LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Matroni Muserang di Metro Riau, Minggu 9 Maret 2014






Wanitaku

Wanitaku
Kedekatan kita sia-sia. Remuk jiwa menjelma
kuda mengembara, memburu. Lalu kau hilang di balik
ketakmengertian, aku mengembara ke relung nyeri. Aku
berjalan pelan. Pelan sekali, takut duri menusuk kaki.
Sepanjang hari, seakan selama abad aku remuk dan api
Membakar tubuhku.

Wanitaku
            Sepiring kata yang dulu pernah kita susun belum
selesai, tiba-tiba menghilang. Aku pergi. Aku menjelma kabut,
menjelma embun, menjelma matahari, dan terus mengembara
menemui sunyi demi sunyi, kabut demi kabut, waktu demi
waktu. Lalu kita bertemu di lain waktu. Di sana kita bangun
rumah indah penuh warna.

Wanitaku
            Sampai kapan kau menjadi kegelapan. Punya Tuhan
tapi tidak percaya cinta. Tuhan kau jadikan alasan.
Itulah kau membunuh Tuhan. Meremukkan rembulan.
Membunuh bintang. Membunuh dirimu sendiri.
Lidah sudah menjadi daging waktu. Kata-kata
menjadi bawang hatimu. Lalu, mengapa semua sia-sia.
Haruskah aku membunuh pengembaraan ini.
Bila semuannya tak bisa kembali?
            Aku pupuk remuk jiwa ini. Untuk hidup lebih berharga.
Walau kau membunuh jiwaku. Justru jiwaku semakin terbakar
untuk masa depan semesta. Masa depan yang lebih damai.
Tentunya bersama ibu, dan orang-orang suci yang hidup di hatiku.
            Aku menjelma damai. Kanan-kiriku banyak pohon
menyejukkan
           
Wanitaku
            Kau akan gersang. Selama kau tak jujur akan cintamu.
Kau gelapkan cintamu. Kau pelesetkan bening matamu.
Padahal sungai bening mulai mengalir ke tubuhmu.


Matroni Muserang, penyair kelahiran Banjar Barat, Gapura, Sumenep, Madura. Aktif menulis di banyak media. Kini tinggal di Gapura bersama istri tercinta.