LABANG ARSIP

Puisi-Puisi M. Tauhed Supratman dalam Antologi puisi Penyair 14 Kota “Nyanyian Gerimis”

Perancang Cover: Musthafa Kamal

DESEMBER YANG RAPUH
 
Aku sadar, hadirmu dalam patahan hidupku
Seperti gerimis membasah tanah gersang
Ingatanku bercengkrama denganmu
Di padang kerontang
Perasaanku sebisu karang
Melukis fajar
Membelai senja
Jadi nyanyian ombak: di mana angin
Pernah menyejukkan
Gelap malam cahayamu membentang
Langkahku tertatih
Hasratku tak sempat kubaca
Karena kau tak mengundangku
Asaku melesat menikam burung-burung
Di senja nurani desember yang rapuh
Kutulis segala yang membentang di pelupuk mata:
Jas safari, dasi, sepatu lusuh, sandal jepit
Mungkin kau pernah merenung
Mengimpikan  kebahagiaan abadi
Igaumu mematahkan kelopak mawar
Karena persemaian yang usang
Senyummu meruncing di ujung gerimis
Resahmu segalau ombak tertegun
Menatap bayang karena tak sempat lagi berucap
Pada malam resahku yang kesekian
Tawamu jauh mengalun
Mengalun di dekat awan
Kau tawarkan dan segera melenggang
Seperti penari di atas panggung
Pamekasan, 31 Desember 2016

JANGAN BERMAIN SANDIWARA DI SINI
(kepada: sutradara-sutradara kecil)
burung pipit hitam putih di kepala
melintas di jantung kota
melengking suara duka
malam bertambah kelam
kakek tua di emper toko
mendekap cucunya
tenanglah, tidak apa-apa
aku tetap menjaga
jangan bermain sandiwara di sisi
burung pipit hitam putih di kepala
burung pipit hitam duka nestapa dibawanya
kami masih terjaga
doa-doa sudah diucapkan
kidung malam dilantunkan
bunga-bunga ditaburkan
bau kemenyan serak menyegarkan
bersandiwaralah, tapi jangan di sini
tebarkan duka, tapi jangan di sini
puaskan dendam, tapi jangan di jalan ini
tebarkan awan, tapi jauh di puncak gelap
burung pipit hitam putih di lehernya
jangan bermain sandiwara di sini

NYANYIAN GERIMIS
kepada gerimis yang ‘kan lahir, atas janji awan
semi pohon dan rembulan.
rentangkan sayap-sayapmu
hingga ke ufuk. Luruskan arahmu
dari segala kebohongan
fasihkan ligahmu buat menumbangkan
kegetiran pohon dan
gunung-gunung di keheningan.
kepada gerimis yang pendiam, engkaulah akal itu
warnai waktu hempas ilalang,
menerpa padang dan
lena pada mawar-mawar liar
tiap detik makin dekat, makin jauh perjalanan
lalu kuisyaratkan padamu: mari berhenti
dan bercengkrama
dalam mimpi
kepada segala yang samar, tikam kesombongan
terbarkan kata jadi belati buat terbang ke angkasa
prasasti dengan sendiri
nantikan saja!
kepada segala yang mendengar.
di mana kau temui suara gerimis
dalam cengkrama ranting ke dahan.
terjemahkanlah nyanyian gerimisku.
lantunkan syair-syair kasih sayang, mengusir
mantra-mantra semu, agar tak beku nuraniku.
alangkah nahagia perjalanan bersama ketulusan
bagai pengembara yang bergulat dengan embun,
bersendagurau dengan harapan dan menekrima keputusan
tanpa menuduhku
penebar kenistaan.

GERIMIS ITU
gerimis itu menetes sepanjang  jalan
di pantai hitam negeri berdebu
sementara mulut-mulut besar
terus menganga
mencari mangsa dari dada ibunya
o, musim begitu buruk, angin dan ombak beku
mengeras jadi belati tikam nadi jiwa kami
kemana lagi bocah-bocah itu pergi
sepertinya pembantaian  seindah permainan
masa kecil
cinta dan perlindungan
bagai cahaya pantulkan bayang
gerimis itu menetes di pantai
pagi dan petang apa bedanya manakala
kekuatan dan kekuasaan menguasai diri
o, musim begitu buruk milik kita
kapan mulut kembali lepas senyum
betapa banyak yang hilang, dan kau
tahu selalu lepas kutangkap
dalam lipatan peradaban
cinta, impian, harapan, dan kenyataan
tergadaikan

M. Tauhed Supratman, lahir di Pamekasan, 27 November 1970. Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Madura. Ia menulis puisi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Saat ini ia menjabat sebagai ketua Ketua Prodi dan staf pengajar di almamaternya. Ia juga rajin mengikuti kegiatan ilmiah dan beberapa kali menjadi pembicara tingkat nasional tentang Pantun Madura. Karya-karyanya berupa sajak, cerpen, esai dipublikasikan di berbagai media: Jawa Pos, Karya Darma, Mimbar Pembangunan Agama, Bende (Surabaya), Simponi, Inti Jaya, Kompas, Suara Muhammadiyah, Sahabat Pena, dll. Ia juga merupakan alumni Lembaga Jurnalistik Mandiri Jakarta 1993, Spesialisasi Kewartawanan. Sajaknya “Nyanyian dari Kampus” terpilih dan dibacakan di Radio Nederland, di Helvirsum, Belanda, dalam rangka HUT ke-53 Republik Indonesia. Sementara artikel ilmiahnya “Soeharto dalam Cerpen Indonesia” mendapat penghargaan dari Radio Nederland, di Helvirsum, Belanda, tahun 2003.
Kumpulan sajaknya bersama penyair lain: 1. “Puisi Rakyat Merdeka” (Grasindo dan Ranesi, 2003), 2. “Duka Aceh Duka Bersama” (2005), 3. “Dari Are’ Lancor ke Hati Rencong” (2005), 4. “Malsasa 2005” (2005), 5. “Nemor Kara” (Antologi Puisi Modern Bahasa Madura, Depantemen Pendidikan Nasional, Balai Bahasa Surabaya: Oktober 2006), 6. “Pamekasan di Mata Penyair” (2007), 7. “Surabaya 714” (2007), 8. “Wanita yang Membawa Kupu-Kupu” (2009), 9. “Malsabaru (Malam Sastra bagi Guru), Surabaya: Forum Sastra Bersama Surbaya dan UPT Dikbangkes dinas Pendidikan Provensi Jawa Timur, Mei 2011.” 10. Malsasa X Retropeksi Malsasa Surabaya 722, Sidoarjo: SutuKata Book@rt Publising. Sementara antologi sajak tunggalnya di antara lain: “Rapsodi Mawar dan Gerimis” (Ganding Pustaka, Yogyakarta, Juni 2015). Papareghen: Pantun Madura Puisi Abadi, (Ganding Pustaka, Yogyakarta, Juni 2016). Kini tinggal di Jl. Jembatan Serang 3, Tanjung, Pademawu, Pamekasan, Madura, 69381. Email m.tauhed.s@gmail.com Hp: 081230335522