LABANG ARSIP

Puisi Syaf Anton Wr : Antara Kalianget – Panarukan | Tanah Kelahiran | Semesta III | Di Selat Madura | Jadikan Aku | Upacara Kehidupan | Rindu Ibu


gambar source: http://www.bukubanjar.com/2015/11/langit-suasa-langit-pujangga.html
Tujuh judul puisi Syaf Anton Wr ini diambil dari antologi puisi terbarunya “Langit Suasa Langit Pujangga” Terbitan Kaleles (2015). Tujuh puisi yang kami pilih hanya berdasarkan rasa suka terhadap tema, gaya, bentuk, dan cita rasa puisi Syaf Anton Wr. Selamat menikmati, tujuh puisi yang sebagian telah dipublikasikan di media online oleh si Penyair.

Antara Kalianget – Panarukan

antara kalianget – panarukan
angin berdecak
aku terbelenggu di lautan

laut bergerak pelan dalam dongeng seorang anak
yang mencari ombak dirinya

aku yang berangkat menebar jala
antara kalianget – panarukan
sejuta misteri bergelantung di dadaku

o, nelayan kecil ulurkan temali di rautku
aku adalah ikan yang terperangkap waktu
dan waktuku terbelah menjadi batu

antara kalianget- panarukan
siapa menungguku di sana?

Bendera usang di dermaga telah maraungkan
Semangat bahwa langit dan cahaya
Telah berjanji
Bercerita tentang hidup dan mati

Antara kalianget – panarukan
Biarkan aku menempa angin
langit jingga bercahaya

di seruak camar yang datang berbisik:
madura, adalah ombakmu

1985

Tanah Kelahiran

siapa yang duduk termangu di balik rimbun batu
seorang lelaki perkasa menabur bunga
di atas pusara para pendahulunya
yang gugur dan tak bernisan
kami berangkat dan kembali dalam luka
dan luka kami telah tergadai sejarah
sejuta malam menggusur barak-barak jiwa kami
sejuta tangan meremas dada kami
maka datangkanlah darah morang kami
kami bahagia dalam waktu yang tersisa

1986

Semesta III

ciumlah debur ombak di muara
agar pucuk-pucuk mimpi terbangun
dan tak ada lagi kidung sangsai
yang melumat-lumat matahari

hari ini ombak tetap itu juga
bergulung dan mengobarkan cerita-cerita
yang itu-itu juga

bila sampan lewat
mari kita sambut dengan pongah
sebab cinta di sana
berpangkal di jenjang kuasa

1987

Di Selat Madura

di selat madura
angin membimbingku menuju langit matahari angkuh
membusung dada
aku gelisah

1988

Jadikan Aku

jadikan aku sungai dibuangi sampah
jadikan aku laut tempat berlayar para nakhoda
jadikan aku gelombang tempat bersiut camar-camar
jadikan aku goa tempat orang-orang bertapa
jadikan aku telaga tempat bermandi orang-orang terluka
jadikan aku oase tempat persinggahan para musafir
jadikan aku mabuk yang tak hirau kata-kata
jadikan aku celah pemantul cahaya

dongeng orang-orang kota makin lelah mengeja waktu
dan tak lagi mampu menulis sejarah
: sejarah telah ditimbuni oleh luapan angka
dan menari-nari sampai ringkih

aku coba untuk mengerti lempang jalan ini; raut wajah
yang kehilangan tanda-tanda; kehilangan makna
betapa piciknya, ketika matahari menerpa ubun-ubun
kita makin dibuai beribu muslihat – menggagahkan diri
sambil menggapai-gapai langit yang kian menjauh

aku coba untuk mengerti makna hari ini
aku coba untuk mengerti ketidak mengertian ini

bila aku sampai tepian – saudaraku
biarkan kuraih cahaya bulan yang berbinar
sebab laut, sungai, telaga dan percikan air
adalah hausku yang purnama
sebab hutangku pada waktu makin menjejal
sebab dari sini persoalan demi persoalan akan berakhir
ketika kubasuh wajah seraya kusapa waktu
begitu sejuknya matahari di padang sahara

aku mencoba meniadakan kesangsian tapakmu
tapi jangan kau tanya, mengapa tubuhku berlumur darah
lantaran beban bumi ini makin sarat dan berkarat

maka jadikan aku tanah tempat pijakmu

1995

Upacara Kehidupan

bersama nuh kita berlabuh menuju langit
siapa yang dengar dentum petir
jangan coba sembunyi di atas bukit
karena matahari akan merajamnya

bersama nuh upcara kehidupan terus berlanjut
dari kata sampau bahasa – dan tak pernah usia
karena peranu nuh adalah puisi
yang melahirkan kehidupan

1996

Rindu Ibu

ibu, aku datang lagi menjenguk rahimmu
masihkah ruang ini berderang
seperti ketika kutemukan arti
dalam puisi abadi

aku kini terseret dalam senyap
yang mengurung ruang dan waktu
hingga aku tertinggal jejakmu
yang konon mengisahkan tentang waktu

ketika orang-orang mengkultuskanmu
aku tak bisa lagi meraba hatimu
yang dulu sejuk, dan kini engkau semakin jauh
entah dimana

dulu engkau tempat berdiam dan bertanya
kini tiada lagi, lantaran telah kau jelmakan
dunia baru – sehingga wajahmu sulit kukenal
engkau adalah meteor mengitari langit peradaban

aku rindu petikan kidung nuranimu
yang dingin berapi-api – yang mengajarkan waktu
aku rindu wujud paras bunga harummu
yang pernah kau suntingkan kedadaku

1995

Biografi Singkat Penyair

Syaf Anton Wr, lahir di Sumenep, 13 Juni 1956. Selain menulis puisi, cerpen, novel, esai, juga menekuni teater, dan jurnalistik. Sejak duduk di bangku SLTP (1973) menyenangi menulis dan membaca puisi di radio-radio Sumenep setiap program acara apresiasi sastra. Kemudian mengikuti lomba-lomba baca puisi dan mengirimkan puisi-puisi ke media remaja, khususnya Surabaya.

Tamat SLTA (1977) hijrah ke Surabaya dengan mengandalkan kemampuannya menulis puisi dan cerpen serta mengirimkan tulisannya ke berbagai media, baik di Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Tahun 1978 diminta almarhum Suripan Sadi Hutomo, membantu menjaga rubrik Balada, Harian Bhirawa, khususnya rubruk sastra dan cerita mini berbahasa Madura. Sampai tahun 1981 terus menulis puisi, cerpen, artikel, dan jurnalistik dengan menghasilkan ratusan karya. Akrih 1981, kembali ke kampung halaman di Sumenep, lalu mendirikan Bengkel Seni Primadona (1984), bergabung dengan Sanggar Seni Kembara (1985), mendirikan Sanggar Sastra Mayang (1985), mendirikan dan sekaligus menjadi ketua Forum Bias (Forum kajian Sastra dan Budaya) (1997), mengkoordinir seniman dari semua bidang seni, sekaligus sebagai koordinator Jaringan Seniman Sumenep (JJS) (1999), dan sejak tanggal 14 Oktober 2000, melalui Musyawarah Budaya, dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Sumenep (DKS).

Sejak menetap di Sumenep, ia banyak melakukan gerakan kesenian ke berbagai kantong-kantong kesenian Sumenep, khususnya wilayah pesantren. Gerakan pesantren ini dilakukan secara kontiniu setiap hari jumat (hari libur pesantren). Sudah puluhan pesantren, yang besar maupun yang kecil, dijelajahi dengan melakukan pembinaan kesenian, khususnya sastra dan memunculkan banyak pelaku seni, baik yang menetap di Sumenep maupun yang keluar atau merantau.

Kumpulan puisi tunggalnya, Cermin (1990) dan Bingkai (1993). Selain itu beberapa karyanya terangkum dalam antologi bersama yang antara lain; Puisi Penyair Madura (Sanggar Tirta, 1992), Festival Puisi Jatim (Genta, 1992), Pameran Seni Rupa Keterbukaan (KSRB, 1994), Tanah Kelahiran (Forum Bias, 1994), Nuansa Diam (Nuansa, 1995), Sajak-sajak Setengah Abad Indonesia (TBS, 1995), Kebangkitan Nasional II (Batu Kreatif, 1995), Tabur Bunga Penyair Indonesia I (BSB, 1996), Api Pekarangan (Forum Bias, 1996), Negeri Impian (Forum Bias, 1996), Negeri Bayang-Bayang (FSS, 1996), Langit Qosidah (FKBI Annas, 1996), Antologi Puisi Indonesia (KSI, 1997), Luka Waktu (TB Jatim, 1998), Memo Putih (DKJT, 2000), dan sejum;ah antologi lainnya yang tidak terdokumentasi. Tahun 1987 mengikuti Forum Puisi 87 di TIM, tahun 1997 mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara IX dan Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997 di Sumatera Barat.

Dalam perkembangannya ua cenderung lebih memperhatikan kehidupan budaya dan sastra Madura, yang selama ini dinilah mengalami kemuncuran. Selain sering diundang sebagai pembicara dalam forum-forum sastra maupun terkait kesenian dan kesastraan Madura, sampai kini masih aktif memberi motivasi kepada generasinya baik secara personal maupun melalui komunitas-komunitas sastra.

Sekarang Syaf Anton Wr tinggal di Pesona Satelit Blok O No. 9 Sumenep, serta mengelola website www.lontarmadura.com dan www.okaramadura.com, juga blog : www.maduraaktual.blogspot.com, serta akun di Kompasiana: www.kompasiana.com/syafanton.