LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Khairul Umam di Radar Surabaya, 26 Oktober 2014

Sumber: Musium Affandi
Gili Iyang I

Alun ombak menghantam buritan
Beriak beriringan
Timbul tenggelamkan karang
Ikan-ikan bersujud di balik
biru gelombang

Udara mendesir
Dari selat yang merangkum Poday
dan Tokondang
Gili Iyang bersenandung mesra
Diantara gelak peziarah
Atau murung pecinta

Di malam hari
Bulan mengambang terang
Menabur senyum diantara rumahrumah
yang terbaring lusuh
Dan orang-orang menyambutnya
penuh haru

Lalu ombak mendebur hingga ke hati
Cahaya rembulan menyiram
relung yang sunyi
Kami bernyanyi
Gili Gili Gili bersinar dari dalam diri


Gili Iyang II

Aku menyapamu malam-malam
Saat orang-orang terlelap
dalam kantuknya

Engkau menatapku girang
Melompat dari jendela ke jendela
Sebentar saja kita berpeluk mesra
Kulihat wajahmu lusuh dan berdebu

Ada banyak cerita yang engkau tunggu
Dariku
Ya, cerita tentang si mata keranjang
Yang sudah sering kau dengar
Di televisi, radio, gosip dan mulutku
sendiri

Tak lama lagi mereka akan
memperebutkanmu
Seperti seorang putri yang
disaembarakan
Seperti roti yang dihidangkan
Seperti air sungai yang bebas
mengalir

Dan engkau membatu
Menyimpan senyummu lebih
dalam lagi
Sambil memintaku segera
membawa pergi

Aku menyapamu malam-malam
Saat orang-orang mendengkur
lebih keras
Hingga tak mendengar ratap tangismu
Di sini
Sedang aku tak tahu
Kemana akan membawamu?


Pulau Masa Depan

Pulau masa depan
Engkau terdiam sendiri dalam sunyi
Berteman ombak dan batu karang
Dan sesekali reranting jatuh menumbuk
tubuhku

Di sini, hanya ada geriap gemintang
Dan cahaya bulan mengambang
Engkau menakar luka yang
mulai tumbuh
Dari sela-sela tubuh yang
mengeluarkan bau asap
Yang ditanam nun dari negeri jauh

Ikan-ikan berlarian
Udara dengan oksigen berlesatan
Mereka yang datang jauh dari kota
Dengan mata membara dan nafas
tersengal
Memburunya demi alasan kesehatan
Dan luka itu semakin menganga
di tubuhmu

Sementara, diantara detak
waktu yang melaju
Engkau semakin sendiri
Mereka menyapa meski tak
bermaksud mengenalmu
Mereka mendandani hanya
untuk menjualmu
Mereka membawa namamu
ke segala penjuru
Sebagai budak hawa nafsu

Di sini, masih ada sisa geriap gemintang
dan cahaya bulan Mengambang
Meski kutahu luka itu terlalu
cepat menganga
Dan tak seorang pun bermaksud
menyembuhkannya

Gli... Gili...
Pulau masa depan
Yang sebentar lagi akan terjungkal
Dan hilang dalam arus samudera
tak bertuan


Pulau Oksigen

Tuhan memberikan padamu
secangkir oksigen
Bukan untuk dijual pun dibiarkan
dicuri orang

Buatlah kedai-kedai
Dan ransumkan dengan aneka
menu makanan
Nikmati bersama
Lalu bersyukur dengan cara
yang indah

Mari bercengkerama

Sambil menanti fajar dari selat
Tokondang dan Poday
Di sana kau akan melihat Tuhan
begitu indah
Diantara warna merah dan jingga

Dan secangkir oksigen yang
diberikan padamu
Kembali bertambah


Di Pos Ronda

Di pos ronda kita bercengkerama
Sambil menikmati rujak dan kopi
Dengan bumbu:proyek-proyek kota
Kita menikmatinya dengan lahap
Sambil sesekali tertawa aroma
kecewa

Kukatakan padamu
Aku mencintaimu sunggu
Kau terdiam dan mendekat padaku
Sambil berbisik lirih
Aku tak tahu apa yang harus
kukatakan, terlalu banyak orang
mengatan begitu

Di pos ronda
Sambil menuntaskan rujak
dan kopi sejarahmu
Kuperhatikan sungguh
Tubuhmu mengisut dan lumpuh
Ah!


Khairul Umam, Guru di MA Nasa1 Gapura. Alumni pascasarjananya UGM-FIB Antropologi. Tulisannya telah dimuat di media lokal dan Nasional. Saat ini, bersama komunitas Semenjak sedang melakukan tour sastra ke berbagai lembaga di Timur Daya untuk memasyarakatkan dunia literasi pada generasi muda.