LABANG ARSIP

Sajak Alek Subairi


Pekur

Kami saling berdekatan seperti ayah  ibu.
Mengumpamakan jalan yang takselisih, yang taklekas usai dipandang.
Kantung-kantung beras kami beri doa. Sumur dan pekarangan kami jaga
seperti membaca potongan ayat yang kami sukai warnanya.
Namun kami kehilangan puji-pujian yang ingin sampai kepadamu
sebagian dari kami mengingat lagu-lagu, tetabuhan, pitutur dan pamali
sebagian yang lain membongkar silsilah keluarga, membaca darah, dan
rujukan-rujukan sampai kami menangis di dalamnya.
Lalu kami mulai belajar membuka pintu, membuka penutup kepala
berjalan seperti penandur pari di sawah sewaan. Kami tak menjumpai
apa-apa bila ditanya. Namun ada yang berwarna-warna menjalar dalam tubuh kami.

2011


Empat Sore

: Choirul Wadud, Timur Budi Raja,
Mahendra, dan seorang yang tak dikenal


1
Seseorang berangkat mancing pada empat sore
dengan kail nomor 9, dan sekantung cacing bakau.
Ada bayang-bayang mujaer, gabus, udang galah
yang senang menerima umpan rendah hati.

Ia mengerti di mana memilih tempat duduk,
mencium udara yang mengirim aroma bunga bangkai,
limbah plastik ,dan kencing hewan melata
sabarlah sungainya, tenanglah pandangannya
sepilah bahasanya.

Sebab bila air keruh datang, ia
seseorang yang tak berniat melaporkan
pabrik-pabrik bocor, penambang pasir,
bangkai ikan, dan suara-suara terjepit
di palung yang murung.

Sebab ia tahu, berita koran dan televisi
membirukan yang hitam, menghitamkan yang
merah, memerahkan yang putih, memutihkan yang
kelam dalam sekali pandang.

2
Seseorang yang lain menemui asharnya
di depan rumah tanpa bilang-bilang
tak mengapa kalau ada yang menerka yang tidak-tidak
sebab dengan demikian kebajikan tetap di peluknya, ketika
yang lain-lain mabuk dalam prasangka.

Kalau ia sampai di tikungan, dan sore yang segar
mengatakan, berjalanlah lurus dalam niat yang
mengasuh tabahmu. Lalu ia jadi yang ingin
menerima kabar dari yang tersembunyi.

3
Seseorang yang lain lagi, terjebak macet
di jalan A Yani yang terkenal. Ia berdoa kecil-kecil,
semoga makan malam yang ia rencanakan
berjalan sungguh-sungguh.

Jangan ada polisi menghalangi jalannya
jangan ada belokan tajam, sehingga ia tak
terseret mampir di warung lain yang
tak mencatat namanya, lalu malamnya jadi
dusta yang menghambat rejeki dan imannya. Sungguh jangan.

Bukankah Tuhan tak bersama orang yang terburu-buru?

4
Tapi ada yang mengalir ke arah lain, seperti kaum yang
menjalankan ibadah dengan sembunyi-sembunyi. Biarkan.
Jangan dihalang-halang. Jangan pula diolok-olok. Sebab
kita tak tahu di lubang mana sunyi mengalir.

2012


Jalanku, Jalanmu, Jalan Kami

Berjalan di antara tikus, wajahmu hijau kemuning. Angin dari kebun
menerbangkan layang-layang, mimpi dan  kekasih yang sulit tidur.
Bila tidur sedikit, selalu ada berita memanah jantung dan kaget. Aku
cinta pulau-pulau kecil dan sampan yang mengerti gelagat angin.
Jangan hardik agama lain, jangan dihapus nama-nama yang
menyimpan urat-urat kampung.  Kami ingin sekali mengirim
perasaan syukur kepadamu.

Kami kini menanam umbi-umbian, rempah-rempah bumbu masak,
dan sedikit kembang-kembangan di pekarangan kami satu-satunya.
 Bangun pagi mengantar ibu ke pasar dengan raut muka seperti sekerat
roti yang diperkenalkan ketika musim hujan. “Hai mendekatlah, kami
melihat layang-layang yang menyerupai masa lalu kami. Kami jadi
ingin sedikit bernyanyi dan melambai.”

Melambai kepada yang menjauh dan yang akan datang. Selamat pagi
ruas-ruas jalan yang saling terhubung. Jalan yang mengerti kesunyian
kami, tabiat kami, bau tubuh kami yang berabad-abad kami bawa
dengan kedua mata berkunang-kunang. Kami mulai mengerti  suara
kentungan yang dulu menggema dari poskamling. Guyub rukun
 jangan hilang dari kamus batin, jangan pula dikelabui.

Sebab bila rindu kami dikelabui, akan banyak yang tumbuh menjadi
orang lain, menjadi sobekan iklan, menjadi pohon-pohon tumbang di
jalanan, menjadi kata-kata yang dikirim untuk mengecoh kaum ini
dan kaum itu. Selamat siang nama-nama kaum dan pemeluknya. Aku
cinta warna bajumu, warna kulitmu, warna bahumu yang legam
memikul kitab-kitab.

Istirahat di bawah naung pohon belimbing, melihat wajahmu
berkabut-kabut. Sesekali muncul bersama iringan pengantin, sesekali
berkelebat bersama buah-buahan yang terhidang di tengah duduk
yang melingkar. Sesekali mewujud dalam tarian dan doa-doa.
Selamat sore rumah-rumah ibadah. Aku cinta suara langkah kaki yang
bergegas ke arahmu. Langkah kaki yang membawa ibu-ibu kami.

2012


Rabu Surup

Di bawah tiang tanpa bendera, ada yang terburu jadi sore pada
duduk yang melingkar, duduk yang mirip kenduren di surau
paman. Seseorang akan berdiri, lalu pergi ke barat atau
ke timur. Seseorang yang lain, yang bukan kau dan aku,
menyayangkan niat yang  tertinggal di paving, di bekas
dudukmu dan dudukku.\

Barangkali memang ada yang tumbuh dari bekas duduk yang
berdekatan itu, meski tidak sebagai kembang, juga tidak sebagai
ajaran. Ia yang tumbuh, barangkali melihat ke arah kau dan aku,
setiap kali sore turun, setiap kali angin selatan yang sehat
mencium kembang dadap dari belakang.
“Selain kenangan, apa yang ingin kau sampaikan?”

2012


Ketintang

Banyak yang datang menyerahkan pagi hari kepadamu,
seperti menyerahkan nasi kuning dan doa selamatan.
Doakan kami agar terhindar dari banjir yang mengepung
asal-usul kami. Kami ingin terjaga dari tidur setiap kali ada bunyi ting,
setiap kali ada bunyi yang menyaru ibu bapak kami yang
jauh.

Namun, bila kami terjaga, bunyi-bunyian itu menjadi sosok lain,
menjadi kerisik tikus yang gemar menabrak pintu dan
pagar rumah kami, menjadi siaran sepakbola yang gaduh, menjadi
ajakan mengelabuhi perasaan kangen di warung kopi yang           
licin.

Siapa yang datang dan yang pergi cuma sebutan sesaat.
Semua orang membawa tas, membawa mantel hujan,
membawa rencana-rencana pertemuan yang tak pernah selesai
dimiliki.

Lalu kami membuka pintu malam-malam. Mengintip ke luar,
ke arah pos ronda di tikungan yang kosong. Barangkali kami
merindukan memukul potongan besi yang menggelantung itu,
sekadar memastikan kalau kampung ini masih                      
terjaga.

2012


Maja

Ketika aku disangka penghilang dahaga, dan seorang militan
tergiur kepada yang sejuk, di situ permulaan itu ditanam.
Dari pahitku yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lalu, jadilah ia,
kau, dan mereka,  dikepung perasan satu pahit satu pilihan. 
menjadi kobaran api, kepalan tangan, dan semacam maklumat 
yang  menjelma kaki-kaki yang kokoh.
“Kami lahir kembali dari pahit yang tak sengaja”

Orang-orang berwajah lain semakin datang, semakin militan
 membentuk pekarangan rumah. Membentuk  yang samar jadi sumpah,
jadi guyup, jadi yang tak bisa diterka seperti anak panah dalam kabut.
Ada kembang mayang bermekaran seperti doa-doa, ada penumbuk padi,
ada perkakas yang  dibunyikan terus menerus. Ting, ting, ting!

Ia, kau, dan mereka berjalan seperti peronda, mengenali letak bintang,
membedakan daun gugur dan yang digugurkan,
mencium bau bangkai sebagai kabar.
Bila ada yang menyapa, menyapa dalam isyarat,
menyapa yang di balik pintu, “kita sampai di mana sekarang?”    

2012

Waluku

Inikah kabar baik itu, paman? suara geluduk di utara
kembang dadap, burung jalak dan benih-benih dipilih malam hari
aku berdiam diri di belakang rumah, bersandar pada kayu-kayu bekas
seperti seorang kakek yang mengingat sekantung beras di masa kolonial

Pajjer lagguh arenah pon nyonarah
Bapak tanih se tedung pon jege’eh*

Orang-orang menoleh ke sana-ke sini, seperti ingin bertukar senyum
kalau tidak senin, ya rabu, kalau tidak rabu barangkali jumat
jangan makan di pintu, jangan memakai baju terbalik, jangan membuang
sisa makanan, nanti menghambat hujan turun, nanti cuma geluduk yang
datang, nanti benih-benih terganggu, lalu kurus tumbuhnya.

Ngala’ are’ so landuk tor capengah

Bau lorkong dan tanah ladang menguap sampai ke dapur-dapur
hai baunya sudah datang, baunya perempuan dipinang
ada ibu menampih la’as, ada ibu memandang ke luar jendela
ada ibu menyapa mau ke mana, ada kaki tergesa membawa sasmita
ada aku bersandar pada kayu-kayu bekas seperti seorang kakek
memandang langit, melihat rasi bintang yang menyenangkan.

2012
*(lagu Madura)