LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Subaidi Pratama, Kedaulatan Rakyat 12 Januari 2014



Sumber: Vera Mamuzic Trajkovic


Fatihah
-khusus Muhammad

Untuk membuka mengawali langkah rindu
Berkali kushalawatkan namamu
Sebagai tanda sebuah pengantar doa-doa cinta

Malang, 2014


Maulid

12 Rabiul Awwal engkau dilahirkan dari rahim cahaya
Untuk menjadi cermin purnama di seluruh jagat dunia
Pada itu pula, bumi menjadi saksi
Dan langit tak henti menulis puisi
Kemudian ia bersujud bersama matahari
Melepas seluruh kabut kegelisahan yang tak pernah kunjung selesai
Dimana pertikaian dan permusuhan pada mulanya menjadi kebiasaan
Di lembar-lembar sejarah
Konon, engkau dilahirkan di kota Mekkah
Dimana tanah menjadi impian semua orang
Angin berkesiur bersama udara
Melempar seluruh sedih dan derita
Begitu pula pohon-pohon kurma di Madinah
Bertumbuhan dari pecahan nurmu
Semakin rindang dedaun meranting rindu
Saat itulah engkau lahir dan tumbuh membesar sebagai saudagar
Seperti biji-biji kebaikan dan kehidupan yang tak pernah bosan
Kau ajarkan pada orang lain
Kelak, dari wajahmu kilau syafaat dipancarkan
Dari semua umatmu ke umat yang lain
Karena dulu, tangismu yang pertama menjadi sebuah pertanda
Sebagai penyempurna akhlak mulia
Dan kini, kelahiranmu hanya sebatas kenangan di hati angin
Semakin jauh dari teras iman
Di masjid-masjid shalawat yang dikumandangkan
Tidak lebih dari sekedar lengking hujan
Orang-orang tidak lagi menjadi manusia
Namun lebih dari taring serigala
Sebab kehilangan akhlak nan mulia
Yang pernah kau ajarkan dahulu kala
O... Muhammad penabur syafaat
Disini dunia begitu gelap
Gelap ini begitu menyekap
Aku pun sekarat!
Begitu banyak peta-peta yang menunjuk ke arah neraka
Sudikah engkau meminjamkan aku kacamata?
Agar mampu melihat surga dari kedalaman jiwa


Cermin Kejujuran

1/
Tiba-tiba Januari melukis angka 2014
Tak terasa tubuhku masih bertunas bersama nafas
Kulihat daun-daun telah berganti baju
Sedang langit biru masih menyimpan kabut salju
O, Muhammadku
Adakah sisa nurmu terselip di balik gelembung kalbu?
Menjadi peta menuju ìnegeriî yang tak dihuni penguasa
Bernama ìserigalaî.

2/
Namun, sebelum hujan itu turun mengecup kening daun-daun
Mestinya kita sudah pulang memasuki hatinya masing-masing
Sebab rumah paling indah adalah kata-kata
Yang dibangun dari cermin kejujuran
Bernama iman dan cinta

;ya, seperti yang diajarkan dia


Koruptor dan Teroris

Semoga kelak Tuhan memperlihatkan timbangan
Dosa koruptor dan terduga teroris yang ditembak mati
Sebelum detak jantungnya benar-benar ingin berhenti

Darahmu yang mengalir barangkali menjadi saksi sunyi
Atas perjuangan segar yang berakhir tak sampai ke hati nabi
Jangan sedih atau berduka. Sebab Tuhan mesti selalu bersama
Ia sedang memeluk kita, dan menyaksikan
Siapa yang banyak berbuat kerusakan di muka dunia?

Kami disini turut berduka, atas jaman-negeriku yang luka
Tetapi tidak untuk mereka, yang suka mencuri uang Negara


Malam Pertama

Bagimu, langit berputar tujuh kali
Bagiku, bumi bergetar lebih lirih dari rintih

Kali ini, tak ada jerit yang lebih bunyi
Dari puisi-puisi yang beberapa kali aku tusukkan
Pada kelopakmu; sunyi!
Hanya gelinjang yang kesekian memahat badan-menjenjang
Mencipta Tuhan dalam desah syaraf; Allah
Hingga dari dalam tubuhmu berkilauan berkali melempar sepi
Memendar cahaya-cahaya seperti anak matahari

Sedang dari dalam tubuhku mendatangkan gelap
Menyeret segala sukma dan jiwa pekat
;kita sama-sama tenggelam dalam lubang rasa melangit

Tiba-tiba engkau ingin seperti tangan dan mulut
Selalu ikhlas memberi dan setia menerima
Aku juga tidak ingin lupa menjadi kemaluan pada kemaluan
Yang tetap bisa melihat meski tak memiliki sepasang mata

;Mana yang menjadi musuh, mana yang menjadi saudaranya?
Sebagaimana Rosul dan Aisyah mengajarkan sunah


Rosul

Kekasih...
Hanyalah sebab cinta, tangis dan airmatamu
Membikin mampu aku terbang bahagia
Selamanya...


Subaidi Pratama, lahir di Sumenep Madura,
Jawa Timur 1992. Antologi puisinya ‘Pelayaran Seorang
Pecinta’ (2009), ‘Kado Rindu Untuk Rei’ (2011),
‘Festival Bulan Purnama’ (Trowulan Mojokerto 2010).
Merintis komunitas (Penyisir Sastra Iksabad (Persi).
Mahasiswa Jurusan Komunikasi Unitri, Malang.