjung selesai
seorang perempuan berjalan telanjng dada membawa segenggam duri mawar
aku seperti diburu bayanganku sendiri. aku berontak
kakiku menendang tembok keras. mimpiku tak selesai 

di sebelah. di atas karpet. segenggam duri mawar menatap tajam. aku cubit lengan
ini nyata. Mataku berdarah    
 
Yogyakarta
, 2011

NOL KILOMETER
Jarak Perjalanan Menuju Solo

dari titik nol kilometer aku melepaskan diri meluncur ke timur
tentu semakin jauh dari pandangan cemas matamu yang keabuan
tapi  aku seperti berlari kepelukanmu di atas deru roda dan angin
           
--- tiang-tiang berlari dalam bayangan
mesin bergerak mempercepat bialangan kota tanpa papan nama

20 kilometer aku akan sampai ketika kaki matahari tergelincir
tiba sebagai lelaki jantan yang tersedu menangisi luka sendiri
menangkap derap melihat hujan pada kecemasan lalu-lalang orang-orang
wajah beku itu menggenang ke aspal. rambu di jalan kehilangan arah
aku menghitung sebelas tikungan panjang dalam remang lampu
di titik nol seorang penyair terkenal dikabaran hilang sore tadi
dan sampai kini orang-orang masih bertanya cara menabur bunga 
             
jarak antara masa lalu dan lindap perjalanan berhamburan keluar
namamu memang tidak pernah tertulis di dinding batas kota ini 
aku yang memasukinya kerap kehilangan bayangan tubuh sendiri
           
dalam remang
sehabis jeda hujan
aku telah sampai pada bilangan pertama  
dan merapat ke kota singgah berikutnya
pertemuan tak pernah saling duga
           
nol kilometer aku berlari di atas pertempuran tanpa pedang

Yogyakarta, 2011       

MIGRASI SUNYI
         
solilokui manusia 90º c
segerombolan manusia menamakan dirinya ritus angin
suka menunggu malam yang tergelincir kaki-kaki pengembaraannya
yang eksodus ke detak lorong-lorong waktu
           
siapakah kita?
lebur dan mengendap

mimpi-mimpi liar
remuklah gelas dalam diskusi panjang ---berkutat tubuh telanjang
o, rumah yang kita bangun dari sebiji ilalang tanpa jendela
konon di setiap persinggahannya lebih leluasa menerima sunyi
agar tak saling curiga
           
jarum jam berputar dengan 2 arah
90º C dalam kesunyian
lintang selatan dan utara angin berhempus ---kita yang bermigrasi
sedang menanggalkan celana dalam 

Yogyakarta, 2011

SIRKUIT

shopping mall sebuah lintasan fantasi
keranda manekin yang glamor
lehernya terjerat manik manik kalung dan mutiara
merek BH dikenakan nyaris sempurna
                        --- tergantung, sebentuk tubuh tanpa ruh

lalu kita melihatnya kecantikan lipstik
kita yang hanaya hilir mudik menaiki eskalator
melintas dalam sebuah sirkuit, dan
masuk seperti orang orang memiliki selera
tenaga ilusi yang terus berpacu tanpa ketegangan
meninggalkan rambu, mengalir sajalah ke muka
berputar dalam lilit lingkaran lingkarannya
kadang lupa untuk apa berdiri dengan sederhana?
di antara dua kaki palsu yang ia sendiri tak tahu

mall, tamasya tubuh
inilah sirkuit lintasan fantasi
di mana tubuh meluncur seperti sebuah layar
bergerak menaiki eskalator, tangga kekangan
bayangan kepala tertanggal di lantai dan pintu

Yogyakarta, 2011

BAYANGAN BULAN

ibu, adakah rindu itu seperti lakon burung-burung hantu
pada malam-malam ia tenggelam di bawah bayangan bulan
serupa itu juga aku mendengkur dan melentangkan kepala
pikiran menyeberang melintas rimba hutan perjalanan
                        ---jarak kilometer keberadaanku
dengan menulis puisi setengah dari rinduku membubung
tinggi, aku berdiri di tepi galau.
Mendekap bayangan 
           
bulan itu, ibu
mempersembahkan cintamu dan menciumi segara sepiku

Yogyakarta, 2011

Catatan si Tukang Arsip: puisi-puisi ini, diambil dari Manuskrip puisi di perpustakaan Divisi Sastra Teater ESKA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.