LABANG ARSIP

"Tikar Pandan di Stingghil" (Antologi Puisi Sampang 2011)


Perancang sampul: Alek Subairi

Puisi-Puisi Hidayat Raharja

SAMPANG

:geladak
Sungai berkelok
Denyarnya masih terasa
Berpuluh tahun lalu, bahkan lewat
Perahu menepi, tali tertambat.

Biru air berkaca-kaca
Rekam pejalan dan kendara
Lalulalang ke sekola, belanja dan tempat kerja.

Geladak belum tinggi, lantai rumah sejajar jalan raya.
Bibir sungai, masih hijau daun waru
:Pagi melintas.

Sepi berduri,
Suara kereta pelan merambat
Angkut penumpang ke kota terdekat.

Suaranya perlahan saja
seperti karat dilepas senja
Merontokan kenangan yang coklat dan renta

Riuh penarik becak
Mengangkut es balok
Dari gudang TKG dekat geladak

Ketipak kuda
Memutar roda pedati
jemput pulang bakul ikan dan sayuran

Magrib, toko-toko terkunci.
Tak ada jual beli pemiliknya masih ngaji
Sampai isyak menanti.

Bila kamis malam tak ada toko buka
Suara tartil, pujian, dan shalawat
Memenuhi langit berkat.

:barat
Masih sekitar jalan panglima sudirman
Dekat toko andalas yang kini lenyap,
Adzan di Kaptegghi merekati dinding ingatan.


Tak merdu suaranya
Namun selalu ingatkan waktu shalat tiba

Jalanan membujur ke ujung
Belok ke kanan lalu ke kiri
Toko mas terang, hing wan, dan toko kitab di sudut persimpangan.

Laris masih tetap menghadap selatan, kokoh berdiri dekat bangunan penjara
Sebelahnya lagi pos polisi, lalu truk melintas
Lemparkan kotak korek api kepada petugas.

Pasar srimangun, rel-rel mati ditumbuhi kios buah-buahan.
Toko damai yang muram kehilangan pelanggan.
Beralih ke supermaket, dan swalayan menjamur di mata memandang.

Sisa lahan tertutup beton dan aspalan
Rampas serapan hujan

Jika kemarau usai, warga siap menyongsong
Birahi sungai meluapi kota.

:timur
Belok ke selatan monumen kota,
Tak lagi patung laki berkuda dengan tombak digenggaman.
Tetapi julur menara, kubah mekar di ujungnya.

Di seberang, gedung smp 2 beralih jadi kantor bina marga.
Di dekatnya toko rejeki milik mieng lie, perempuan wajib lapor bulanan
ke aparat polisi, karena belum dapat status wni.

Tjip Soe kian merana,
Diapit swalayan bunga.

Di ketinggian geladak pasarpao sungai sibak punggung kota
Pagi, kabut, anak mengaji.
Saling sambut dengan cericit mamalia
Menggenggam sepi.

Air mulai keruh, simpan duka seluruh
Luka malam sembilan puluh tujuh.
Kota merah oleh amarah, peluru muntah oleh darah
:Tangisi nyawa terjarah.
Pecah kaca
Penuhi jalan raya.
Tarian asap dari gedung perkantoran
Dan gereja pantekosta di seberang utara.

Pasukan tentara
Berjagajaga
Senapan siaga

Periksa penumpang kendara dan pejalan
Masuk kota.
Kawatir bawa gaman dan senjata

Wajah dingin
Urat-uratnya berpilin

Berapa terkapar?
Siapa hilang?

Sungai,
Masih mengalir dari utara ke selatan kota
Wajahnya coklat lempung

Bayang-bayang mengapung
Samar-samar kambangan luka
Menampar wajah kita

(2008)
 
PEREMPATAN
:toko banjir

Jalan ke utara
Arah batuampar
Pebukitan kuna
Letak kubur para aulia

Disitu ziarah bermula
Ke asta Yusup
Ke pulau Talango ziarahnya

Ke timur jalan kecil ke bukit babaran
Tempat tembuni trunajaya dibenam
Ke puncak lagi, kubur sitihinggil
Menatap kota yang gigil

Kenangan tersisa di taman yang selalu dibangun
Patung laki bekuda sudah tak dijumpa

Urat-urat kota saling bersilangan
Gedung-gedung dirubuhkan
Tempat belanja ditumbuhkan
Mulut selalu dikenalkan kuat makan

Penjual makan dan minum
Meramai saat sore terbenam
Bersma riuh masjid baca pujian
Dan panggilan azan

Ke barat,
Sungai membelah dada kota
Tebing kian curam
Securam duga bersarang dalam sangka

Di bibir sungai,
Hijau daun waru tak tersisa
Kota kecil yang sepi
Hari-hari terus berganti

Di terminal jalannya berlubang-lubang
Bis antar kota menunggu penumpang 10 menit saja
Tak ada yang berkesan di kepala
Hanya warna-warna batik yang menggurat tegas
Disini bermula dan bergegas
Orang-orang berangkat
Ke berbagai kota:
Besi tua, penarik beca, atau
Ke negara tetangga, meski tanpa paspor
Sebagai imigran gelap juga

Tak terlupa jika kamis malam tiba
Menara-menara menyanyikan tartil, pujian dan shalawatan
Mengekalkan kota yang tentram

Hanya sesekali saat gelombang pasang
Atau saat purnama datang di awal bulan atau saat purnama datang
; banjir bertandang
Serupa kerusuhan yang tiba-tiba meruntuhkan kota

Lalai para pemegang kuasa.
 
TANJUNG

Di batu malam
bintang-bintang mengambang di atas lautan
jalanan ramai oleh percakapan bakul
menggelar ikan menyambut fajar datang

Di selatan perahu-perahu menyibak gelap
menjala garam kehidupan di atas gelombang tabah
anak-anak lelap dalam mimpi bulan

Di geraham laut
nelayan tanjung menjaring bintang
cahaya menggelepar

Ikan-ikan dalam tangkapan
dengan insang kemerahan
sesegar binar mata perempuan pantai

Menanti lelakinya pulang

(2006)

KOTA YANG KARAM

sungai itu lebar membelah kota
kota yang mati dibunuh penduduk dalam persitegangan gaduh
di gedung rakyat.

perempuan dan anakanak mengemas barangbarang pecahbelah
lakilaki mengusung rumah dan tandus tanah pertanian.
setandus hati para pembunuh yang berdalih suruhan kitab suci

sungai itu berkelok ke ramai pasar
hanyutkan belati dan tokotoko alat dapur
Perabot yang lukai perut sungai

dan mitos buaya putih yang berenang  di tengah siang
mitos yang dijubahi darah celurit dan tulangtulang kelam
tenggelam ke sungai sampang

warna pasir dan busukan bangkai limbah organik
siang bolong bau kebaktian dari gereja pantekosta
seberang jembatan

 
Puisi-Puisi Harkoni

RITUAL TAHUN BARU

dalam beratus rakaat kata
yang binar di kornea
entah berapa depa lagikah
laut mencapai kubah paling basah
dari lelah ziarah ke ceruk-ceruk jazirah
angin berkabar tentang luruh jam-jam karam
selunas-lunas peta mengukur retakan airmata
terompet dilangitkan adzan dilayarkan
namun tak khatam-khatam kemurungan
terpacak di sepanjang badan

(Sampang, 2008)
 
KEBERANGKATAN

1
sebagaimana pejalan
jam-jam meluruh menandai keberangkatan
Bismillah, aku ziarahi rambu-rambu
demi mencucup senyum terumbu

2
ada yang api, aku menyiramnya
ada yang air, aku menyulingnya
Bismillah, aku mendulang rerimbun embun

3
aku menghisab raut jejak sendiri
dan kuamini: aku tak layak kembali

(Sampang, 2008)
 
KHALWAT MADURA

tiba masanya nanti, rerimbun salak mesti migrasi
sebab jejulang gedung, rumah, dan kantor-kantor
mengepakmu ke lapak-lapak kenangan
dan dalam pusar keterasingan
anak cucu bermain teka-teki
dan di antara kusut dongengan
Madura melata di serbuk-serbuk pasir

(Sampang, 2008)
 

Puisi-Puisi Yan Zavin Aundjan

BHUJUK PANDEK

di bulan rajab
angin laut meniti batu-batu kecil di samping jalan rumahmu yang licin. kau berteriak memanggil-manggi suamimu yang dikurung dalam rumah besi. kau bersembunyi di rumah itu, padahal tak ada penghuninya mencatat pagar-pagar bambu yang roboh. suaramu tak terdengar oleh tentara belanda yang berkeliaran di depan pintu.

akan setia menunggu
tak ada ketakutan pada dirimu sebatang kara. di rumah itu kau aman sampai angin laut itu memasuki ruang-ruang kekosongan batinmu. namun selama berbulan-bulan kau tak makan, tak minum, tak ada apa-apa di rumah itu—yang ada hanya kau sendiri bersama bayi di perutmu membutuhkan air susumu.

tangan tak mampu lancang membuka pintu, hingga maut menyeret debu-debu lantai menutupi segala, sedang bayimu keluar sendiri dalam usianya yang kecil. dia berlarian ke arah selatan, ke arah angin laut saat dia keluar dari rahimmu- “aku mau mencari ayahku ibu.” karena kau sudah tak ada nyawa, anak itu meninggalkanmu demi menyelamatkan ayahnya di balik pagar besi belanda.

“sakera dari sampan.” begitu anak itu ketika disapa orang. mencelurit siapa saja yang mencoba menghalangi perjalanannya. tak pulang tak apa sampai tetesan darah berakhir untuk dan demi seorang ayah.

(Pamekasan, 2008)

Catatan:
Sebagian cerita mengatakan, Sakera putra dari Bhujuk Pandek daerah Kampung Betes, Banjar Talelah, Camplong Sampang. Dia lahir langsung bisa jalan, lari dan tanpa menangis. Bhujuk Betes di makamkan di kampung itu juga.

STASIUN YANG HILANG SORE HARI

masih ada jejak sepatu merintih di pinggiran seberang jalan
yang dulu menginjak kaki-kaki nelayan pulang
menangisi anak dan istrinya menunggu di lidah jalan

tanah merah bahari kecoklatan
bersama deru-deru kereta sore meninggalkan kelam
tangan melambai
airmata tertinggal
                  
dulu orang bercerita
di stasiun itu ada nasib
ada perjanjian kerinduan
tapi tak jumpai pertemuan

kini
jejakmu kenangan
kursi-kursi dan meja-meja saling bercerita
tentang surat yang terlempar
kereta sore tak kembali
stasiun hilang
orang-orang tak mau pulang

(Sampang-Yogyakarta, 2010)

Catatan:
Bahari adalah nama lain dari kota Sampang
 
DI PANTAI CAMPLONG

kusisir pasir-pasir pantai
untuk kutelusuri batas kelembutan dan kerasnya karang
antara kedamaian dan gelisah yang selalu memanjang

suara debur apakah itu?
suara orang-orang berlayar atau nelayan mencari kehidupan?

tepi jadi tiada tarian pasir
ombak tak lagi mampu meleburkan batu-batu karang itu
nyanyian laut seperti debur menyingsing ke kulit perahu

sebagaimana aku datang dan kau gelisah batinku
aku dan batin menjadi suara yang satu
menyatu menjadi debur nyanyian pantai
lalu nelayan-nelayan membikin batas yang memisahkan
antara kerasnya karang menghantam dan lembutnya pasir
hingga air seperti berubah warna
rumput laut menghiasi suasana
memberikan dahaga ribuan jiwa

(Camplong, 2007)


Puisi-Puisi Umar Fauzi Ballah

KEMUNING

Ia sungai yang menerima hujan sebagai kekasihnya
dan laut pasang sebagai simpanannya.

Sulur yang melewati tanjung
menuju kediaman dua jembatan:
bertemu di bentang selatan dan berbalik muka
ke utara. Menuju gunung mekar di sebelah barat
dan tanah yang dikutuki banjir ke arah timur.

Musim itulah terdengar sabda
berulang kata:
“Anakku, jangan terlentangan seperti itu,
nanti kau jadi seperti buaya putih!
Mengaji sajalah dengan tenang dan hati sabar...”

Tetapi lelaki pengembala itu urung juga
membaca kitab sekuning perdu
dan ditampiknya segala nasihat.

Menjelang senja kulitnya memutih.
Berkilatan. Seperti kembang api
yang cepat redup diterpa degup gemintang.

Dan yang berkilatan itu menjelma sisik
sekeras cadas. Yang mengantarkannya melata
ke bawah jembatan Bahagia dengan guntur
menyala. Supaya ia paham air yang hendak ia pinta.
Air yang hendak ia pinta…

(Sampang, 2009)

TALAK DENGAN HUJAN
yang tidak mengharapkan aku datang sendirian
pun yang memintaku tidak hadir rombongan–

Sore di pinggir April masih kerap basah
Membuatku memunyai sejuta alasan dan minta maaf
Barangkali di luar itu, aku adalah pemalas
Ruas jalan menuju rumahmu selalu tergenang
Angan dan dingin, aku ajak serta
Tapi kau tidak melihatnya
Bahkan seperti tidak ada aku di sana
Penglihatanmu adalah mata kaum pendo’a
:Menunduk atau memilih mendongak
Sedangkan aku, pelamun yang tidak memahami cara kaubertutur
Tentang cita-cita palsu yang dibasahi hujan
Kertas telah kuyup, surat cinta jadi percuma
Dan memang tidak ada bahasa yang sempurna
Kecuali kau akali dengan banyak bertanya
Atau pura-pura tidak paham

–alasan jadi selebat hujan
maaf jadi sehebat kilat–

Aku mengira kau menerima semua tanpa persoalan
Seperti kerap kukunjungi rumah ibadahmu dalam kesunyian
Tetapi ini adalah cinta yang datang tiba-tiba
Sepeti hujan dan banjir yang tidak bisa kauterima
Kau seperti mena’arufkan aku dengan kubangan
Melantahkan segenap kesunyianku
Dan aku tersudut pada sisa-sisa pertemuan itu
Pertemuan yang tak pernah kaupahami kehadiranku seutuhnya
Kelam dan malam, hujan reda
Hanya ada alasan untuk meninggalkan kau sendirian di sana

(Sampang, 2010)

SAJAK TERAKHIR SEORANG SANTRI
            :Nanang Hidayat

:seseorang datang kepadaku dan mengatakan
tidak lagi percaya pada puisi,
sejak mangkat kiainya ke ujung senja

ia bercerita, di tinggal begitu saja.

cerita-cerita yang telah ia rajut
pun tenggelam ke dasar maut.

seketika.

ia linglung.

pada saat itulah ia merasa mimpi
hanya terjadi di ujung pagi.
setelah itu harus bertemu cangkul dan menyemai padi.

"ia berpesan kepadaku
‘jika dengan puisi kauberbahagia, tulislah dan kerjakan!’"

maka, di sela-sela itu, ia pun belajar menulis:
"sepanjang itu, hanya untuknya, aku menulis"

tentang surau, atau pengalaman mengaji,
atau cerita hantu yang mendekam di bawah pohon kenari.

tapi tuhan telah menarik mori
ke atas jasad gurunya yang putih,
seperti kertas yang ia kantongi,
sebelum ditulis pesan apa di atasnya.

"aksara-aksara itu lenyap seketika,
begitu juga yang akan aku tulis,
keguguran di rahim pena."

secepat itu segala kisah terhapus.

pupus pula mimpi-mimpi
yang bersamaan dengan matahari
menuntun langkahnya ke sebuah kursi.

(Sampang, 2009)

SAJAK REMAJA MASJID

Allah maha mengetahui
Bahwa aku mencintaimu
Sepenuh hati

Batin pemuda dan pemudi
Di masjid masing-masing
Mengaji

(Sampang, 2009)
 

Puisi-Puisi Umar Faruk Mandangin

ANAKKU SEKOLAH DI LAUT

tyas, aku mengerti kau lelah nak.
seharian belajar bersama matahari
lihat tubuhmu, legam kan
seperti nasib bapakmu ini
tapi tak apalah, pelaut harus menjadi karang
bagi ombak yang  selalu datang menyerang

tidurlah nyenyak disisi bonekamu
esok, mulailah lagi bermain pasir
membangun istana dan taman yang indah
buat istirah mimpi mimpimumu
bila perlu berdoalah, memohon pada gusti allah
agar tentara nabi sulaiman sudi membantumu
mewujudkan cintamu

diantara taman dan musholla istana pasirmu
ada makam yang bersih dan indah, itu harus nak
agar kita tak menyesal dan takut
bila sewaktu waktu keranda menjemput
dengan iringiringan tahlil
membawamu pulang, kembali pada yang punya

bukankah hidup ini seperti menulis novel, tyas
kau yang tentukan endingnya
atau, seperti istana pasirmu
: setiap saat ombak megintai
meratakannya kembali menjadi tiada

tapi nak,
kau takkan menjadi pelaut seperti diriku kan
menjala bulan dan bintang
dilipatlipat ombak
dan terbakar matahari

(angin hanya berdiri, kemudian pergi
membawa mimpi berlari)

tapi biarlah, kau akan menjadi khatijah
atau fatimah azzahrah yang ramah dirumah

tidurlah nak, sehabis subuh nanti
kita akan kemakam
aku sudah rindu berjama’ah bersama ibumu

(Madura, 0707200)

AKUARIUM RINDU

aku bersampan ketengah
melukis bulan sabit pada air laut yang berkaca kaca
wajahmu pucat, burung burung camar berlompatan
dari matamu, mulutmu, kupingmu, hatimu
kepalamu, kelaminmu dan bahkan tubuhmu
membentur gunung ranggas_hatiku
aku mencair, mengalir kelaut:
menjadi asin
menjadi kerang
menjadi karang

-berteduh ikan kecilku, mengerang
menangisi perang_parang dirumahnya
kotanya mati diujung tower
lampu lampu cendrung menipu-

(begitulah ceritamu pada suatu malam,
membunuhku)

sejak saat itulah, aku betah dilaut
menikmati malam dan bintang yang serupa wajahmu
dengan kerut kerut tegas dikeningmu
mengisayaratkan sepi dan dendam

mula mula, aku dan kau malu malu
dan seterusnya dan seterusnya dan…

lukamu yang kueram sekian waktu
pelan pelan menetas
astaugfirullah, aku tak percaya.
saat kudapati tubuhku
bertangkai bermunga, mekar
bunga bunga ini
kaukah yang menyiramku

“aku mencintaimu sebagai kaum dari ibuku
bukan karena kepala dan tubuhmu”

(Madura 24 maret 2010)

TIKAR PANDAN
           
kugelar tikar pandan dihalaman
teh hangat dan bulan sabit
menanti kau berkunjung kepulauku
: sebakul mimpi,
seperti janjiku padamu
adalah penghangat dari dera angin slabung

disini, dipulau ini
kau bisa menyaksikan sendiri
betapa hatimu telah kembang dihatiku

andai kau tak jadi datang
biarlah kunikmati saja sendiri
sebab tak ada hukum haram bagi rindu

(2009)
 
ANTENA DI TUBUHKU

kau suka bermain hujan dihatiku
menyangkul ladang ladang rindu
sambil menanam senyum matahari
_senyummu

aku menggeliat lelah dibawah rimbun kokap

kupasang antena ditubuhku
kutangkap sinyal
kau sedang lahap
memakan bagian demi bagian
jantungku
hatiku
otakku
aih, tubuhku tinggal bayangan

(20 Maret 2010)


Puisi-Puisi Alek Subairi

TORON
a//
melihat ke utara, efni.
orang-orang mengikuti lorong
ke sebuah halaman yang
berbenah dari belah.
udara menabur keping warna
: janur pengantin.
di sudutnya yang kelabu
belasan aksara tak terbaca, sebab
badai membagi cintanya yang kandas
dilangut matanya sendiri. langut mata yang
tak berkelok-kelana
aduhai, rintiknya sudah datang
suaranya beriringan menabuh mainan.
b//
mainannya dicuri pejantan
dan kau yang gulita menghardik dengan
bahasa kumbang seakan mengiris
petang jadi siluet selendang.
hai, ada yang menepi seperti
hikayat orang-orang yang
ditidurkan dalam kitab.
dan setelah bangun, sebiji kerling
jadi basah. lalu ia turun ke halaman
membagi salam. salamnya orang gunung.
aduhai, rintiknya mau pulang
antarkan hingga ke belokan.
c//
di gigir manismu yang kau abaikan
kelak ada yang menyaru sebait kebajikan
dengan cara teramat malam, teramat langgam
hingga kau dan aku saling memandang.

KRS, 2009
  
MUKENA

Kucatat bau kembang sungai yang kupikat dari
tirakat yang kuampuni apabila malamku tak hening
: ia pun menetas, membaca silsilah sumur di ladang

Ia memberi maklum kepadaku yang sibuk
membuat tata tertib airmata dan serat kenangan
di kamar ia bersabar, di kamar doa kecil membaiat jejakku

Ia akan tiba serupa februari
februariku berkisah tentang warna putih, sebuah langkah kaki,
dan pertemuan yang berangsur-angsur mendekat

Lalu kukenalkan serat pinang yang kujaga begitu rukun
di selekuk tikungan, di antara bimbang dan restu yang
saling membidik

Hai abang, bukankah kau ingin
mencuri malamku sebagaimana hikayat selendang?
ya, sebab di luar ular-ular menyaru putik-putik kembang
seruku, seraya melunasi segala yang datang dan hilang,
seraya mengampuni malam-malamku yang tak hening

Lalu kami saling membaca selembar kain seperangkat
dan anak-anak yang kelak berlari mengisi celah
bimbang dan restu

2008

TANGLOK*

Mencium pertemuan asin dan tawar
mencium namamu pada tiang kapal.

Selatan adalah karunia yang tak layu dipandang
sebab setelah membalik muka, ada celah
semayup-seucap: kembaliah dengan terang

Jarak mungkin tak kukenal, bila angin
menjauhkan kembang rambat ke teluk-teluk
sepoi baju berkibaran, kata orang yang menunggu.
Sambil menunggu, aku berangkat mencari tau
siapa memeluk dan menyiram kenangku.

Di sini, pagi menyingkap betis, mengantar
keranjang ikan, buah-buahan, dan seorang santri,
juga harum kopi di pangkalan.

Aku ingin menoleh ke kiri juga ke kanan
sebab siapa tau aku tidak sedang pergi
tetapi kembali kepada janji yang tak jadi kuucap.

2010

*) Sebuah pelabuhan kecil di Sampang, Madura, yang menghubungkan Sampang
dengan pulau Mandangin, dan pulau lainnya.


BIODATA

ALEK SUBAIRI, lahir di Sampang, 05 Maret 1979. Lulusan Seni Rupa Unesa. Beberapa puisinya tergabung dalam antologi puisi bersama, salah satunya Album Tanah Logam 2005. Antologi puisi tunggalnya Kembang Pitutur (amper media 2001). Sekarang bekerja di sebuah penerbit buku di Surabaya. Email :aleksubairi@yahoo.co.id







HIDAYAT RAHARJA, lahir di desa Omben- Sampang, 14 Juli 1966. Menempuh pendidikan dasar di SD Omben–Sampang tamat tahun 1976. Menyelesaikan SMP di Sampang (SMPN 1 Sampang tahun 1979/1980). Pendidikan SMA di SMAN 1 Pamekasan (1982/1983). Diploma III Biologi IKIP Surabaya (1986), dan pendidikan Strata 1 di Universitas Negeri Yogyakarta (2000). Beberapa tulisannya baik berupa esai dan puisi pernah dipublikasikan di berbagai media cetak lokal maupun nasional, antara lain: Jawa Pos, Karya Darma, Memorandum, Surabaya Post, Surabaya News, Mimbar Pembangunan Agama, Radar Madura (Surabaya), Majalah Gong, Bernas, Kuntum (Yogyakarta), Suara Pembaruan, Suara Karya, Horison, Swadesi (Jakarta), Singgalang (Padang), analisa (Medan), Nusatenggara (Bali), Pikiran Rakyat (Bandung). Buku kumpulan puisinya, antara lain: Potret Pariwisata Puisi Indonesia” Yayasan Komunika, Jakarta, 1992, ”Tanah Kelahiran”, Forum Bias, 1994, Kami di Depan Republik, KSRB – Surabaya, 1994., ”Negeri Impian” Forum BIAS, 1995., ”Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka”, Taman Budaya Surakarta, 1995., ”Kebangkitan Nusantara II”, Studio Seni Sastra Kota Batu, 1995., ”Cermin Cermin” Sepuluh Puisi Pilihan, Sanggar Tirta, 1995., ”Gerombolan Puisi Manusia Ghot ”TAGIH” ”, Ghot, 1995., ”Kleptomania” Komunitas Manusia GHOT, 1996., ”Improvisasii Retak” KSRB – Surabaya, 1996, ”Api Pekarangan, Forum BIAS, 1996., ”Negeri Air”, Surabaya Art Festival, 1996., ”Nyelbi’ e Nemor Kara” (Puisi Berbahasa Madura), Kelompok Manusia Ghot,1997, “Antologi Puisi Indonesia 1997”, KSI – Angkasa, Bandung, 1997, ”Istana Loncatan” Lingkar sastra Junok, 1998., ”Sastra Kepulauan” Dewan Kesenian Sumatera Selatan, 1998., ”Luka Waktu” - antologi puisi penyair Jawa Timur ’98, Taman Budaya Jawa Timur, 1998., ”Memo Putih”, Taman Budaya Jawa Timur, 2000., ”Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan”, Pustaka Pelajar Yogyakarta, 2000. Antologi Penyair Jatim ”, Festival Seni Surabaya, 2004. Beberapa Nahkah pemenang lomba: Kekerasan dalam Sosial Masyarakat Madura” Pemenang III Lomba Penulisan Naskah Kebudayaan Daerah, diselenggarakan oleh Dirjen Kebudayaan RI – Depdiknas, tahun 1999. Bantalku Ombak Selimutku Angin; Representasi Buadaya Madura”, Pemenang Lomba Mengualas Karya Sastra – Peningkatan Pelajaran sastra – Ditjen Dikdasmen Depdiknas Jakarta, 2001. Air, Manusia dan Peradaban”, Pemenang IV PKLH Dirjen Dikdasmen – Depdiknas, 2003, Cerpen “Luka di Dada Kiri Gabir” Pemenang Lomba Menulis Cerita Pendek - Peningkatan Pelajaran sastra – Ditjen Dikdasmen Depdiknas Jakarta, 2003, “Reruntuhan Cahaya: Eksistensialisme Mencari Tuhan” Pemenang Lomba Mengulas Karya Sastra, Peningkatan Pelajaran sastra – Ditjen Dikdasmen Depdiknas Jakarta, 2004., ”Nyanyian Buat Negeriku” (Buku Puisi) –Pemenang III Sayembara Penulisan Buku Pengayaan untuk SD – Pusat Perbukuan Kemendiknas – Jakarta – 2009., “Jalan Ke Rumah MU” (Buku Puisi) –Pemenang III Sayembara Penulisan Buku Pengayaan untuk SD – Pusat Perbukuan Kemendiknas – Jakarta – 2010. Saat ini menjadi tenaga pengajar di SMA Negeri 1 Sumenep. Juga mendirikan lembaga “SAVANT”, bimbingan menulis kreatif bagi anak dan remaja bertempat di teras rumahnya .


HARKONI, lahir 3 Desember 1969 di Sampang, Madura. Karya puisi, cerpen, dan esai puisinya terpublikasikan di sejumlah media massa. Kini menjadi guru di SDN Masaran I Banyuates, Sampang









Y. ZAVIEN AUNDJAND, lahir di sebuah desa terpencil, Desa Banjar Talelah, Camplong, Sampang pada tanggal 10 April 1985. Lelaki berbadan kurus ini alumnus PP. An-Najah I Karduluk Sumenep (2000-2007). Jenjang Pendidikan dasarnya di tempuh di SDN Banjar Talelah III, Camplong, Sampang (1999), MI Zahratut Tullab Bandungan Banjar Talelah Camplong Sampang (1998), UIM (Universitas Islam Madura) Pamekasan (2006-2007), kini tercatat sebagai Mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beberapa karyanya yang berupa puisi, esai, cerpen & artikel pernah di muat di beberapa media lokal maupun nasional seperti Jawa Pos,Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Human News, Bejad’s Rasan-Rasan, Tilawah, Matapena, Snapan, Majalah seni dan budaya Gerbong, Buletin Stars (Pembangunan Seni Yogyakarta), Majalah Geger, dll. serta beberap antologi bersama Gundukan Tanah Merah (2007), Ruang Mayat (2008), Antologi Penyair tanpa Bilangan Kota Diorama (2009) dan beberapa antologi komunal. Karya-karyanya yang tunggal yang pernah terbit berupa antologi puisi: Cinta bukanlah Kebenaran (Matsnaa publising: 2008) dan Sabda Jibril (Gusti Press: 2008). Antologi Cerpen: BANGKAI dan Cerita-Cerita Kepulangan (FKU UIN Suka Publising: 2009) dan Pekabar dari Negeri Diyalarium (PondokMas: 2009), novel: PROPOSAL CINTA; Perjalanan 2 cm. Menuju (Ke)abadi(an) (Diva Press), dan karyanya yang belum terpublikasi (novel): 16 Tahun Kematian tuhan, Jembatan Merobek Langit, dan Cadar Perawan Sungai.

UMAR FAUZI BALLAH, lahir di Sampang 2 Juli 1986. Menulis puisi sejak kelas 1 MAN Sampang. Ketertarikan itu dilanjutkan dengan memilih kuliah Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya lulus 2009. Di Surabaya ia mengalami pergesekan dengan banyak penulis. Ia kemudian tergabung di Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Teater Institut sembari nyantri di ponpes (mahasiswa) Sabilillah Lidah Wetan Surabaya. Di kampus ia menjadi redaktur  majalah SESASI FBS Unesa. Tulisannya berupa puisi, cerpen, dan esai pernah menghiasi berbagai media seperti majalah WIDYAWARA Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, majalah SESASI, Tabloid GEMA UNESA, majalah KIDUNG, harian Duta Masyarakat, Suara Karya, Sumut Pos, dan Surabaya Post. Puisinya berjudul “Ayat-Ayat Isroil” adalah juara II puisi untuk Peksiminas selekda Jatim dan juara pertama puisi berjudul “Rumah Sumpah Sie Kong Liong” pada lomba cipta puisi Sumpah Pemuda 2008 yang diadakan oleh Himpunan Indonesia-Tionghoa. Puisinya tercantum dalam beberapa Antologi bersama, seperti ManifestoIllusionisme (Dewan Kesenian Jawa Timur 2009), PestaPenyair (DKJT, 2010), Duka Muara (KRS, 2008), Ponari For President (Bable Publishing Malang, 2009)Ia juga sering mengikuti berbagai event diskusi sastra seperti Pesta Penyair Nusantara Kediri 2008, Halte Sastra Surabaya 2009, Temu Sastra Jawa Timur 2009 berlanjut di Temu Sastra Nusantara di Solo 2009. Sekarang menetap di Sampang Madura.

UMAR FARUK MANDANGIN, Lahir di Mandangin, Sampang,Madura, 04 April 1981. Pernah menjadi ketua Teater Sarung IPNU, Pamekasan, anggota Teater Fataria, ketua komunitas “Mandheg Angin” Sampang. Sekarang menjadi pengajar SMU dikampung halamannya. Sekali waktu ia melaut.