LABANG ARSIP

PUISI-PUISI SUBAIDI PRATAMA - JAWA POS, 06 MARET 2016

GAMBAR SOURCE: SUBAIDI PRATAMA

Di Hadapan Patung Bung Karno


Aku mendongak ke atap langit mencari-cari celah dari ma na
matahari terbit. Mungkin dari arah kepalamu yang ber ki lauan
hingga aku sekarang terang memandang masa depan.

Di hadapan patungmu, aku tidak lagi menatap seonggok
batu, tetapi bayang-bayang ruh yang menegakkan bendera tanpa mengeluh.

Ujung kopyahmu yang runcing kerapkali kujadikan tambatan hening. 
Agar senantiasa terkenang pada sejarah, 
pada luka-luka dan tanah yang menyerap darah.

Dari kulit jazmu yang telah kusam menampakkan kini
dan masa silam. ’’Apakah ada salam, apakah arti bungkam
dan tunduk pada zaman?’’ ucapmu lirih dalam diam.

Di hadapan patungmu kusaksikan laki-perempuan berselfi bagai lupa diri; 
ahwa kini telah datang penjajah lagi menjarah akal dan nurani.

Celanamu yang panjang berkibar turut menyaksikan
langkah-langkah zaman. ’’Adakah tanah yang kau pijak
begitu lelah,’’ katamu amatlah ramah.

Namun aku menatap matamu terpejam, mulutmu diam
penuh dengan ribuan salam.

Blitar, 2016


Pelaut Tengah Malam

Kau berangkat dari rumah kecil, membawa bekal cinta
untuk sanak keluargamu sebelum subuh menenggelamkan keramahan fajar. 
Kau menyisakan senyummu dalam botol kecemasanku.

Doa-doamu terus bertumpahan pada setiap langkah
perjalanan. Kuhirup cuaca, angin dan hujan agar tak
menggulingkan sampan yang kau layarkan. Bisik-bisikmu
melandai kudengar sangat cemas dari daratan.

’’Olle ollang, paraona alajara. Olle ollang, omba’ agulung dari daja’’

Bapakku! di tepi laut kalbu pasir-pasir merangkak menuju
karang, menghadang buncah gelombang. Dan meloncat
ke dermaga menatap penjuru laut selatan hingga utara.
Hurri!,,, bapakku datang membawa serenteng kepiting,
segala macam ikan yang kunantikan akhirnya jatuh juga ke dalam pelukan.

’Olle ollang, paraona ngadeg da’ daja. Olle ollang, eppa’ bula ataro nyaba’’

Apa yang dapat kupetik dari asin laut lantaran hidup tak
berbuah manis. Gelombang telah jadi napasmu serta arus waktu
mengajakmu pulang ke tepi laut Tuhan.
Namun lagu hidup terus kau nyanyikan seiring balingbaling berputar

’Olle ollang, paraona alajara. Olle ollang, alajara asango nyaba’’

Jadung, 2016

Menjelang Panen Jagung

Menjelang panen jagung daun-daun berdengung bagai
siul biola tengah kesunyian. Aku mengasah sabit dengan
ceruk airmata doa

Di tengah ladang, jelang siang. Bunyi arit terdengar lantang 
menumbangkan bebatang jagung, hingga gelap datang berkabung.

Saat batang jagung itu terbujur ke bumi. Biji-biji pun yang
kering mau lepas dari bulu-tangkai. Dan ingin disajikan ke
dalam perut yang lapar menjadi denyut tak terdengar.

Di tengah ladang rimbun daunan jadi cermin senyumku. 
Rumput-rumput hijau senantiasa menjalar dalam urat-uratku.

Bertahun-tahun dalam penantian aku menabung kenyang dan lapar. 
Kemudian merentangnya pada tangan
hujan yang jatuh menimbun ladang dengan basah sepenuh girang.

Jadung, 2016

Semangka atau Nangka

Ini buah sama-sama manis rasanya. Kupetik dari tangkai sukma. S
atu kutelan di tengah lapar dunia. Satunya lagi kusimpan 
untuk dihidangkan di alam baka.

Dan di antara perbedaan kulitnya. Kukupas bagi nyawa yang
fana dengan pisau paling pasrah ;padam atau menyala. Itulah buah 
yang kumakan semanis-manisnya.

Jadung, 2016

Sebutir Embun di Tengah Malam

Akulah sebutir embun di tengah malam menetes dari
pekarangan langit lalu jatuh di kuncup hatimu membawa kesejukan .

Gelap; sebuah bayang-bayang kucoba raba penuh kenang
di pohon mataku, sepotong ranting bergoyang-goyang
serupa pinggul tubuhmu yang kerap merayu.

Tak ada cahaya, aku bercermin ke dalam batin. Tak ada
cinta, engkau padamkan tetes embun yang berpilin.

Jadung, 2016

SUBAIDI PRATAMA, lahir di Sumenep, 11 Juni 1992. Puisinya terkumpul dalam antologi ’’Festival Bulan Purnama” (Trowulan Mojokerto 2010), ’’Bersepeda Ke Bulan” (Yayasan Haripuisi Indonesia 2014), ’’NUN” (Yayasan Haripuisi Indonesia 2015), dan ’’Ketam Ladam Rumah Ingatan” (Lembaga Seni & Sastra Reboeng 2016). Kini bergiat di komunitas sastra Malam Reboan di Malang.