LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Saifa Abidillah di Radar Surabaya, 10 November 2013



Gambar "Raw and Wild SOLD. By: Alison Johnson. Diambil dari https://id.pinterest.com/pin/227924431119532007/
Percakapan Sore Hari

Mesti kuletakkan di mana tanganku
jika pasir diri tak sanggup aku genggam
dalam-dalam
                  
matahari mencair tanpa warna
bintang-bintang menyala tanpa cahaya
bulan diseret angin
dan jatuh ke telaga hatimu

dan aku masih saja kehilangan tanganku
pucat dan dingin
tapi adakah kau mengerti
bahwa suatu waktu tanganku berbicara
dengan ketiadaan

menyuarakan satu kata
Kebenaran
yang dilipat ketakutanku sendiri

cinta yang abadi.

Kutub, 2013


Bacalah Atas Nama Kesetiaan

Ada satu mata dan satu hakikat
yang membuatku hibuk sepanjang jalan
dalam dingin dan angin malam hari

Matamu, ya matamu yang berbinar itu
seolah tegak dan menatapku di
kejauhan pulau
bagai puncak mercusuar
tempat kegelisahan memulangkan desah

Tempat perahu yang bernama aku
menjatuhkan sauh
melabuhkan segala lenguh di aduh bibirku
yang kisruh, di pantaimu

Dan aku yang dicemaskan angin
dikibarkan layar ke sebuah daratan
tak ingin jatuh dan karam
di pelabuhan dan karang-karang

Di pulau matamu, dipuncak mercu
yang berbinar
dalam temaram dan kegelisahan
yang sendiri

Dan segalanya yang sia-sia ini
terekam indah di kalbuku yang berdebu

Kutub, 2013


Spektrum

Ada engkau di sana
sebuah tempat terjauh sekaligus terdekat
tegak di luar ruang dan waktu

ia sebuah suara dari nyanyi yang tersimpan
sebuah sungai dan laut yang sulit
diterka keberadaannya

sesekali menggema di luar ruang dan waktu
mengenal mata maut pada kesakitan
dan abadi di luar ruang dan waktu

menerbangi langit biru yang kelabu
seperti burung-burung
menyesapi tanah, seperti akar pohon

sebuah jalan mata angin
di sumbu matahari yang bernama jiwa
di luar ruang dan waktu

Kutub, 2013


Kepada Penyair Muda

Demi penyair muda yang hendak
menggali jiwa dan hatinya sendiri
diri yang kerdil ini, adalah setan
masa-depan, adalah jin bagi segala
harapan yang disalib di tiang keyakinan

maka bangunkanlah, jiwa kesadaran
agar geriap hidup yang seolah indah
dapat dipatahkan dengan iman
dengan keluhuran budi yang mulia

dan sebuah rumah yang bernama lelah
dan letih bukanlah tempat berteduh
atau bersinggah, ia adalah batu-batu
bagi sungai, adalah lembah-lembah api
tak berdasar bagi perjalanan

bangkit dan katakan pada diri:
“Asu!!!”

Kutub, 2013


Ajaran Penyair Muda

Sebuah perkampungan lelah
dan kota-kota yang bernama letih
terus tumbuh
menyuarakan kehidupan
yang dibangkitkan dari kebosanan
dan kebodohan para penyair

lelah dan letih adalah kemenangan
yang haram ditanggalkan
maka tidur dan lelaplah dengan lelah
dan letih, sebab keduanya
adalah kekasih sekaligus paus
bagi setiap kita di bumi

Kutub, 2013

Saifa Abidillah, masih tercatat sebagai mahasiswa Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga dan aktif mengelola LSKY (Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta). Tulisan-tulisannya pernah terkumpul dalam antologi bersama, antara lain, Narasi Mendung dalam Tarian Hujan (2009), Bersepeda ke Bulan (2014), Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III (2015), Nun (2015), Negeri Laut (2015), Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016).