LABANG ARSIP

Puisi Yan Zavien Aunjand || Tambangan - Rébbá - Ayah ||



Tambangan

orangorang menangisi pembaringan berselimut kafan. inginnya mengembalikan waktu. mengulang masa lalu. nyanyian riang membahana dalam riak tangis menyapu kenangan. bau tanah menyeruak seperti bau kembang tujuh rupa dipasang di setiap sudut ruangan. sunyi tibatiba menyeret halaman panjang ke telaga.

wujud kepasrahan diri merelakan tiada. uang receh diberikan untuk mereka yang datang, bukan sebagai pengemis, tapi relawan tangan tuhan sebagai penghibur hati yang gaduh. ayatayat suci pun mengalun demi keselamatan manusia dari amarah. ada yang sibuk mencatat kepulangan dan pergi meninggalkan kenangan.

orangorang pada pergi ke halaman mengemas sunyi dimandikan. lagilagi berharap waktu kembali menabur kembang. tangantangan mengurapi tubuh dibiarkan telanjang sambil mulut berucap zikir dan gema nyanyian ilahi. ruh menatap dari arah jalan tempat kapur dan kemenyan dibuang agar benarbenar sampai pada halaman pemujaan.

Yogyakarta, 2011


Rébbá
:malam Jumat

malam jumat; ruhruh bújú’ berpulang ke tanah asal. pun yang mati akan mengintip matahari menggeser tubuhnya, membenamkan asap pecut yang meliut ke angkasa, tubuh merah kuning melesat dari sela kerak tanah kering coklat.

yang berdiam dalam diri—merekam malam di arwah hingga sunyi di hati abai pada
rumah gaduh, bertukar nasib, berebut dupa yang disulut demi sang jagat.

malam jumat adalah malamnya, malam setubuh ruh.

malam yang damai, rumah pun jadi ramai; butiranbutiran nasi dan runcing doadoa menembus langit kelewat pekat. pun bau dupa menyesap ke ruangruang senyap, bagai tangantangan takdir terulur -menepis marah bánakéron yang tak pernah lelah memamah tubuh. tulangtulang remuk menoreh luka-dendam di dada sampai rébbá mengurai riwayat kesucian hingga kehidupan kembali dibangkitkan.

Taman Sare, 2009-2010

Ayah

yah, aku muak dengan airmataku tumpah. di jalan airmata, di sekolah airmata, di masjid dan di mana saja aku ada adalah airmataku terjatuh. perut rasanya perih sekali melanjutkan perjalanan ini. tenggorokanku kering memuntahkan isi perutku. keringatku tertinggal di jalanjalan, warnanya kuning berbau asin, seperti keringatmu ayah saat kau pulang dari sawah sehabis menanam benihbenih kerinduan untuk ibu dan anakmu.

yah, tengoklah negeri anakmu dengan doa keperkasaanmu. negeri yang kau simpan dalam hatimu membentuk kenangan dan kisah anak rantau. tapi airmataku itu ayah airmata ibu yang membuatku bertahan menahan sampahsampah kota dari sisasisa luka di dadaku.

engkau ayah, anakmu seperti dirimu. mengikuti musim dalam sepekan. sumursumur di ladang itu kau bikin dari keringatmu sendiri. sedang ibu memasak airnya tanpa lelah —untukmu, sampai sumursumur itu kering, panenan tak ada. ibu memanggilmanggilmu dengan tangisku di dapur yang sudah tak keluarkan asapnya.

yah, bila kutitipkan hidupku pada angin, kau akan temui aku di ujung jalan tanpa suara, tanpa menanyakan apaapa tentang keadaanku. lalu kutitipkan sisa airmata darahku untuk ibu tentang rinduku beraksara biru.

Jakarta-Yogyakarta, 2010