LABANG ARSIP

Soneta Selendang Sulaiman - Kedaulatan Rakyat, 29 Maret 2015



350 Tahun Kegelapan

tiga ratus lima puluh tahun kegelapan
riwayat pulau-pulau berlimpah rempah-rempah
diruwat dalam kitab-kitab perjuangan
yang diperdagangkan lewat penggadaian dunia

para cendikia cerdik memahat kelicikan
di pusat ibu kota sebagai mercusuar kata-kata
bandit-bandit muncul dari kulkas dan AC
auranya teduh bertangan pembunuh dingin

“kewajiban kami, melaksanakan norma-norma
dan etika seni membunuh dan menindas”
betapa megahnya, o, betapa lumrahnya

ilmu dan pengetahuan disepuh sampai tajam
agama dan undang-undang adalah sarungnya
keduanya dipakai dalam pertarungan kekuasaan

2013/2014

Relief Perjalanan

berapa lagikah harus kukatakan padamu
jika yang menggerakkan matahari di mataku:
rekah bibirmu. sudah sekian rupa aku cipta kata,
demi menyatakan kebenaran niat kepadamu

betapa dekatnya jurang curam yang menunggu
untuk menelanku jika sekedip saja aku lengah
dan kalah pada prasangka kotor di lingkupku
yang seolah mencemarimu sekian waktu

sekali ini, dengarkan aku: ingat-ingatlah
rekah bibirmu yang memahat kelopakku
menjadi relief candi-candi perjalanan

penuh syukur aku berdiri di muka kehidupan
memandangmu dengan getar jiwa yang penuh
sambil berzikir demi daya hidup yang fakir 

2013/2015

Semarak Suka Dukana

petang hadir di beranda untuk kita
hangat cahaya yang tenggelam merasuki sukma
langit bergelegar di kedalaman gemuruh jiwa
lalu gerimis pecah sebentar membelah aroma

“harumnya membawaku pada kebenaran niat!”
ucapmu menyingkap labirin gelap kebinatanganku
taring dan cakarnya meleleh susut ke tanah
lalu sayap tumbuh di punggung – terbangkan aku

di udara kita menabur ribuan kunang-kunang
dan pemandangan di bumi penuh senyuman
muncul dari bibir anak-anak dan kaum remaja

kita terus mengepakkan sayap. tetapi tubuh diam
diantara langit dan bumi yang disyukuri
: segalanya semarak dalam suka dukana

2013/2015

Selendang Sulaiman, Lahir di Sumenep, Madura 18 Oktober 1989. Puisi-puisinya tersiar diberbagai media massa, seperti; Seputar Indonesia, Indopos, Suara karya, Minggu Pagi, Riau Pos, Merapi, Padang Ekspres, Lampung Post, Radar Surabaya, Majalah Sagang, dll. Antologi Puisi bersamanya; Mazhab Kutub (Pustaka Pujangga 2010), 50 Penyair Membaca Jogja; Suluk Mataram (MP 2011), Satu Kata Istimewa (Ombak 2012). Di Pangkuan Jogja (2013) Lintang Panjer Wengi di Langit Jogja (Pesan Trend Ilmu Giri, 2014), Ayat-ayat Selat Sekat (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), Bersepeda Ke Bulan (HariPuisi IndoPos, 2014), Bendera Putih untuk Tuhan (Antologi Puisi Riau Pos, 2014), dlsb. Antologi Tunggulnya: Hymne Asmaraloka (Bitred Digital Book 2014).