LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Saiful Bahri di Republika, Minggu 04 Maret 2018.

Lukisan diambil dari "Abstract Painting".

AKU INGIN MENJADI KHAYALMU

Aku pernah menjadi bunga,
Merajut senyum harum suasana.
Aku pernah menjadi cahaya
Mengulum rinai mutiara.

Tapi, aku lebih ingin menjadi khayalmu.
Setiap kali engkau merasa sepi,
Puing khayalmu mesti tertuju pada satu sinar mentari.

Nada cinta bersenandung riang di rahim senja merangkum cahaya,
bahkan engkau pernah terbaring memikul sajak deresi rindu.
Katakan. Biar aku tahu pada hatimu yang sebenarnya; cinta atau luka.

2018


DI MANAKAH TULANG RUSUKKU BERSEMBUNYI

Dua tahun sebelum senja membawaku
Aku tidur di amperan matamu yang membiru
Karang-karang dapat kucium dari doa yang tertindas
Doa-doa hinggap terpancar dari kesemuan musim tua
Ada bias fatamorgana, yang meliut-liut di relung jiwa.

Aku kuat memandang matahari yang terpancar tegar di ufuk timur
Aku teroak meradang karang yang duduk tegak di pantai harapan
Aku kuat memikul kenangan yang kerap menyerap kesemuan.
Tapi, aku tak bisa mengunjungi silau bulir matamu. Sejenak aku bisu.

Hingga larut pada malam aku tidur dengan bulan
Remang bulan melamar bintang kelaparan
Apkir lisan terucap raban menintai sepi.

Terlalu naif bila matamu kubuat cahaya
Kertak retak mengembun gerimis melindap sunyi
Aku nyiyir mencari arti, di manakah tulang itu bersembunyi.

2018


HIKAYAT MALAM

Hikayat malam diam menepi
Aku terbaring di amperan rukuk-sujud imaji
Ribuan tahun aku melintasi jalan ini
yang menetas hanya embun di ubun pagi

Setapak jalan tak terarah
Basah kuyup di ladang gerah.
Aku tersesat di halaman enam puluh tujuh
Terbawa belenggu, sebising riak-riak rindu.

Dua musim saling bersapa
Saling bergantian meraba derita
Gairah singgah tak terjumlah
Jumlah yang retak berkeping puing kerinduan.

Aku masih tersesat di halaman enam puluh tujuh
Derap langkah kian melaju. mencari arti sajak namamu.

Februari, 2018


KALAM TUHAN

Tiada puisi yang paling indah
Kecuali 'kun' firman Tuhan
Penyair hanya bisa meringkus kata-kata mutiara
Penyair hanya pandai mengolah bulir-bulir doa
Tanpa Tuhan aku mati, sayu beku tak berarti.
Sebab, hitam mengundang cahaya dalam doa.

Sehabis bulan pergi meraba
Aku tak pernah menghitung berapa
Yang telah kubaca di antara nada nama Tuhan.
Aku hanya terkatup kebisuan. semu tercekam kelam.

Tuhan, aku ingin selami perempuan di laut imaji
Hanya engkaulah satu-satunya yang tahu arti
Aku pergi dari mimpi terasa naif mencintai
Tuhan. Aku ingin merba. aku butuh hangat sapa.

Februari, 2018

Saiful Bahri, lahir di Sumenep, Pada Tanggal O5 Februari 1995. Selain menulis, ia juga salah seorang aktivis di kajian sastra, dan bergelut di dunia "Teater Kosong Bungduwak" Sekarang ini pula ia aktif di perkumpulan dispensasi Gat's (Gapura Timur Solidarity) dan juga Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-huda), sekaligus Purnama.