LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Sugik Muhammad Sahar di Rubrik Bahasa dan Budaya Harian Rakyat Sultra, 05 Desember 2017




toptenz.net624 × 351
TEGAK LURUS DENGAN AREK LANCOR #2

--Untuk Ar

Kubiarkan tubuhku tenggelam
Dalam segelas rindu, kopi, juga kenangan
Barangkali, tak ada yang perlu kucemaskan
Dari detak jarum jam di lekuk tugu Lancor
Tempat dulu kita sandarkan kehangatan
  
Sampai tiba waktu: kudaki jalan ke hatimu
Juga kau, sesapi nadi hidupku
Hingga di sepertiga malam
Kita bermuka-muka dalam bayang sendu

Tapi malam ini, ada yang tak biasa
Jarak kita semakin samar dari pandangan
Wajahmu seperti sketsa di selembar mimpiku
Dan nafasmu terus rasuki kalbu
Hingga wajahmu mekar
Di beranda harapaku

Kita tak pernah menyangka
Bahwa jarak menghapus batas kepastian
Hingga kerinduanku tegak lurus
Membelah kabut penantian

Pamekasan 2017

PANOBIN

Pertapa di antara cupu-cupu sesaji
Saat cecap lidah terpukat di bukit puting sari
Dimana gantang-gantang nyeri bermula melampaui diri
Tanpa canggung memanggul segenap isi:
                                             Ah, sebab apalagi yang masih tersembunyi
                                             Dibalik tipis rintih selang ulu nadi

Selagi langit meniadakan bulir hujan
Ia mendirikan cukup sumur
Bagi hausku yang bersarang
Karena baginya, menadahkan tangan tak pernah terbayang
Kapan akhir dari tandus airmata perempuan
Hembuskanlah sepenuh udara !
Taburkanlah segenap rahasia !
Maka, sendiri aku binasa

Misalnya tak ada hari ini
Dimanakah tandang batas
Jantung angin menyembunyikan nafas
Sebab katanya,
Pada selangkangan kedua kaki aku akan terlahir
Pada selangkangan kedua kaki aku bisa berakhir

Tuhan, aku mengenalmu
Dalam buncit perut ibu

Pamekasan 2017


MADURA DALAM DEKAPAN 

Pada lautmu limpahan pekat asin garam
Bukan sesaji sampan dimana pagan-pagan tumbuh menjulang
Adakah sebab yang dapat dilipatkan
Saat nelayan melarungkan jala-jala kerinduan
Merebut tali pukat yang siap diimpikan
Begitulah awal sebab, garammu mengalir di sekujur badan
Merumuskan layar-layar ingatan, sebelum benar-benar berkembang

Pada tanahmu mendekap selimut madu
Bukan rokat tanah dimana aku tumbuh diasuh
Belajar mencecap sari-sari mayang di mulutku
Beras ketumbar dan sekerat daging sapi yang kau janjikan
Adalah isyarat kepulangan
Sebelum luruh meja-meja persajian

Aku bergegas dengan rasa was-was
Masih adakah takdir dalam hisapan daun tembakau
Dalam irisan tipis rintih ibu
Sebelum orang-orang melipat jarak menuju hulu

Madura dalam dekapan
Madura tanpa garam
Tak terbayang

Pamekasan 2017

Sugik Muhammad Sahar lahir di Pamekasan 30 Mei. Alumnus Program Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Madura. Menulis puisi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Madura. Pada tahun 2017 karya-karyanya pernah dipublikasikan di Radar Madura, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Jawa Post, Haluan Padang, Rubrik LiniFiksi, Rubrik Sastra dan Budaya Harian Sultra, Banjarmasin Post, dll. Kini menetap di Kampung Halamannya Sendiri.