LABANG ARSIP

Puisi-Puisi M. Faizi dalam Kumpulan Puisi "Permaisuri Malamku".

Perancang sampul: Raedu Basha.
PERMAISURI MALAMKU

Kerlip mata malammu
jumpalitan jatuh ke cahaya mukaku

Kita memang tidak saling bersama
sebab ruang tempat aku duduk
di balik meja melihat cakrawal
begitu jauh pada batas dimensimu

Di sini, telentang sendiri
menatapmu, pendal-pendal kristal bertabur
yang indah karena berserakan
kelipnya, jumpalitan bintang-bintang di sana
aku menakar batas akhir kemampuanku
menjangkau sumber cahaya

Malam membangunkanku
pada kehendak membuat perhitungan
antara gelap dan kebekuan
atau siang dan kecemasan
lalu kutulis sebuah matahari terbenam
meski tak sungguh-sungguh terbenam

Maka, kerdip matamu
ribuan bintang, jumpalitan dalam sekejab
dan aku segera menghitung nasib
memang benar, kita tidak bisa bersama
bagiku ruang, bagimu waktu
kujulurkan jemari
menangkap dengan tangkup
berdebar dalam takut
hujan bintang-bintang
ke halaman luas mimpiku
menghamburkanmu ke serambi tidurmu
aku menghitung-hitung saat
berbagi dua dengan waktu
menjadi satu dengan malammu
dalam ingatan yang tak lengkap
saat cahaya bermakna bagi gelap
dan kubiarkan sepi melukaiku:
butuh perih untuk menghargai nikmat

Permaisuri malamku
selalu datang dengan tanpa kehadiran
dalam rentang yang tak terjangkau pandang
karena jarak yang menghubungkan aku denganmu
semata patahan-patahan garis
yang tak henti-hentinya digabungkan
dalam sebuah pengandaian.

27/06/2006

SURAT CINTA UNTUK MALAM

Kilatan cahaya yang berpendar
redup dan berdenyar
seperti jantungku, mengatup dan mekar
perkenalkan, aku bernama malam

“Saya berdiri di bawah kubah langit
beradu pandang dengan polaris
zenit, inikah langit yang puitis?
langit ibarat yang tak tersingkap
sebagai ejaan di ujung abjad

“Baiklah, saya akan bergerak menjauh
untuk membuat kesimpulan lama perjalanan
tahun cahaya semesta dalam bola mata:
kesimpulan dalam pengandaian
sebab, tugas teori hanya untuk
meremajakan akal-pikiran
agar selalu salah
dalam mengambil keputusan benar

“Saya merancang sebuah kepastian
langkah tertatih: ujicoba dan praduga
sains, saya berjalan ke arahmu
yang benar dalam kesementaraan
dan salah dalam ketegangan”

Bintang-bintang di langit
alangkah indah cahaya
dari nadir menuju zenit
hanya sejengkal
kecil bukan pada wujud
tapi pada mata orang yang memandang

Engkau mendekat dalam teropong
tapi menjauh dalam pengertian
kita bergerak; mendekat-menjauh
berpikir dalam pengandaian
berkembang dalam ketakterjangkauan
entah di galaksi mana
kebenaran kita akan saling berpapasan

Mari kita terus beradu pandang
hingga kelak engkau dan aku sama-sama tahu
aku diciptakan untuk memahamimu
atau engkau diciptakan untuk menopang wujudku?

Bintang-bintang di langit malam
janganlah berkedip!
dan engkau tak berkesip
kalian, bermilyar-milyar mata memandang ke mari
tersenyum takjub memandang kami:
mengapa titik kecil yang berpikir itu
tak mampu mencari alasan
untuk apa gugusan cahaya raksasa ini dinyalakan

Pendar gugus bintang semesta raya
jika engkaulah alamat kebenaran
maka perkenankan,
sepanjang hidupku menjadi malam

14/08/2007

NAMAKU MALAM

Namaku malam
kepingan waktu yang membentuk subuh
engkau fajar, merah ditempa matahari

Siang, apa yang mereka cari?
tak ada selain cahaya
hingga yang hilang didapatkannya
hingga rahasia menjadi terbuka.

Kita duduk beradu punggung
menghadap barat- timur
lalu, kita sama-sama berucap
 “ingin rasanya kita bisa saling menghadap”.

Lalu, di manakah kelabu dan temaram?
tidak, namaku hanya malam
engkau tak bisa memanggilku di luar itu
yang satu tidak dapat menatap lainnya
sebagaimana tahu dan tidak tahu
tak menemukan bangku untuk duduk bersama.

21/09/2007
M. Faizi, lahir di Sumenep (Madura), 27 Juli 1973. Buku puisi tunggalnya, 18+, Kopiana, dan Permaisuri Malamku. Juga menulis prosa lirik yang diterbitkan dengan judul “Sareyang”. Puisi-puisinya juga terangkum dalam berbagai antologi puisi bersama. Sehari-harinya ia mengajar di Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, dan menetap di sana.