LABANG ARSIP

Puisi-Puisi Nurul Ilmi Elbanna di Suara Karya, 23 Januari 2016

 

Empat Pelajaran Baik
I
apabila dunia ditinggikan
dalam pengharapan
gedung-gedung bertingkat
menusuk anak-anak awan
uang berkuasa dan
memerintah semena-mena
maka, akhirat akan jauh terbuang
ditinggalkan sang pemilik abadi
padahal usia-usia yang rapuh
jatuh tertabung jadi waktu
siap datang untuk membawa
pemiliknya pulang
hari-hari lenyap dalam tablet
caci maki dan cinta mengalir dalam udara
oh, Tuhan telah hadir ke dalam media
II
bunga-bunga di taman tetangga
merah muda dan lebih indah
iri dengki adalah api
yang membakar harapan
yang mengabukan pikiran
III
Usaha hingga menggenggam cita-cita
Pasrah kepada pemiliki jiwa dan raga
adalah jalan petunjuk bagi mimpi
tak cuma patahan kata, tak berilusi
bergetar hati ke relung sujud
setiap hamba memikul miliknya
dari yang hasud ke zuhud
tak sia-sia ciptaanNya
IV
setiap hari langkahkan kaki
dan lupakan sepi
serupa membuang kotoran dari dalam diri
jejak hanya memahatkan sakit hati
setiap hari wujudkan mimpi
dan lupakan ambisi
esok adalah perang dan kemarin
hanyalah bayang-bayang
Yogyakarta, 2015

Bulan
ada bulan berdiam dalam diriku
bulan purnama
penerang sunyi
berjalan ke sepi ke hati
bulanku jauh dari siang
dilahirkan jadi benderang
orang-orang bermuka gelap
meminjamnya ketika Ramadhan
berebut memakai cahaya
lalu mengenakan sahaja untuk berjalan
di waktu makan saur tiba
cahayanya menggerakkan mata
bulanku benderang memenuhi kekosongan
bulanku sunyi suka bersembunyi
tetapi selalu ada walaupun gerhana
Yogyakarta, 2015
Enam Sajak Tarawih
malam ke-1:
tarawih digerakkan oleh bismillah
jari-jari terbuka dengan pasrah
ingin menjelma seperti bayi
yang lahir tanpa dosa
walaupun lembar hidup
tersusun penuh rahasia
barisan manusia gagah telah berserah
membakar bilangan dosa
malam ke-10:
rezeki akan tumpah dari seluruh penjuru
usai melarung rindu
menimpa puisi-puisi yang lapar
ia membawa kebaikan dan fitnah dunia
sekalipun fatamorgana
ke dalam tubuh iman menyatu
ke dalam iman tak berdebu
malam ke-15:
sepasang malaikat bersayap arsy
dan kursy
menunggang senandung doa
kepada bumi penuh tarawih
semua malaikat yang taat
menyeru shalawat
kearah hidup penuh rahmat
malam ke-21:
sebuah istana megah disiapkan
dalam surga
terbuat dari cahaya
berhias bintang-bintang dan permata
Tuhan menyediakan ruang-ruang lapang
supaya hidup tak lagi bosan
setiap malam aku mengembara
membenamkan kepala dalam sujud luka
berbekal tarawih
agar istanaku penuh berisi
malam ke-27:
Shiratul Mustaqim,
jembatan terkecil yang pernah ada
sekecil rambut di kepala
menunggu kita melintas di atasnya
jika iman kuat terikat, kita melintas secepat kilat
jika iman mudah goyah, kemana hendak cari selamat?
malam ke-30:
jika perjalanan sampai ke surga
makanlah dari buah-buahannya
hapus dahaga dari air telaga
sebuah telaga salsabila
airnya penuh puisi berenang bahagia
bersucilah dan basuh usia
“akulah hambaMu
dan Engkau Tuhanku”
Yogyakarta, 2015
 Sumber Puisi: http://www.suarakarya.id/2016/01/23/puisi-puisi-nurul-ilmi-elbanna-2.html

Nurul Ilmi El-Banna, lahir di Sumenep, 21 Januari 1993. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, kini kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Puisinya terbit di media massa lokal dan nasional seperti Jawa Pos, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Indopos, Kedaulatan Rakyat, Banjarmasin Post, Lampung Post, Solopos, dll. Menerima Anugerah Sastra dan Seni, Universitas Gadjah Mada 2015 sebagai juara II untuk kategori penulisan puisi. Karyanya terkumpul dalam beberapa antologi bersama Sebab Cinta (ELF, 2013), Gemuruh Ingatan (2014), dan NUN (Hari Puisi Indopos, 2015). Anggota Lembaga Pers Mahasiswa ARENA.