LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Mahendra dalam Kumpulan Puisi "Kampung Terapung".

Perancang sampul: Alek Subairi.

RAJAMINA

di punggungmu hidup bertengger. seperti gerunjhu di pungung bapak. menjelma punuk besar, menyimpan hidup untuk dibesarkan. rumput dan sapisapi menggantungkan nasibnya. menunggu takdir yang akan menghumbalangkan, dengan iman. pada namanya muasal kisah dan waktu. kata kakek, dipanggilnya dia rajamina. ikan raksasa di bawah semesta. menjaga semua berjalan seperti yang digariskan. ikan itu mengibaskan ekornya. masyarakat baru tercipta. Masyarakat dengan harapanharapan yang banyak. masyarakat yang berkenalan dengan dirinya sendiri melalui suluk dan tetabuhan yang dipanjatkan ke langitlangit gelap. tentu aku akan terus memanggil namamu. agar puisipuisiku tumbuh. dan aku mengerti posisi setiap sesuatu di dunia, dalam jarak waktu yang jauh.

dalam gulungan ombak yang aneh, kita saling melompat ke permukaan. saling belajar mengenal. berjabat sunyi dalam bahasa masa lampau. ketika perahuperahu ditambatkan. ketika seribu dadali berterbangan membuat suara aneh, gelombang seperti menari. memainkan tarian hidup yang ganas. aku dan engkau saling menyebut. menatap laut yang tak pasti badai.

orangorang memanggilmu pada lekuk kecemasan. pada setiap kisah. laut yang terus bergelombang, menyaksikan langit yang gelap. barangkali mesti ada yang dibocorkan langit. engkau yang mesti menyusun dirimu. atau aku yang terus mencarimu. seperti memberi tanda pada sebuah batu besar. hanya ada yang musti terus aku gali. di antara susunan makam kakek, rumpun bakau, karang hitam, rombongan dadali, dan tubuhku perlahan rubuh.

“dari apa namamu dibuat?”

laut tak akan pernah surut. perburuan tidak akan pernah luput. sedang dirimu menjadi saksi, para pencari menyebut namamu tiada henti. rajamina, menggeliat. dan dari setiap kibasan ekornya pertempuran bergemuruh. mencipta gelombang aneh dari kisah qabil, habil, tiada henti. kibas, kibas, dan kibas lagi. pada kibasan yang ke empat. aku percaya tak ada cahaya setajam suluk. doadoa keagungan yang menyimpan kakek buyut dan seekor ikan di kurungan. dan aku terus bertanya.

Sumenep 2017

KAMPUNG TERAPUNG

sebuah kampung tidak harus datang dengan masyarakat
yang lengkap. masyarakat yang di bentuk oleh kehendak
hidup, dan pohonpohon besar di perempatan. mereka bagai
mimpi. melayanglayang di kepala orangorang mengaji.
menelusup celahcelah hati pemuda, seperti syair cinta.
kampung yang menukik di rerimbun jati dan orangorang
mengisahkan dengan kisah yang lantang.

“ia tibatiba melayang hilang” kampung sepi oleh suara.
seperti wacana yang hilang dari kata. hanya perlahanlahan
kampung mulai melambung ke udara seperti diangkat
ribuan capung. dan di tanah sepanjang mata memandang
hanya padang rumput. hingga di tengah hamparan luas
seribu mata angin seperti menusuk. melobangi semua
yang membatang agar ambruk. dalam kejatuhan tubuhku,
kampung menempatkan semua penduduk pada kecurigaan.
yang mengambang harus dihancurkan. di hilangkan dari
catatan. seperti semua kasus yang lenyap di pengadilan.
di buatlah sebuah tangga surat sepanjang novel agar
memukau. orangorang melolonglolong dalam megaphone.
kami tidak mau dihilangkan!

kampung semakin tinggi. menjadi kaca pemantul.
mengembalikan kenangan pada sebuah kotak. kotak
yang di keramatkan dari pohon besar ghaib orangorang
semua berebut menggambarkan keinginan masingmasing.
keinginan untuk datang dengan lengkap. merasakan siang
sebagai kesibukan bersantap meja makan. atau sekedar
mendengarkan kembali lagulagu elvi sukaisih dengan suara
melengking. ini sudah pada tahap membosankan. semua
masyarakat terus memukulmukul beduk, melempar wajan,
krompyang sendok dan gelas. sebelum dapur terangkat dan
pagi hilang dalam sarapan, memanggilmanggil pemuda
berkumpul. seperti memanggil lagu kemerdekaan, seperti
perjuangan tak kunjung selesai.

“ia tibatiba hilang” sebuah kampung di dalam hati.
kampung pertama, orangorang mengenal kata dan
masyarakatnya.

Sumenep 2012

DHALEM

siapa yang mencipta kamarnya dari sekerat daging tetangganya? berggujing orangorang. membuat pertunjukan setengah jam dari petaka. katakata seperti ranjang sepi. menunggu siapa yang bakal terbaring mati. sungguh kita dilahirkan dari kamar yang sepi. sebuah ruang dari garba
ibu tercinta. aku disini engkau disana. tapi tanah kita dalam tengik garam yang busuk. mencipta tangga ajaib dari darah tuan dan hamba. suka dan duka. pekatnya samasama terasa pahit sebagai bangsa.

aku memandang tubuhmu yang congkak. dalam sembah dewata brata. menjurajura martabat dan adi kuasa. Bahasa siapa yang telah menelikung hasrat demi sekantung beras dan bedil para penjajah. dan ibu perlahan hilang dibawa pergi kelaparan. ingatan yang tertancap pada setiap undak tangga kasta. aku disini engkau disana.

kamar benarbeanar jauh di dalam hati orangorang. meninggalkan aku sendiri menghitung bulan dan tanggal kehancuran. di langit bintang menunjuk razi timur jauh. kemana punden tempat jiwa di puji. dan seluruh mata memandang dengan penuh khusuk cinta.

dan kau tak perlu menutup pintu untuk perjumpaan kita.

Sidoarjo 2016

Mahendra, petani kelahiran Sumenep, Madura, dengan nama lahir Hendra Cipta, sempat singgah di yogjakarta dan menyelesaikan S1 pada jurusan Theology dan Filsafat IAIN Sunan Kalijaga. Bergiat pada aktivitas-aktivitas lingkungan hidup, sosial, budaya dan kesenian. Pernah bergiat di beberapa kelompok kesenian; Teater Es-Ka Yogyakarta, Rumah Arus Community Yogyakarta, SPPY (Sindikat Penyair Pinggiran Yogyakarta), Krikil Freelance, Therminal Kuman Experimente De Arte. Di tengah kesibukannya membina Masyarakat Seni Pesantren dan Sanggar-Sanggar Sekolah- Kampus (Sanggar Kuleneka, Sanggar Nang-Neng-Nong, Teater 7 Pintu) dengan kekawan mencoba membangun jaringan kesenian dengan Taneanlanjhang Culture-Art Exebition. Sebab ia percaya “seni lahir dari keseharian yang remeh-temeh, banal, kitch dan profan”. Sebagai sutradara dan aktor dalam banyak pertunjukan ia juga menulis naskah teater, essai, artikel, kuratorial dan puisi. Selain membacakan puisi-puisinya di banyak event, puisipuisinya dimuat dalam antologi bersama; ‘ketika pinggiran menggugat’ (SPPY, 2003), ‘Atjeh, Kesaksian Penyair’ (Jendela, 2005), ‘Nemor Kara’ (Balai Bahasa Surabaya, 2006) dan antologi puisi Mutakhir Jatim: ‘Pasar Yang Terjadi Malam Hari’ (Dewan Sastra Sby, 2008). antologi puisi Festival Bulan Purnama Majapahit (DK Mojokerto 2010), ‘Dzikir Pengantin Taman Sare’ (Bawah Pohon Publishing 2010). Hijrah (sanggar bianglala, 2011). Diundang dalam TSI-4 ternate Maluku Utara, dan terkumpul dalam antologi ‘Tuah Tara No Ate’ (TSI, 2011). Juga diundang dan terkumpul dalam “What Poetry? Antologi Penyair International’, Forum Penyair Internasional Indonesia (FPII, April 2012). Mencari Gery (Laguage Theatre, 2012). Selain mengurusi Masyarakat Santri Pesisiran, juga mengelola Ponminimalis Jurnal. Ia juga sering jalan-jalan ke luar kota membangun jaringan untuk Language Theatre Indonesia.