LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Kamil Dayasawa di Pikiran Rakyat 9 November 2014




Kemarau

apa yang bisa kita kau lakukan pada tumpukan kayu
bila tungku mengingatkan pada gerutu?

di tengah barisan pohon kering menjulang
kau memandang ke langit, matahari baru terbit
kawanan burung berdiri angkuh di ranting tua
kau bayangkan air jatuh selain air matamu
kembang-kembang kuntum, buah-buah ranum

angin desir mengirim bau anyir
kau hirup dengan rasa cinta pada alam
yang telah menciptakan takdir dari luka kematian

kau hentakkan kaki di atas tanah liat, wajah ibu teringat
betapa banyak jalan berkelok menuju rumah
tak setajam tikungan tak bernama

tangkai-tangkai tua berlepasan dari batang
kau pandang dengan mata nyalang

sebelum matahari terbenam, malam menjelang
kau gambar wajah bulan serupa wajan
lalu kau letakkan batu-batu hitam dalam ingatan

Yogyakarta, 2014


Elegy

di balik jendela tanpa kaca aku menjelma patung tua
rambut putih wajah keriput, hati perih dan takut
angin menerpa dari timur, daunan pohon gugur
upacara kematian tanaman dilangsungkan
anak-anak desa berkejaran di bawah ancaman harapan

alun lagu dari selatan mengabarkan senja yang hilang
pemetik kembang menganggur di tegalan
mata terpejam memimpikan surga dalam dunia ikan

elang hitam melintas jauh ke utara
di bawah orang-orang membakar dupa,
membaca mantra

cangkul patah ulu dikubur
kembang macam rupa ditabur

“jangan ada yang menangis
kita sedang  melukai tubuh sendiri”

hari berangkat malam, bintang-bulan tak datang
dingin merasuk tulang, menyerap sumsum
dari tempat jauh seekor kunang-kunang datang
hingga di tangan

“apa kau butuh makan?”
ia tak menjawab
lampunya yang hijau terus mengerjap

Yogyakarta, 2014


Agustus

laut menderu
ombak setinggi gunung, berkejaran memburu perahu
bulan pucat memantulkan warna kafan
di bibir pantai, pelaut mengaji mata angin harapan

sunyi dan dingin mengirim getir ke jantung pasir
layar terkembang patah tiang
kabut meyusup dalam kalbu yang takut

dari mana kau datang?

desaumu memadamkan api mata ikan
mematahkan pohon hayat para nelayan
bintang nanggala di langit tua
mengedip lamban pada suar
tak ada kabar disampaikan kelam
malam pun semakin panjang
waktu di nanti tak kunjung datang

harum dupa-kembang tujuh rupa
dilayarkan ke samudera
tangan-tangan tirus menangkis arus
doa-doa kudus dipanjatkan
sihir tenung menyusup ke nadi karang

jaring  terserak disampan bergoyang
saling mendekap bagai tubuh dan sayap
bercerita tentang pelayaran jauh
bersandar pada takdir, napas yang terakhir

Batang-Batang, 2014

Kamil Dayasawa, lahir di Sumenep, 05 Juni 1991. Alumni PP. Al-Amien Prenduan, Sumenep dan Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya-UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Puisinya termaktub dalam antologi: Estafet (2010), Akar Jejak (2010), Memburu Matahari (2011), Sauk Seloko (2012), Ayat-Ayat Selat Sakat (2013), Bersepeda ke Bulan (2014), Bendera Putih untuk Tuhan (2014) dan Pada Batas Tualang (2015). Buku puisi pertamanya Garam Air Mata (BAC Pustaka, 2016).