Arsip Puisi Penyair Madura (Se)-Indonesia

Full width home advertisement

PUISI INDONESIA

PUISI MADURA (SANJA')

Post Page Advertisement [Top]



Lukisan karya Alek Subairi.
Talam

Seperti sepi pada kendi menjelang pagi
sepikan namaku dari cemburu apabila
hidangan telah sampai kepada doa

Sehingga setelah kembali diam, ada siul-siul
menyapa ibarat senyum yang menyenangkan.
Kalau aku senang, senanglah Yanti menuang teh.

Menuang yang semula sembunyi dari dingin
dari kanan ke kiri, dari depan ke belakang
jangan mencariku pada bimbang

sebab yang kautunggu segera datang
Bila datang, kukenang yang mula-mula malam
sehingga kalau kelak berpapasan di kembang lain

Senangku tak berkurang, pandangku tak terhalang.

2010 


Kendi

Bakti yang mengantarku padamu
dan aku tak tahu mengapa tubuhku
tak menyesal hidup berpindah-pindah.

Dari atas ke bawah diam-diam kupelajari
bagaimana air menyampai rindu dari hulu
sehingga tubuhku turut bersuka-suka, bila

mendengar bunyi mengalir mengikuti puji syukur.
Duh, sang hyang pengasih lagi penyayang
berkahi tiap-tiap air yang masuk dan keluar ini.

Menjelang pagi yang rukun, ketika duduk dan diam
saling memeluk, kupeluk yang mula-mula runduk
sampai dingin tubuhku kian basah seperti perasaan
yang ingin sekali sampai pada kata.
Meja, kursi, dan sebuah pintu yang bahagia terbuka
memberi salam. Salamku pada yang kelak tak kembali.

2010



Kumpulan

Kami saling datang, saling memasuki,
saling mengapi dalam dendang.
berpohon-pohon kami kenali buahnya.

Seberang adalah seorang paman berbaju warna-warni
yang mengirim kabar. Kabar dari asap api panggang.
Berbagai kami, berbagai suluk dan pantangan.

Kalaulah tabah semusang kami datang, maka bukan
sepi juga bukan kulit padi yang bakal memberi
salam setangkai. Sebab daun selembar pun kami kenang.

Dengar kami mendengar suara letusan
di belokan, di bisikan, di kenangan, di antara
bimbang dan merayu, di antara diam dan diam-diam.

Jika setelah itu jumlah kami berkurang, menunduklah
kami sebentar, seakan mengingat sepotong falsafah
yang berkali-kali diturunkan. Lalu kami berwarna,

kami bertenaga. Kami, yakni jumlah yang tersisa.

2010


Alek Subairi, lahir di Sampang 5 maret 1979. Lulusan Seni Rupa UNESA Surabaya. Bergiat di Komunitas Rabu Sore (KRS). Puisi-puisinya terkumpul dalam beberapa antolgi bersama. Mengelola Jurnal Puisi Amper. Sekarang tinggal di Surabaya dan membina Komunitas Tikar Merah (KTM) Surabaya. Email: aleksubairi@yahoo.co.id

1 komentar:

Bottom Ad [Post Page]

| Blogger Templates - Designed by Colorlib