LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Nurul Ilmi El-Banna di Radar Surabaya, 9 Maret 2014



Sumber: the one 1200



Lagu Hujan

Air yang jatuh menyucikan bumi
mencairkan rasa dingin dalam sumsum tulangku
atap rumah ramai berkicau
menyambutnya merdu

Air yang jatuh melepuhkan dinding-dinding rumah
serentak mengepung tubuh; meniupkan
mantra di ubun-ubun lumbu
aku beringsut tekut ke dalam selimut;
menghianati subuh

Air yang jatuh membelah ngilu kalbu
halaman-halaman penuh lumut membatu
serupa hati menumbuhkan rindu

Air yang jatuh dari-Mu
;dari langit biru yang jauh

BatangBatang, 03 Februari 2014


Ingatan

Ingatanku penuh padamu,
pada bangku kuliah yang telah lama kosong
pada siluet senja berkilauan
di tepi rel kereta
atau angin malam yang seringkali
menyambar-nyambar rambut kita

Dan semakin penuh padamu,
pada perpustakaan yang mengekalkan
sunyinya waktu-kecuali bunyi derak sepatu
dan seringkali kita bergumul dengan
lembaran koran pada hari minggu
hanya untuk mencari secarik puisi hilang; berdebu
hilang di tengah keriuhan kota
tenggelam oleh arus yang keruh

Ingatanku akan selalu penuh, padamu.
meski dalam nyeri tulang patah berdentangan
memilukan ingatan

Dunia Kecil, Oktober 2013


Lampu

Apa yang masih kau terangi?
ini hari sudah pagi.
hanya tersisa kicau burung bersama uap
embun di kaki rumput; juga tulisanku ini
yang tak kunjung selesai.
hari sudah terang, mataku merekam jelas
debu berhamburan dalam nafas waktu,
juga buku-buku yang mulai menumpuk
menunggu hasratku.
kalau saja nyamuk iseng tadi malam itu
kembali melintas dan menggigitku, kini
aku sudah bisa melihat
; tak perlu lagi kau bertahan
mengamatinya.

Maka, apa yang masih kau terangi?
sebab hari sudah pagi.
laron-laron binal yang tadi malam ramairamai
memperkosa cahayamu telah
pulang dengan puas dan sumringah.
mereka mencari nafkah baru.
tenang saja, sementara waktu mereka tak
akan datang lagi. mungkin seharian ini.
kau bisa beristirahat.
jadi, apa lagi yang masih akan kau terangi?

Sebenarnya terangmu untuk siapa?
milik siapa?
apakah laron-laron itu? aku?
apa milik mata? apa milik buku-buku yang
tulisannya jadi hilang bila malam.
atau, milik waktu;
yang siap membunuhmu kapan saja
dia mau.

Batang-Batang, 31 Januari 2014.


Menunggu Kematian

Kamu pernah putus asa? dan kematian
tiba-tiba menggerayangi lehermu.
lalu kamu ingin sekali melihat maut
menjemput di sela denyut nadi yang
terlanjur bunuh diri aku menemukan
harapanku menipis seperti nasib plastik
diterbangkan angin penuh daki.
di injak para kaki seakan-akan israil
menikam ulu hati ;tapi waktu mampu
mengusirnya diam-diam

Bila cita-cita yang kita gantung jatuh
menjadi butiran debu
kematian jualah yang pertama
menghardik menukik di mata
seumpama jelaga
;tapi, seperti yang sudah-sudah,
angin musim hujan yang begitu riuh
mampu meniupnya sampai jauh

Dosa turunan yang diwaris tiap undakan
semakin mampu menenggelamkan
ruang-ruang kosong penuh mimpi.
penuh madah doa yang terhianati
kamu tahu? dia semakin tidak tahu diri;
berlari-lari dalam nurani

Kematian yang dekat semakin merangkak jauh
terus menjauh seolah pesawat-lupa
pada asap yang dikentutkannya-
dan corong-corong masjid selalu
mewartakan bahwa kita tak bisa lari dari padanya.
tapi dia dapat lari bila dihampiri!

Batang-Batang, 29 Januari 2014


Nurul Ilmi Elbanna lahir di Sumenep, 21 Januari 1993. Mahasiswa Fak Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisinya tersebar di beberapa media massa dan terkumpul dalam beberapa antologi bersama.