LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Kholil D. Rahman, Analisa, 16 Agustus 2015

PESISIR

alun ombak menghantam tangkis laut
timbul tenggelamkan karang
ikan-ikan bercanda ria di balik gelombang

angin mendesir dari barat ke timur
ombok melaju kencang ke tengah-tengah laut
musim kemarau yang bersenandung mesra
di antara gelak nelayan
atau murung pecinta

di malam hari
ombak mendesir ke tepian dengan sejuknya sebuah
musim kemarau
bulan mengambang terang di antara kumpulan
gelombang
menabur hati seorang nelayan
bernyanyi pesisir pantai penyair

Dungkek 2015


Hariprajitno's Art
MENYAPAMU

aku meyapamu ketika dini hari datang dengan lusuh
seperti seorang pengembala
di antara orang-orang yang terlelap mesra dalam
kantuknya
kita membagi rindu pada pesan yang usang, puisi
indah, dan barisan demi barisan yang kita rangkai
hanya untuk keindahan.

ada banyak cerita yang kita bicarakan
ada cerita tentang kerinduan
tentang minyak wangi yang kita jadikan simbol
keabadian
tak lama setelah itu
kita saling berkecup mesra pada bunga
pada daun yang berguguran dari ranting hatiku hatimu
sungguh, kita seperti sungai yang bebas mengalir
seperti burung yang bebas tidur dan terbang kesana
kemari

aku menyapamu dini hari di mana saat bulan terang
saat ombak menghantam lebih keras
aku tak mendengar suara lembutmu
di kediamanku.

Dungkek Pesisir, 2015


WIJI TUKUL

kau lebih suka membangun kebanaran
kau lebih suka membangun jalan raya buat rakyat
sengsara
seumpama bunga mereka yang kau kehendaki
seumpama ruang kau lebih suka memberi teduh pada
tangis yang berdarah
seumpama tanah kau yang memberi jatah pada hak yang
sesungguhnya

kebenaran tak kan bisa dilenyapkan
kebenaran tak kan bisa dimatikan
puisimu yang tak berhenti bergema
di semesta suara puisi-puisi perlawananmu membara

Dungkek 2015



 
Kholil D. Rahman, Nama pena dari (Khalilurrahman), lahir di Bicabbi, Dungkek, Sumenep (Madura). Sekarang Menetap Di Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asy’ari. Dan Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).