LABANG ARSIP

Puisi-Puisi R. Timur Budi Raja, Muchlis Zya Aufa, Moh. Hamzah Asra, Bernando J. Sujibto, M. Faizi, Hamidin, Mahwi Air Tawar, M. Fauzi, Juwairiyah Mawardy, Sofyan RH. Zaid, M. Zamiel El-Muttqien di Majalah Sastra Horison 2006, edisi Khusus (Madura).

Foto oleh: Rusydi Firdaus



Puisi-Puisi R. Timur Budi Raja
Gambar Cinta Empat Belas Purnama

                        -gustisa yang nyunggih bulan
sore tembaga yang pias di barat itu
adalah sore riak hatimu, sehabis gerimis yang tak mengenal arah angin
mengawini sekujur tubuh empat belas purnama
: dirimu.

anak-anak sungai mengalir
membuat pertikungan penjuru. memecah kesunyian yang beku
dengan gemericik suara-suara jernih dan cinta. membelah ladang-ladang kemarau,
menyapa tanah-tanah sengketa dengan rindu yang menyala.

gustisa,
sore tembaga yang pias di barat itu
adalah sore riak hatimu, adalah sore riak hatimu!

2003

Koji

koji, mengapa aku lupa alamatmu? dan nyanyian yang saja terdengar seliris dari televisi —
nyanyianmu—, tak sejenak pun mengantarkanku pada ingatan, dimana kita pernah menari di bawah bulan, di malam menunggu pesta panen sehabis agustus yang cemas itu?

pematang yang membuka kepergianku dan membujur searah dengan muasal semayup suara seruling
yang suka mengalir ke kamar kita itu, tempat matahari dinyalakan tiap fajar tiba katamu, semakin tak
kukenali perangainya. oi, pulang. mengapa pulang sekadar menjadi kerinduan yang sia-sia? dan jalan-jalan ke rumah kita yang pernah kugambar di buku harianku dulu, kini mengusam-menyisakan kenangan dari raut gerimis yang gemetar.

koji, mengapa aku lupa alamatmu? dan nyanyian yang saja terdengar seliris dari televisi —
nyanyianmu—, tak sejenak pun mengantarkanku pada ingatan, dimana kita pernah menari di bawah bulan, di malam menunggu pesta panen sehabis agustus yang cemas itu?

Bangkalan, 2003-2006

Tenger*)

kaukah itu yang berpusar diam, bertiup semayup perihalnya angin,
lantar berdiri di pelupuk membuka pintu ingatan?

aih, mengapa ada juga detik-detik yang nakal membangunkanmu
dari sudut yang jauh, membuatkan ketersiaan waktu di tengah keramaian
gelombang kerusuhan nasibku?

aih, mengapa dari lagu ke lagu, parfum ke parfum kau tak goyah
untuk kesetiaan menghidupkan malam-malam
upaya pembunuhan diriku?

kenanganku,
bila airmata yang melahap seluruh risauku telah sempurna habisnya
demi membalasmu: berjanjilah untuk tak lagi menemuiku,
bila subuh yang tiba nanti menjemputmu beranjak ke barat
dan menjadikan namamu mempelai
kepada permulaan yang lain.

dan kebisinganku kelak,
menziarahimu kembali.

2003-2004
*) Sebutan lain untuk desa Sukomulyo di Gresik, Jawa Timur. Artinya, tanda.

Widji
            —selamat jalan!
I
sore itu, kami menangkap cinta
dari karto pos yang kau kirim
bergambar dirimu

siang itu, kami semua menangis
menerima karto pos
bergambar kematianmu

II
sore itu, namamu kekal dibawa
sore itu, sehabis jam dua belas siang
yang serak dan berkeringat,
kami kehilangan wajahmu

kini, kami telah sampai
ke alamat yang kau tuliskan dulu
tapi, tak kami jumpa dirimu
kami telah kehilangan wajahmu

widji, api telah menyala
memenuhi halaman
kami kehilangan wajahmu,
kami kehilangan alamat suaramu

III
kami tengah membacamu,
saat petugas kantor pos datang menyampaikan
sebuah kartu bergambar kematianmu

kami saling bersitatap
dan kau tahu, widji

sejak kabar yang tiba-tiba itu
tenunan tahun-tahun keheningan
jadi anyir dipenuhi api
dipenuhi api.

Bangkalan, 2004

Teresia

pintu yang terbuka, theresia, adalah jalan masuk ke sorga bagi para pejalan yang membawa sedih nasibnya. pintu yang terbuka, theresia, adalah palang-palang kayu sederhana yang memberi ruang buat siapa pun yang datang.

: lalu, api pun dinyalakan dari tungku perapian abadi.

hanya palang-palang kayu sederhana yang membelah dirinya demi lalu-lalang udara. hanya pintu
yang terbuka, theresia.

Bangkalan, 2003

Biografi Asbak Kayu

asbak kayu yang kau bikin kemarin
tadi pagi masih begitu dalam mengendapkan kenangan
ketika engkau sesahabat akrab sekali bercakap semalam.

tadi siang asbak itu terbakar juga jadi arang
ketika engkau sesahabat saling berkokangan senapan
dan bertikaman setajam mata pedang.

Bangkalan-Surabaya, 2001

Puisi-Puisi Muchlis Zya Aufa
Senja Masih Mengenangmu

senja masih mengenangmu
putih cuaca
nyala debu
lalu bekas desahmu
mengantar pilu ke desir-desir perdu

aku ingin luruh
diucap angin
pada kebisuan kemarau
begitu menggairahkan akar-akar tulang
hingga tak terasa
apa pun yang bertangan
mungkin samaran waktu
tak tahu memungutku

di sini
penantiankukah ini
seringkali membuatku terdampar dan berdalih kenangan
tertimbun syair dalam gelora gugup

degup jantung
atau sebuah nama telah menindihkan jelma
tiap derak reranting menabur rupa
lalu bergema
layaknya duka di pepucuk kata

mimpi
ya mimpi
jika masih bergantung pada matahari
masihkah meminjam warna tubuhmu
biar kujawab tusukan ufuk
dengan kelopak lekukmu

sayat tipis desis batu
suara langkah dalam angan
ingatan seperih bisikan
kelam dan mengancam:

kapan kau datang
petang di atas siwalan telah menelan bulan

yogyakarta, 2006

Ikhwal Taman

di mataku
kau rentang januari
mimpi
gemerlap kota
lalu isyarat lusa
tersumbat air mata

bibir-bibir kita
suara tarikh yang menggeliat
atau kekakuan histeris
lantaran sering bersanding kehadiran buta

di taman
di antara semak bulan
yang sering kucaci dengan pahit darahku
mungkin kita tidak sedang bertemu
tidak menemukan apa-apa
kecuali ingin menegaskan
bahwa kita sama-sama punya januari
kau rentang ke mataku
lalu matamu semakin berliku

kita bertemu
karena wajah kita masih serupa
penuh malam
dan celahnya berjubah matamu

kemudian aku tak tahu malam
di luar kata
seperti
ada yang tersalib
petang menjerit dari bibirmu
di sisinya aku mati sebagai nasib

Yogyakarta, 2006

Di Akhir Kalimat Ini
            -palestina

setelah kalimat ini
merintangi bunyi retakan airmatamu
apa yang usap di keningku

tangis cahaya di gurun gerimis
mungkin juga kaku waktu
telah mencuci bekas darahnya di sungai tulang

di bawah tiang
seorang bocah
pada genggaman gigil hampir patah

butir peluru selalu menghidangkan kehilangan tahun lalu

setelah kalimat ini tiba di tangismu
aku memekat ke hamburan burung-burung
meluncur dari hangus matahari
mengguratkan pucat cuaca
ke anyir gemetar kata

butir peluru
mungkin tak punya rindu

Yogyakarta, 2006

Muchlis Zya Aufa lahir di Sumenep, 04 April 1983. Saat ini masih kuliah di Jurusan Aqidah Filsafat Fakultas Usuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain menulis puisi, juga menulis cerpen, esai dan opini. Tulisannya tersebar di berbagai media massa  baik lokal maupun nasional.


Puisi-Puisi Moh. Hamzah Asra
Di Tikungan Ini

jalan-jalan bercabang menunggumu. kedip mata angin
di jendela purba, mengajakmu mengunyah batang matahari
lembar-lembar luka yang menempel di dinding sajakmu,
usaplah dengan sapu tangan gerimis
            kata-kata tak lagi rahasia
            sejarah pun semakin asmara

di tikungan ini, tanganmu  meraih nasib
kau mengunyahnya berbaja-baja. hari semakin belantara
aku terperangkap di ujung senja. sayup-sayup kerinduan
berkelindan. matamu menjelma buaya
mengintaiku di batas waktu yang paling perkasa
seumpama romeo-juliet, aku napas di dadamu
            berdetak badai

malam-malam tembaga. malam-malam cuka
matamu nanar menunggu cahaya
garis kesunyian tersungging di ranting pepaya.
aku menimang-nimang teka-teki masa depan.
di luar, risau suara hantu
memecah gendang cakrawala
mengajakku menafsir ulang geletar cinta.

Maret, 2006

Sketsa Kalender

kalender ini begitu ramah mengusap
letih wajah ibu: sunyi kasih sayang
bertahun-tahun meredam teror
aku memahaminya samudera
tempat mencuci luka

dengan jemari gerimis, kubuka lembaran
kalender ini. tak ada riak. sebab hari-hari
tak lagi bunyi, melainkan lembut melati
tumbuh mengakar di urat nadi
           
badai berkecamuk di dinding rumah. angka-angka kalender
pecah berhamburan. satu persatu kupungut. aku terjebak
di deretan angka-angka merah. aku tak bisa pulang
                        senyum ibu meneteskan salju

April, 2006

Sajak Akar

yang tersisa hanya sebuah akar
serupa jalan-jalan menikung di keluasan tubuhmu
satu mengalir ke arah jantungmu, lainnya melingkar di otakmu
tajam matahari tak habis membakar kesabaranmu
mengunyah bebatuan dan tanah berapi

ketika hujan menyentuh tubuh bumi
akarlah yang terlebih dahulu mengekalkannya
lantas memintalnya jadi udara
mendesir menelisik pintu-pintu tanah
beribu benih yang kautanam di ladang ini
tumbuh menguncup jadi bintang-gemintang

April, 2006

Sebuah Catatan Tentang Senja

senjalah yang mengalirkan sungai kecil
di dadamu. sebuah perahu putih kautambatkan
di muara. inilah kendaraan terakhir buat kita hijrah
menjelajahi urat angin yang beranak-pinak
di keluasan kening para nelayan
anak-anak kecil tanpa beban
menyaksikan wajahnya ditikam ikan

pelangi masih setia mengisahkan betapa getir
burung-burung camar memintal-mintal ombak
dan mematuk-matuk paruh ikan. luka berdarah-darah
seperti ketika khidir menenggelamkan gugus mimpi anak-anak
aku pun bergegas menyelami lautan: mutiara ini masih saja cahaya

pada senja yang terakhir, garis-garis takdir
begitu jelas terurai di bilangan abad-abad zikir
kita gagal mengunyahnya dengan geletar badai
doalah mata hati, tajam membelah dada matahari
dalam gugur bunga zaitun

April, 2006

Di Batas Sunyi

rumah-rumah tinggal bisik. suaramu parau.
abad-abad terus mencengkeram
leher-leher doa. ketika sebuah busur panah dilesatkan
dadamu terbelah, burung-burung berhamburan
dari rimba rambutmu, lantas melintas
menyusun sarang baru di rimbun ranting dhuha

di batas sunyi, getar kecemasan jantungmu
semakin mengental. serupa tangkai waktu
yang rapuh, batu-batu sejarah mulai bergeser
ke ruang yang lebih terbuka. aku masih setia
memahat wajah purnama. pada bilangan zikir kemarau
kuurai daun tembakau menadah embun
bianglala. ladang-ladang tahajjud adalah rahimmu,
kelak janin kesadaran matahari mekar
menemukan ventilasi nafasnya

kau usap debu-debu yang beranak-pinak
membentuk gumpalan kekhawatiran laron-laron
serupa jalan-jalan menukik tajam. bercabang-cabang
jari-jemarimu lelah menghitung
kegamangan gemintang menyingkap awan
seperti kita sering lupa bahwa pada sepoi
kumandang azan, nafas kesabaran
rerumputan menegar

Mei 2006

Sajak Bunga Kemboja

setiap kupetik bunga kemboja
kumbang di putik rintik gerimis
mencairkan batang matahari
di dada perawan larva kegelisahan menjelma
peta luka kemarau, hari-hari yang berbatu

di pekarangan hatimu yang basah
bunga kemboja tumbuh dewasa
kelak kupu-kupu menetek madu di putingnya
di laut, seekor camar menggaris pelangi
sel-sel angin lindap di jantungmu

bunga kemboja ini tetaplah ibu
tegar kelasi di tengah rimbun badai
sementara tanah ini kini berdarah
ketika kematian tak lagi baja

April, 2006

Surat-surat Tak Terbaca

angin masih belia, surat-suratmu
tak sempat kubaca dalam perih keringat
perihal lagu kemarau meninabobokan napas rerumputan
yang tumbuh liar sepanjang jidatmu
matamu semakin purba
ketika rerumputan itu berubah duri waktu
sesekali melukai kulitmu yang beludru

udara tropis meranggas di pucuk-pucuk tembakau
rumah-rumah kehelingan senyum. wajahmu semakin lengang
seperti duka anak tetangga yang ditinggal ibunya
tiba-tiba aku teringat sepenggal ceritamu
tentang seirang pengemis tau yang selalu
menggedor-gedor pintu kemarau usiaku

surat-suratmu masih tersimpan rapi
di almari hatiku. mataku terlalu asing menyiangi
debu jalanan yang seringkali menikam jantung matahari
hingga tembaga. seperti hari-hari kemarin, kulipat
pesan ramah reranting cemara menyapa angin
dalam napas panjang doa-doa sembahyang
kelak akan kulukis ranum senyummu
mewarnai perjalanan sejarah angin yang gemetar

berapa mil lagi harus kucicipi manis elektron pelangi?
abad-abad terus berlari dalam alpa tawamu
di beranda ini kita perlu berhenti sejenak
mengunyah hari-hari yang berbatu
lantas menanam benih cinta bumi pada matahari
biarkan surat-suratmu memfosil
menjadi jejak musim  dalam beranda sunyi sajak-sajakku

April, 2006

Moh. Hamzah Arsa lahir di Sumenep, 15 Maret 1979. Alumnus TMI Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura. Mengabdikan diri di almamaternya sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia sampai tahun 2005. Aktif sebagai pembina Sanggar Sastra Al-Amien (SSA), koordinator Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SSRI) Madura, Dewan Redaksi Majalah Santri Qalam dan pemimpin umum buletin Sastera. Puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media massa, a.l. Horison, Surabaya Post, Kuntum, dan Arrisalah. Puisi-puisinya juga termuat dalam beberapa antoligi, yaitu 209 Bergerak (1997), Airmata Rindu (1999), dan Cahaya Kata (2003). Kini merantau ke Jakarta sebagai freelance sambil mempersiapkan rencana studi S2-nya.

Puisi-Puisi Bernando J. Sujibto
Ke Madura Pulang Sebentar

            karena kenangn
            musti diamini...

Di Madura, aspal makin hitam saja
dan jalan-jalan lebih terjal. Lantak-lantak
siapa yang telah memerah habis manis sari mayangmu?

lautan diam
mataku karam

tiba-tiba aceh dan yudikimo
bergantian melambaikan tangan
memahat bebukit ranggas di mataku

Madura-Jogja, 2006

Jum’at, Jam 05.00
putik embun memutih
            :kh. waqid khazien

napas ini dalam lingkaran
semesta barat dan timur
adalah jalan lurus ke asal mula
dalam satu kereta, orang-orang berbeda jurusan
—menunggu waktu yang sepi

yang tersisa di mata mereka
adalah masa silamnya yang karam
musim tak mengeja matahari
matahari tak selesai mengeja lautan
dan lautan
                        kerontang

di sana
bulan tak terbayang
gugur setangkai-setangkai

Nirmala, 16 Januari 2004

Kisah, 5
bibirmu melengkung seperti langit
dan aku bertekuk pada gincau bianglalamu
ketika kau mengecupku—
            sungai-sungai di dadaku ranggas

Suatu Malam Ketika Aku Meneleponmu
                        —Dina-Dwi

suaramu adalah bukit yang gersang
batu-batu mengeram di dadamu
dan badai tumpah begitu saja dari mulutmu

cukup hitam kenangan mekar di perutmu
setelah hengkang dari kamar sekarat itu
engkau menggenggam setiap sumpah yang tumpah dari mulutku
lalu menaburkannya ke tengah semesta
dan kau berteriak:
“ber, biar semua tahu bahwa janji itu luka!”

suatu malam
ketika aku meneleponmu
tak ada lagi suara yang musti kucatat
selain batu-batu mengeram di dadamu

Jogja, 2006

Bernando J. Sujibto, lahir di Tanggulun, Montorna (pelosok paling barat) kota Sumenep, Madura, 24 Februari 1986. Masa remajanya dihabiskan di Pondok Pesantren Annuquyah bersama guru-guru sastra yang telah menyuruhnya meneruskan kembaranya hingga ke Yogyakarta hari ini. Menulis resensi, cerpen, esai dan puisi di sejumlah media lokal ataupun nasional, termasuk majalah Horison. Puisinya juga dimuat di Risalah Dua Jari (2002). Kumpulan puisi tunggalnya, Ritus Sabda (2005).

Puisi-Puisi M. Faizi
Rusuk Langit Lancaran

Juli menyeka keningnya
keringat musim yang ditinggal dingin
berbulir, seperti bintang kemukus
memerciki ladang-ladang tembakau
lalu, langit hilang warna dasarnya

Rusuk langit Lancaran, sebelah kanan
patah oleh hempasan musim
kemarau, kemarau
engkau membara di dalam pikiran
tetapi seperti pandai besi menempa nasibnya
di situlah percik api hidup kami dinyalakan

Rusuk-rusuk langit berpentalan
berserakan di lahan tandus
di mana air dan nyawa
nyaris berimbang dalam selisih harga
lalu, burung-burung gagak itu
datang mengumumkan kecemasan
melayang-layang dari semua penjuru angin
membekukan ketakutan kami untuk ingin
mereka merabunkan mata
agar kuat mengisap udara

Rusuk langit bulan Juli, Lancaran
kubacakan untuknya mantra-mantra
agar para peneluh dari masa silam
beduyun-duyun mengembalikan sejarah
yang hilang dari cuaca

Lihatlah, ke langit yang lampang
ada luka besar, berlubang
kini, kita bebas melihat
bagaimana langit menghirup
udara bumi kami yang mulai berkarat
menggumpal, lalu jadilah hujan keringat
untuk memandikan jenazah para petani:
pahlawan yang dikubur di luar ingatan

11-07-2006

Sejengkal Lagi Menyentuh Langit

Jentik petir
jemari langit
yang menggigil
saat menghunjam titik nadir
menggetarkan keberadaanku
sabagai manusia yang selalu berpikir
melalui napas dan dingin

Sepanjang musim, sepanjang hidup
langit-bumi bertukar kabar
tentang keinginan-keinginan manusia

Dari bumi,
kujentikkan jemari ke langit
mencari napas nenek moyang
yang pergi untuk melupakan batas-ruang

Dari langit,
petir masuk ke sebalik bumi
menjentik syahwat di tanah maksiat
yang menjadi kerak di dalam otak

Malam, sejengkal lagi pagi
hidup, sejengkal lagi mati
dan, hup, bismillah kubaca
aku melambung, pulang ke rumahku
bersama petir kembali ke angkasa
sampai sejengkal lagi menyentuh langit
biar dapat kulihat dunia
lebih kecil dari yang semestinya

22-06-2006

Di Bumi Tak Ada Lagi Rahasia

Bumi
rumah sekalian kami
adalah bayangan
yang batasnya akan raib
saat sumber cahaya dipadamkan

Dan, rahasia-rahasia tak ada lagi di sini
yang bergerak dalam pikiran
yang berdetak dalam hati
saling dicuri dan diperjualbelikan

Rahasia-rahasia menyingkir
dari muka bumi ini
yang sakral dan profan
yang maya dan nyata
semakin tipis batas nilainya

Di sini tak ada lagi rahasia
hanya di langit, rahasia Tuhan tetap terkunci
sedangkan di bumi,
berharap sembunyi pada puisi

21-07-2006

Baghdad

Malam buta di ibu kota
tiba-tiba, semburat cahaya di langit berserakan
bukan kembang api tanda suka cita
tapi sebuah letusan
yang membuat penonton bergelimpangan

Oh, Baghdad
setelah bertahun-tahun kerendam tubuh
di sungai Tigris dan Ifrat-mu
kudengar adzan tengah malam
mungkin dari masjid Mirjan
juga tangisan yang merana
mungkin dari padang Karbala
setelah itu, disusul suara nyanyian
mungkin Harun ar-Rasyid berdendang

Letusan, adzan, tangisan, dan nyanyian
aku telusuri, di atas ruas jalan tak bertepi
dan mungkin juga tak berujung
sepanjang siang yang membakar
dari Basrah ke Kufah
namun manakala malam turun
aku rehat sambil membaca puisi Abu Nawas
serta mengenang masa kejayaan Abbasiyah:
Al-Mansur yang membangun istana
hingga Hulagu Khan yang merobohkannya

Malam begitu panjang
malam yang tak pernah selesai
seribu satu malam perjalanan

Aku memanggilmu, Baghdad
tapi malam-malammu membutakanku
tersesat, lalu kembali memasuki gerbangmu
dengan tubuh cabik tanpa senjata
rakyat menyambut dengan air mata
diiringi ‘aud dan rebana
ber-mawal tentang kota dan anak-anak yang mati
juga para ilmuwan yang kini tiada lagi

Baghdad, kini aku berada di hadapanmu
memasuki kota dengan mata buta
adzan berkumandang, entah dari mana
diiringi tangisan orang-orang
sambil tak henti-hentinya bertanya:
“Mengapa kota yang turut membesarkan dunia
justru dianiaya oleh anak
yang telah menyusuinya?”

07-09-2004

Permaisuri Malamku

Kerlip mata malammu
jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku

Kita memang tidak saling bersama
sebab ruang tempat aku duduk
di balik meja melihat cahaya cakrawala
begitu jauh pada batas dimensimu

Di sini, aku telentang sendiri
menatapmu, pendar-pendar kristal bertaburan
yang indah karena berserakan
kelipnya, jumpalitan bintang-bintang di sana
aku menakar batas akhir kemampuanku
menjangkau sumber cahaya

Malam membangunkanku
pada kehendak membuat perhitungan
antara gelap dan kebekuan
atau siang dan kecemasan
lalu kutulis sebuah surat untukmu:
malam adalah matahari terbenam
meski tak sungguh terbenam

Maka, kedip matamu
ribuan bintang, jumpalitan dalam sekejap
dan aku segera menghitung nasib
memang benar, kita tidak bisa bersama
bagiku ruang, bagimu waktu

Kujulurkan jemari
menangkap dengan tangkup
berdebar dalam takut
hujan bintang-bintang
ke halaman luas mimpiku
menghamburkanmu ke serambi tidurku
aku menghitung-hitung saat
berbagi dua dengan waktu
menjadi satu dengan malammu
dalam ingatan yang tak lengkap
saat cahaya bermakna bagi gelap
dan kubiarkan sepi melukaiku:
butuh perih untuk menghargai nikmat

Permaisuri malamku
selalu datang dengan tanpa kehadiran
dalam rentang yang tak terjangkau pandang
karena jarak yang menghubungkan aku denganmu
semata patahan-patahan garis
yang tak henti-hentinya digabungkan
dalam sebuah pengadaian

27-06-2006

M. Faizi, lahir di Guluk-Guluk, Sumenep, 27 Juli 1975. Dibesarkan dan kini tinggal dilingkungan Pondok Pesantren Annquyah, Guluk-Guluk. Karya-karyanya, terutama puisi dan terjemahan, telah dipublikasikan di berbagai media lokal maupun nasional, juga di negeri jiran. Di samping terkumpul dalam antologi bersama, seperti Antologi Puisi Indonesia 1997, Jakarta dalam Puisi Mutakhir, Filantropi, dll. Puisi-puisinya juga diterbitkan dalam sebuah buku kumpulan puisi tunggal, 18+ (Diva Prees 2003), dan Rumah Bersama (Diva Prees). Karya lainnya yang telah terbit adalah prosa lirik, Sareyang (Pustaka Jaya, 2005).

Puisi-Puisi Hamidin
Semusim

benarkah musim ini ditakdirkan
untuk menyemai pada saja?

kembang jagung dan parfum bumi
ringkih daun pisang dan rengekan ilalang
serta angin kencang adalah sepenggal
musimmu yang menjejak di bait-bait tasbihku

jika bulan berpijar api, tanah mengering
meninggalkan sunyi, senyap menyayat tradisi
kesepian akan kau huni sendiri, tanpa sebutir melati

ketika sepi melabuhkan sunyi melempar sauh kesenyapan
dari dermaga ini kau akan bergumam:
di mana bulanku?
yang dirajam dengan air sorga, ditempa dengan batu pertama
dan yang direndam di pusara air mata
aku ingin kilatannya menghantam dinding pelaminanku
biar luluh keperawananku, dicabik-cabik harimau itu.

28 Januari 2005

Untuk Apa Kau Datang ke Sini

Kulit bumi mengelupas
larut dalam keheningan air matamu
Embun berbondong-bondong mengiris
kesunyian cagak langit
Aku menyusup di keremangan
kabut itu mencari trotoar
di ladang-ladang rindu

api memuntahkan kata-kata
tiap hurufnya adalah cuaca
dan serbuk musim menjelma
putik-putik nasib di kantong-kantong senja

“untuk apa kau datang ke sini,”
katamu

Malang, 2003

Email dari Kekasihku 2

di pinggir musim
gerimismu
: Gigil aku dalam badaimu

Malang, 23 Februari 2004

Penggalan Musim
Katakan pada Sainul Hernawan

penggalan musim tersungkur
di garis depan akhir pijakan

kedinginan meronta-ronta
dalam dekapan dan selimut malam
kerinduan pun membatu, menjadi gumpalan salju menjadi kerikil waktu
dan kita akan memungutnya kembali dari halaman
ketika kesunyian rebah menjadi jalan kecil untuk pulang

penggalan musim terkapar
di garis depan akhir pijakan

jika kemarau lupa akan musimnya
bulan temaram, matahari semakin berpijar
ombak hilang gelora, sungai mengungsikan batu-batunya
dan kita akan membiarkan ilalang-ilalang
tumbuh menjadi kerinduan kita yang liar

pada penggalan musim ini,
kapan angin yang kita teguk
menjadi bait-bait puisi dalam diskusi kita
di pagi hari?

Malang, 28 Januari 2005

Hamidin, lahir di Sumenep, 1979. Alumnus FKIP Bahasa Inggris Unisma ini belajar menulis sejak 1996, mula-mula menulis di majalah Santri, Surabaya Post, MPA, tabloid Asah-Asih-Asuh, majalah Syir’ah, dan harian Duta Masyarakat. Pemenang harapan 2 lomba menulis puisi tingkat SLTP-SLTA se-Madura dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup di Bangkalan, 21 Juni 1998. Pemenang 3 lomba menulis puisi tingkat mahasiswa se-Malang yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negri Malang (Oktober 2003), pernah nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep. Sekarang aktif di Sanggar Imajinasi, Universitas Negeri Malang.

Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar
Sajak buat Eppak Embuk

keluh letih kukafankan
pada kedalaman ceruk
beriring gelombang
kuberangkatkan sampan
meski jantung gigil, tapi biduk terus kukayuh
hingga dataran sesamar damar di antara balik gubuk

aku lempas jala, kuselami ombak hingga ceruk
kubiarkan layar tak tanggal dikawin angin
mengantarku menuju pulau pengembaraan
yang terus mengerang rindu:
rindu pesisir putih, membenihkan bunga laut,
lokan-lokan, serta air tawar penawar terapi
bagi jiwaku yang terlalu letih menyeberangi
laut lepas. tak sanggup menghempas anak-anak ombak ke tepi.

O, Eppak, Embuk
bagaimana aku mesti menerjemahkan isyarat laut?
sedang sampan terus terhempas
pada kedalaman ceruk. gelombang yang terus memanjangkan
kecemasan angin saat layar mengembang?

2006

Di Tepi Jurang Lengang Batuputih
Mafhtuhah Jakfar

seperti penggali batu, kamu-aku tak habis-habis menggali
meski akar-akar kikis tertebang, batu-batu menggelinding
selalu, kamu-aku menggali jagad ingatan di perbukitan lengang

di tepi jurang. entah, bagaimana kamu-aku mesti melubangi
sesenti bumi? Sedang erang kesakitan letih ranting-ranting, luruh tergadai
dan sisa batang buat anak cucu tinggal seujung kuku

di tepi jurang lengang
bebatuan biarlah meruncing
ruas jalan menuju bukit
tak sesempit gang untuk kamu-aku masuki.
bunga-bunga mestilah bersemi
biarlah semesta bangkit dengan segala gemuruh alami
bukan cerobong mengepulkan asap hingga jalanan terkatup kabut
mengawali kicau burung diujung ilalang

2006

Selepas Hujan

dan langit yang melengkung
membentang busur panjang warna-warni
itukah pelangi? bisikmu
gerimis meleleh memanjang di sebalik dinding
dan kemudian rebah; berkecipak di lantai basah
kenapa tidak pada tanah? tanyamu
sebab tanah tak pernah letih
juga bumi, biarlah menggembur
seperti juga daun yang tak pernah gugur

pada tangkai, daun berbisik tentang gemerisik:
bila akar terbang. adakah angin dijelang?
hujan tak kenal ranting
bumi, juga matahari.
tak pernah khianati janji

Yogja, 2006

Bila Aku Mengenang
:Dewi

mencumbui angin: melalui helai rambutmu
aku terkenang ranting-ranting pohon
yang patah di halaman rumah dan perkampungan.
Maka, izinkan aku membakar dupa, memantrai semesta
Agar jagat menguat pada titik awal permulaan

Menyaksikan kupu-kupu dari balik jendela
Aku terkenang masa kanak yang hilang
sebelum senja menanggalkan segaris cahaya
Di ruas jalan kampung tempat kamu-aku bermain

Membuka buku harian, aku terkesima
pada warna pena yang pernah kau tumpahkan
di malam kelam
kamu-aku saling bertutur, mengenang
kampung halaman yang tenggelam sementara, usia kita semakin menua.

Jogja, 2006

Catatan Malam

seusai gerimis membasahi alas tidurku juga tidurmu
di tanah pasir, di halaman panjang; kamu-aku mengarak waktu
menapaki jalanan setapak menuju pusara
berbau kembang kecubung. bergoyang dan beserak diselembar almanak
lalu kamu-aku menandainya saat langit terkatup kabut.

tapi masih seja, seusai gerimis, selepas jam dua belas malam
ketika sulur cahaya fajar mekar, kamu-aku lupa busur biosfer,
tanah-tanah basah melembab, halaman berpasir memanjangkan
kisah-kisah keluh letih. tak berkusudahan. memahat
kerut merut wajah kamu-aku yang terjebak oleh mantra akrobat

lihatlah, bulan dan bintang menggantung di antara alis mataku juga matamu,
bias menelusup ke sel darah mendetakkan jantung
sabit bulan meremangi halaman berpasir tempat kamu-aku berbaring
berbagi cerita tentang gerimis, dan matahari yang mulai kusut ke barat
dari balik awan yang mencipta cuaca yang kelabu
menjadikan gerimis alpa diselembar almanak yang masih berserak;
di manakah kita berada; mengawali waktu yang keramat

29-03-2006

Mahwi Air Tawar, lahir di pesisir Sumenep, Madura, 28 Oktober 1983. Beberapa karyanya, cerpen dan puisi, dibuplikasikan di Kompas, Horison, Suara Pembaruan, Republika, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Bernas, Wawasan, Mimbar, Tren, Info, Perlementaria, dll. Puisinya juga dimuat dalam antologi Derai Merah Putih (2003), Mata Saksi (2002), Atjeh Sebuah Kesaksian Penyair (Galang Prees, 2004), Tiga Penyair Timur (2006), Sepasang Bakicot Muda (kumpulan cerpen, 2006). Bergiat di komunitas Lingkar Sastra Lepas. Ketua Divisi Sastra Sanggar Suto Yogyakarta. Penggerak Rumah Baca Puitika. Tinggal di Yogyakarta.

Puisi-Puisi M. Fauzi
Perempuan dalam Loteng

perempuan dalam loteng itu adalah si Mirna, tepatnya bernama marnindah binti syafiuddin
halte itu mengantarnya pergi ke jalan meranggi yang merapat dan melipat wajahnya. 6 pagi.
                                                ia ke kota

“seakan lama keluarganya membuat sungai dari air matanya dan ladang yang tak bersungai”

                                                 -kisah 1:
Marni : aku ingin bertamu ke rumahmu Tuan dengan sejumlah
            risau penuh igauan panjang dan lapang!
Tuan  : masuklah, pagar besi itu akan membuat kereta
            malammu penuh mimpi tentang arsitektur sungai
            yang dalam dan asing!
Marni : Tuan, bisakah aku bermimpi tentang siang. pengeran!
Tuan  : masuklah, di sini kau harus setia tanpa banyak bertanya!

                                                -kisah 2:
“rumah beton itu makin dalam, sesiang kaki tuannya yang kejam, membuat tubuhnya mengeras
dalam kulkas dan pagar-pagar tak beralas”
pagi-pagi sekali 100 hektar tubuh tuannya lindap memenjarakan tubuhnya yang tinggal seperempat
badannya. kering kerontang keringat bertabur lebam
            siang dan malam, sesak penuh bebatuan

kelam tertanggal berjam-jam, lusuh tubuh penuh peluh berdam-dam,
seribu jarum di matanya,
                                                ranjang yang memaksa lenguh tuannya
(aturan kedua menenggelamkan rindunya pada sepotong jalan)

                                                -kisah :
Marni               : perempuan dalam loteng itu adalah aku, kamu
                          yang sekadar menerjemahkan luka panjang,
                          perjalanan
                                    tak siang, tak malam
                         lantaran tuan-tuan telah mengubur dan memaksanya menyusun rumah batu dalam
                         tubuhnya

halte itu telah membawanya tubuhnya ke kota
luka-luka tajam, menuai lebam

Sumenep, 25 Desember 2005

Perempuan yang Membawa 12 Kartu Pos di Matanya

                                                adalah perempuan yang membawa 12 kartu pos di matanya
biografi itu,
                        :rencana huruf-huruf yang tumbuh subur dengan parfum
seperti televonela yang gemetar menyusun kalimat-kalimat rindu,
konspirasi cinta, gelak-tawa,
                                                orang-orang membakar rumahnya sendiri, lantaran hasrat
tumpah tanpa kalimat syahadat
(dilarang buang sampah sembarangan)

                                                adalah perempuan yang membawa 12 kartu pos di matanya
biografi itu,
                        :vas bunga yang tumbuh segar di lidahmu
menuntun para lelaki mendengar sepasang percakapan hujan yang tumbuh liar dalam bar,
                                                meja yang mengabulkan niat rinduku tuk berjumpa denganmu,

sejenak, tik tok jam keluar jendela kamar
aih....
istriku mati, bunuh diri di depan televisi

Sumenep, 23-03-2006
Wasiat Qabil dan Habil

jejak itu yang mengabarkan berita tentang luka
dan surat 24 karat
                                    wasiat adam-hawa eksodus ke ladang-ladang tandus,
hingga qabil dan habil

:sejarah pertikaian sedarah yang menderitkan pintu persibakuan
Burung merak senantiasa menjelma manusia
                                                                                    setia
kepadamu

dalam jejak itu, aku mengenangmu dengan sejumlah
kenangan yang meremang,
dekat perapian dan jendela kamar yang tak usai menyusun gairah
panjang
                        lalu telanjang
jejak itu yang mengabarkan berita tentang luka
sejak berabad silam

Sumenep, 27-02-2006

Mengenang Vas Bunga

            :Anna
reportoar ini,
                        ngilu

lelaki setengah remaja menyusun rumah dari mantra,
kata dan pot bunga

kau anggap ia dewa, meski tubuhmu berbadan dua
“siapa yang salah dan siapa yang benar?”
                                                            ucapnya!

vas bunga pun terkenang!
(wanita yang alpa dengan sejumlah luka ditubuhnya.
kalau kau berjumpa dengannya, tolong katakan!
ada yang ingin meminangnya,
sehabis narasi hujan diucapkan)

reportoar ini masih saja ngilu
lelaki yang kerap menajamkan pisau di hutan belantara,
                                    merajam-kejam, hingga rimbun belukar
membakar
                        :Anna
kini, peluh yang berpuluh-puluh telah menyempurnakan luka di tubuhmu,
                        sesak dan penuh isak
                                                            hingga tangis bandang

Sumenep, 10-02-2006

Non, Kupenggal Kau

nOn, kupanggil kau,
                                    huruf-huruf yang mengalir sungai jauh
ke dasar
lanskap gelap menemu tuhan
ya, jalan berputar itu, kini meruang melarikan diri_
                                                                        menguburku diantara nOn, lanskap, dan kenangan
nOn, kusebut kau,
                                    seperti hujan membuat samudera tanpa doa
dan isa di bukit tursina itu berucap mantra_
                                                                        cinta yang semestinya menguburku diantara
                                                nOn,
lanskap, dan kenangan
nOn, kuziarahi kau,
                                    semenjak bumi dilahirkan, semenjak luka adam bersemayam di tubuh hawa,
keperkampungan tubuh manusia, yang seharusnya
                                                            menguburku diantara nOn,
lanskap, cinta, dan kenangan

nOn, bukanlah alif atau ba’, yang dijadikan pasak
tapi,
nOn, kupenggal kau,
                                    melebur-kabur
                                    jasadku diantara nOn, lanskap, cinta, kenangan, dan tuhan

nOn: huruf-huruf dzikir ke hilir mengalir bersama khidir

Sumenep, 16-03-2006

M. Fauzi, lahir di Sumenep, 04 Juli 1979. Karya-karyanya dimuat di beberapa media massa, antara lain: Radar Madura, Jawa Pos, Horison. Juara 1 Lomba Cipta Puisi Se-Kabupaten Sumenep (2004). Aktif membangun jaringan sastra di seluruh Indonesia melalui Poros Sastra Timur dan Masyarakat Sastra Sumekar (MSS). Alumnus STKIP PGRI Sumenep ini kini juga giat mengelola Sanggar Lentera. Tinggal di Sumenep Madura.

Puisi-Puisi Juwairiyah Mawardi
Kutuklah Aku Jadi Abu

kutuklah aku jadi abu!
lantas buanglah aku ke laut
berbaur bersama gelombang
meski laut punya tepi
dan waktu akan membawaku ke sana
kau tak akan mengenaliku lagi

mungkin saja
aku diantara pasir-pasir, batu-batu
keterasingan yang terdampar di situ

kutuk sajalah aku jadi abu!
serahkan aku pada angin
yang akan menghempaskanku ke laut...

Malang, Mei 2005
Aku adalah Bagian dari Perih Pedihmu

aku adalah bagian dari debu itu
di perih matamu
kerjapkan, hingga aku tiba di kemusnahanku

aku adalah bagian dari sembilu itu
di pedih jantungmu
lepaskan, hingga aku tiba di ketakberdayaanku

kau sanggup memusnahkan aku
sebab kau menguasaiku angin
tetapi, hampir usai waktumu
kau terus bertahan
dalam perih pedihmu...

Malang, Mei 2005

Juwairiyah Mawardi, lahir di Sumenep, 25 Juni 1977. Alumnus pesantren An-Najah I Karduluk, Sumenep. Melanjutkan pendidikan di Universitas Islam Negri (UIN) Malang, Jurusan Tarbiyah. Menulis puisi, sebagian terkumpul dalam antologi penyair perempuan Surat Putih 2 (2002), Surat Putih 3 (2005), dan antologi penyair se-Madura Nuansa Diam (1995). Saat ini aktif di Solidaritas Buruh Migran Indonesia (SBMI) Region Madura, sebuah LSM Buruh Migran.

Puisi-Puisi Sofyan RH. Zaid
Bulan Batang-Batang

Biarkan malaikat kecil itu, perempuan
terus melipat peristiwa dari puing reruntuhan waktu
ketika sepatah lata dari wasiat cinta yang kita puja
tiba-tiba moksa dimangsa malam dan terbitlah!
                                                Bulan batang-batang.

Putih perak kemerahan cahayanya
seperti bibirmu berkilau
memukau orang-orang bersamman,
meneguknya bercawan-cawan dan sakaw

lalu mereka lupa menusuk matanya sendiri.
dengan peniti emas Putri Jenang
Setelah seribu satu kali kalimahsyodoh ditembangkan bersama
sambil mengintip tanpa kedip,
dari lubang jarum paling lancip
menyerupai Dhamar atau Jenar
bertumpu pada kaki tunggal.

;Darah pun mengalir mewarnai riak Lombang,
membercaki desa-desa, gunung
serta gua tempat para raja dulu bertapa
memperoleh adjisaka.

Sementara bulan makin liar melacuri Sumekar
(anak-anak jadah lahir.
Isaknya menubit-cubit ruh kesadaran)
Inikah peristiwa yang kita lupa?

Lalu aku menjawabnya pada lembar pasir
dengan za’rafan takdir menjadi syair bersihir
yang dilarang kaubaca berulang-ulang
takut semua akan pingsan!

Cukup sekali saja, dan mengalirlah
Ke tujuh latifah laut atau sebuah Tamansari
karena hanya air mengalir yang bisa jernih.

Dan malaikat kecil itu, perempuanku
pulang ke jantungku
Berdwikranah seperti rindu,
                                    Gumuruh!

Batang-Batang, 2002

Sofyan RH. Zaid, lahir di Sumenep, 11 Maret 1986. Belajar menulis sejak kelas II MTs Miftahul Ulum, Batang-batang, Sumenep. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen dan esai dimuat di beberapa media lokal dan nasional, seperti Horison, Republika, majalah sastra pesantren Fadilah (Yoya), Sahabat Pena, dan Kuntum. Dimuat juga dalam antologi puisi Risalah Dua Jari (Andalas, 2002). Sekarang, santri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk, Sumenep, ini membina beberapa sanggar seni di almamaternya. Kini tengah menyiapkan antologi puisinya, Tafsir Kerinduan.

Puisi-Puisi M. Zamiel El-Muttaqien
Secangkir Kopi Sekental Rindu

                        ketika kau serupa rindu
kuhirup ruap kopi senikmat harum tubuhmu
            seteguk kafien sekental ludahmu
deras darahku di sungai sungai waktu

               jantung berdegup kencang
memompa badai dari lubuk lautan
                        tempat paling tenang
                  mengendapkan kenangan

serbuk kenangan teraduk jadi mimpi
                        sepekat dan sepahit kopi
                                        tenggelam aku
bagai tersesat dalam lebat gerai rambutmu

mengurai hitam semesta
         melupa segala warna
sampai terbit inti cahaya
            di ufuk jiwa

                                                      fajar
           dari mana hari dan hasrat bermula
                                                memancar
seterang senyummu yang menyala nyala

                                    dan karena kau serupa rindu
di kala dasar cangkir tinggal ampas kelam membatu
            yang tersisa tetap saja ingin
meregukmu tak dingin dingin

2003-2005

Api Air Mata

Api. Kobar murka
membakar luka
dengan apa harus  kupadamkan
nyala kekal ingatan?

Air mata. Sesal siasia
sepajang usia
seakan minyak tanah
bagi panasmu yang semakin merah

Sepi. Keretap tulang belulang
menjelma jadi arang
dengan apa harus kusangga
tubuh hangusku yang tak beriga?

Katakata. Bujuk rayu istigfar
yang selalu kau dengar
mustahil kau mengelak
dari sayup seru sajak!

2005

M. Zamiel El-Muttaqien, lahir di Sumenep, 09 November 1979. Bersama bebarapa kawannya, mendirikan Bengkel Imajinasi di Malang, Jawa Timur. Kini sedang mengorganisasi Bengkel Puisi Annuqayah di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Sumenep, Madura.