Puisi "Hujan Bulan November" dan "Mata Peluru" Puisi Bernando J Sujibto



Jurnas | Minggu, 16 Maret 2014
 
Hujan Bulan November

ini hujan akhir november
karnaval daun-daun gugur
musim gugur yang lekas

yang cokelat di tanah ini
adalah wajahku yang kau simpan
pada pucuk-pucuk daun

ada yang gugur setiap musim
selalu tentang rotasi waktu
perjumpaan yang sama
hujan akhir november
meremasnya
jadi bisikan yang jauh

kita sebenarnya telah tiada
selain hanya merayakan nama
dan selalu sama di akhir cerita


ke bukit alaaddin
hujan akhir november
menemuiku, juga mereka
sebagai neo-sisipus
mengemas angin
mengitari bukit
menatap jalan pulang
dalam gerbong tram
dalam rintihan sunyi
di dadanya

balon di tangan anak-anak itu
di sebuah taman kota yang ceria
tiba-tiba meletus. mereka histeris
hujan bulan november
akan segera pulang
untuk badai musim dingin
sebentar lagi.

setelah itu
aku akan bersama badai musim dingin?


Mata Peluru
--perkamen perkabungan untuk Mesir

(1) Ahmed Assem

mata peluru mata kamera
menggobang-gobang nama
melepas daun kering di atas pasir
diutus angin dari bukit nun jauh
di seberang mata Sinai
setelah Golan

mungkin ke hulu
atau ke hilir
sungai Nil

(2) Pasir Emas

gemuruh apa lagi yang dipasang di bawah tumpukan pasir
sebuah istana telah dihapus angin dan tetes darah nyinyir
di genangan sungai Nil yang disesatkan arah
dari gunung-gunung dan sahara nun jauh
parau memperebutkan nama
daratan emas yang cemas

sebuah bangsa lahir
dari ukiran dinding batu
berabad-abad diam dalam waktu
dan sebuah bangsa hancur
atas nama sejarah perebutan

(3) Sebuah Mitos

sudahkah kita melepas baju saat hujan tiba-tiba
apa yang perlu dibungkus dari tumpukan pasir ini
siapa yang kita curigai sebenarnya, selain deras
mendaras waktu pada warna kulit kita yang ranggas?

suatu waktu, sebelum aku memutuskan menjengukmu
kamu tahu tiket pesawat yang kupesan tiba-tiba hangus
seperti digosok ribuan pasir yang dibawa angin, entah dari mana
aku hanya bisa menatapmu dari tanah batas khatulistiwa
kamu berpesta merayakan kesementaraan yang dianggap purna
karena kepala negara yang kamu tentang telah tumbang
dan kamu euforia merayakan kemerdekaan itu

aku tidak bisa berangkat, ada yang keliru tentang jadwal
atau mungkin tentang arah

beberapa bulan berikutnya
aku hanya menjadi saksi atas setiap rambut yang jatuh
di tengah lapangan kota yang disaksikan para sedadu

dan rambut yang tumbuh setelah lepas dari kepala
pada sebidak pasir yang keruh oleh darah

aku ingin menyaksikan
bukan tentang mitos yang sebentar lagi akan dibangun
bukan tentang masa silam yang ditumbangkan.

Bernando J Sujibto. Penyuka puisi sejak di bangku MTs. Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep. Banyak menulis (Puisi, Kolom, Artikel dan Resensi Buku) untuk berbagai media dan telah menulis sejumlah buku. Kesukaannya berjelajah membawanya terbang ke negara-negara asing: Amerika dan Australia, sambil tetap menulis puisi sebagai pengalaman personalnya. Sekarang sedang menempuh pendidikan master di Turki.
http://www.jurnas.com/halaman/27/2014-03-16/291385

loading...